Rumput Laut dan Singkong Alternatif Pengganti Plastik

rumput laut dan singkong alternatif pengganti plastik
(Pemrosesan rumput laut setelah panen. Rumput laut yang mudah terurai dan ramah lingkungan, bisa menjadi alternatif pengganti kantong plastik. Foto courtesy : bisnisukm.com)

Pomidor – Penggunaan sampah plastik non degradable (tidak bisa didaur ulang), semakin memprihatinkan. Setiap kali berbelanja, kantong plastik hampir selalu menjadi pilihan utama untuk mewadahi barang-barang yang dibeli. Di Indonesia, sampah kantong plastik mudah dijumpai di mana-mana. Bahkan lebih dari 10 persen komposisi sampah yang ada, merupakan sampah kantong plastik sekali pakai. Padahal membutuhkan waktu yang sangat lama bagi alam untuk mengurai plastik, sehingga dalam jangka panjang dapat mengganggu ekosistem lingkungan.

Untuk mengurangi dampak buruk sampah plastik, Kementrian Perindustrian bekerja sama dengan UNIDO (United Nations Industrial Development Organizations), tengah merancang Program Bio Degradable Plastic atau tekhnologi plastik terurai.

“Ini merupakan on top program yang memanfaatkan tekhnologi dari dalam negeri. Program ini didukung Direktur UNIDO, Li Yong,” kata Harjanto, Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementrian Perindustrian di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Harjanto menambahkan, seperti dikutip Kantor Berita Antara, program tersebut diinisiasi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat bertemu Li Yong di sela-sela Global Manufacturing and Industrialization Summit (GMIS) 2017 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Kedua pihak saat ini sedang merancang program yang bertujuan menciptakan pembangunan industri yang inklusif dan berkelanjutan tersebut agar segera dapat diimplementasikan.

Sementara itu di tempat terpisah, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, menyatakan dukungannya. Pemerintah memang mendorong penggunaan bahan ramah lingkungan.

Untuk sampah plastik, sebenarnya ada beberapa alternatif pengganti plastik yang mudah didaur ulang. Di antaranya adalah rumput laut dan singkong. Hal tersebut disampaikan Cary Anne Cadman, Senior Environment Specialist dari perwakilan Bank Dunia di Indonesia, usai mengisi panel bertema “Combating Marine Plastic Debris”. Panel itu sendiri merupakan satu dari rangkaian diskusi kerja mengenai Indian Ocean Rim Association Blue Economy Ministrial Conference yang diselenggarakan di Jakarta.

“Indonesia merupakan negara penghasil rumput laut terbesar di dunia. Para petani rumput laut bisa meningkatkan pendapatan mereka jika Indonesia mulai menerapkan penggunaan kantong berbahan rumput laut untuk mengganti kantong plastik,” ujar Cary Anne Cadman.

Cary melanjutkan, selain rumput laut, singkong juga bisa menjadi pilihan alternatif pengganti plastik. Apalagi produksi singkong di Indonesia sangat melimpah dan mudah dibudidayakan. Keunggulan kantong plastik berbahan dasar singkong ini adalah sifatnya yang cepat terurai, hanya butuh 3-6 bulan. Sisa uraiannya malah akan menjadi kompos yang aman bagi lingkungan dan mahluk hidup.

Saat ini perusahaan yang memproduksi kantong plastik berbahan singkong adalah Enviplast. Produksinya sudah mencapai 300 ton. Namun karena produksinya tidak sebanding dengan kebutuhan pasar, harganya pun masih relatif tinggi sehingga kurang diminati masyarakat. Untuk sementara ini, pengguna kantong plastik berbahan singkong kebanyakan adalah rumah sakit dan hotel. (inot)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan