Kenya Nikmati Booming Ekspor Bunga

ekspor bunga Kenya
(Seorang pekerja tengah merapikan bunga yang akan diekspor. (Foto Courtesy : economist.com)

Pomidor – Dari danau Naivasha yang berada di kaki gunung Longonot, mengalir cerita salah satu bisnis paling sukses di Kenya selama beberapa tahun terakhir ini, yakni ekspor bunga. Di sekitar danau, yang untuk mencapainya harus melewati jalanan kotor berdebu, berdiri bangunan-bangunan plastik tempat pembudidayaan aneka macam jenis bunga, khususnya mawar, untuk tujuan dikirim ke luar negeri.

Di beberapa produsen ekspor bunga terbesar, ribuan pekerja hilir mudik setiap harinya untuk menyiram, merawat, memilih dan menyiapkan hasil panen. Rata-rata 360 ton aneka bunga diterbangkan setiap hari dari bandara Nairobi, umumnya ke Eropa, Asia dan Timur Tengah. Kenya sendiri merupakan negara produsen bunga potong ketiga terbesar di dunia. Sejak tahun 1988, produksi bunga potong Kenya melonjak sepuluh kali lipat sehingga menempatkannya sebagai komoditas eskpor utama terbesar kedua setelah teh.

Ekspor produk-produk tanaman keras Afrika terus menurun sejak beberapa dekade. Dari 8% di tahun 1970-an, menjadi hanya 2% di tahun 2009. Jika dulu dunia mengenal sejumlah negara Afrika sebagai penghasil produk pertanian terbesar, seperti Nigeria di kelapa sawit, Ghana di biji coklat, dan Kenya serta Ethiopia untuk kopi, kini hal itu sudah menjadi cerita usang. Produk-produk tersebut sudah diambil alih negara lain.

Namun tidak demikian halnya dengan bunga potong. Mengadopsi tekhnologi tinggi bergaya Asia untuk pembudidayaan tanaman di dalam kebun-kebun beratap plastik (green house), membuat produksi bunga potong Kenya meningkat pesat.

Dikutip dari laman www.economist.com, Mark Low, pemilik perkebunan bunga potong Groove Flowers yang berlokasi di sekitar Danau Naivasha, mengatakan bahwa bisnis bunga dan sayuran adalah bisnis dengan persaingan ketat. “Karena itu margin keuntungannya sangat tipis.”

Kolombia, Ekuador dan Ethiopia, semuanya bersaing sengit memperebutkan ceruk pasar yang sama. Sedangkan petani Kenya berharap dapat melakukan yang lebih baik dengan memanfaatkan dukungan tekhnologi. Low, seorang kulit putih berkebangsaan Kenya, hanya menanam mawar, bouvardia dan delphiniums. Namun ia tidak menjual hasil panenannya ke supermarket karena harganya kurang menguntungkan. Ia lebih memilih untuk menghadiri berbagai pameran dagang untuk mengetahui apa yang ingin dipesan orang-orang kaya Rusia pada pernikahan anak-anak perempuan mereka.

Namun perjalanan bisnis tak selamanya mulus. Ada pasang surutnya. Low pernah mengalami kelesuan pada usahanya. Jatuhnya nilai Rubel (mata uang Rusia), membuat orderan bunga dari negara beruang itu menurun. Pesta pernikahan anak-anak orang kaya Rusia pun tak lagi semewah sebelumnya.

Bisnis bunga potong hampir sama dengan bisnis fashion. Harus selalu mengikuti perkembangan mode. Di bisnis berorientasi ekspor ini, diberlakukan standar tinggi untuk kemampuan tenaga kerjanya. Sedangkan lokasinya selain tidak boleh terlalu jauh dari bandara, juga mutlak membutuhkan akses listrik. Biaya untuk listrik ini menjadi salah satu pengeluaran terbesar selain gaji pekerja dan ongkos kirim lewat jalur udara.

Baca juga :

Korsel-ASEAN Bahas Peningkatan Kerja Sama Perdagangan di Bidang Pertanian

Para pelaku industri bunga potong memilih mengembangkan bisnisnya di sekitar danau Naivasha karena infrastruktur penunjangnya yang lengkap. Tak hanya dekat dengan sumber air dan bandara Nairobi, topografinya yang merupakan daerah vulkanik membuat daerah sekitar danau Naivasha menjadi pusat pembangkit listrik tenaga panas bumi. Hal ini membuat pasokan listrik berlimpah. Berbagai kelebihan infrastruktur tersebut masih sulit dijumpai di wilayah Kenya yang lain.

Sayangnya, cerita sukses industri ekspor bunga potong di Kenya ini tidak diikuti produksi sektor pertanian lainnya. Kopi, misalnya. Komoditas yang pernah menjadi andalan ekspor Kenya ini menurun drastis produksinya. Dari 100.000 ton di tahun 2000, menjadi hanya 40.000 ton di tahun 2013. Kalah bersaing di tingkat global serta banyaknya alih fungsi lahan perkebunan menjadi perumahan, merupakan penyebab utamanya. (inot)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan