Sektor Pertanian Butuh Banyak Tenaga Terdidik

sektor pertanian butuh banyak tenaga terdidik
(Siswa Sekolah Pertanian di kebun buah naga yang mereka pelajari. Indonesia membutuhkan banyak tenaga terdidik untuk memajukan sektor pertanian di tanah air. Foto courtesy : spp-singkawang.blogspot.com)

Pomidor – Dibandingkan sektor industri lain di Indonesia, sektor industri pertanian sangat jauh tertinggal. Bahkan jika melihat prosentase jumlah tenaga kerja yang terlibat, luasan lahan serta output yang dihasilkan, produktivitas di bidang pertanian amatlah rendah. Selama puluhan tahun, sektor industri pertanian ibarat jalan di tempat, kalau tidak mau malah dianggap mundur.

Banyak faktor penyebabnya. Sebut saja arus urbanisasi yang terus meningkat tiap tahunnya, penerapan tekhnologi pertanian yang masih sangat minim, masifnya alih fungsi lahan ke sektor non pertanian, infrastruktur dan manajemen paska produksi yang amburadul, ketiadaan insentif yang memadai bagi mereka yang ingin terjun total di bidang pertanian, dan lain sebagainya.

Yang lebih memprihatinkan, faktor-faktor tersebut diperparah dengan kualitas tenaga kerja yang begitu rendah. Berdasarkan data BPS tahun 2015, jumlah tenaga kerja di sektor pertanian dan perkebunan mencapai hampir 40 juta jiwa atau kurang lebih sepertiga dari total keseluruhan angkatan kerja produktif. Sayangnya, tingkat pendidikan mereka yang bekerja di sektor pertanian masih didominasi pendidikan rendah, yaitu, tidak/belum pernah sekolah (9,9%), tidak/belum tamat SD (23,4%), tamat SD (40,5%), tamat SLTP (15,3%), tamat SLTA (10,1%), dan tamat Perguruan Tinggi (0,80%).

Melihat data-data tersebut, tak heran jika industri pertanian di Indonesia sulit diharapkan menjadi salah satu sektor industri yang mampu bersaing di tingkat global. Dengan hanya 0,8% lulusan perguruan tinggi dari 40 juta tenaga yang terlibat di dalamnya (sekitar 300 ribu sarjana), sektor pertanian seolah terpinggirkan. Padahal industri yang berkaitan dengan persoalan pangan ini adalah industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja alias padat karya. Sayangnya modal tenaga kerja yang berlimpah ini tidak diimbangi dengan banyaknya tenaga terdidik yang melek tekhnologi dan pintar memanfaatkannya untuk menggenjot produktivitas hasil pertanian.

Bukan rahasia lagi apabila industri pertanian kita selama ini memang masih berkutat dengan cara-cara konvensional yang banyak bergantung pada faktor alam. Begitu ada perubahan cuaca, entah itu kemarau berkepanjangan atau musim hujan tanpa jeda sepanjang tahun, maka bisa dipastikan panenan akan anjlok. Panenan anjlok, otomatis akan terjadi gejolak harga komoditas pangan di masyarakat. Hukum besi penawaran dan permintaan pun berlaku di sini.

Anehnya, siklus ini terus dan terus berulang setiap tahun. Seakan-akan kita pasrah saja dengan keadaan yang ada. Sementara pemerintah sendiri lebih senang mengambil jalan pintas mengatasinya dengan membuka keran impor setiap kali terjadi kelangkaan bahan pangan. Untuk jangka pendek, kebijakan ini memang tidak salah. Namun bagaimana dengan jangka panjangnya?

Pemerintah atau pihak yang berkepentingan dengan urusan pangan, tidak bisa melulu berkutat pada aneka macam retorika menyikapi fenomena seringnya kita mengimpor bahan-bahan pangan. Harus ada langkah radikal untuk mengurai benang kusut ini. Salah satunya adalah membenahi SDM di sektor pertanian at all cost. Jangan hanya sibuk dengan planning membangun ratusan bendungan irigasi atau mencetak jutaan sawah serta ladang, tetapi abai menyiapkan jutaan tenaga terdidik untuk menggarapnya. Infrastruktur dan manusianya sama-sama penting di sini.

Upaya meningkatkan SDM bisa dilakukan dengan memperbanyak lagi jurusan pertanian dengan segala turunannya di perguruan tinggi-perguruan tinggi di tanah air. Begitu pula dengan SMK Pertanian. Keberadaan sekolah kejuruan setingkat SMA ini perlu disebar ke pelbagai daerah yang potensial menjadi lumbung pangan nasional. Sedangkan di luar pendidikan formal, BLK dan lembaga penyuluhan dapat lebih berperan aktif mencetak tenaga terampil praktisi pertanian di level yang paling bawah.

Memang, investasi SDM adalah investasi berbiaya besar yang tidak langsung kelihatan hasilnya. Perlu bertahun-tahun, bahkan mungkin satu generasi, untuk memetik return of investment tersebut. Namun jika hal itu tidak segera dilakukan, kita akan semakin ketinggalan dengan negara-negara lain. Ilmu pengetahuan berkembang begitu pesat, termasuk di sektor pertanian. Bersikap ignorant terhadap hal ini, sama saja dengan kita tengah menyiapkan jutaan kuli di negeri sendiri. Juragannya? Ya siapa lagi kalau bukan bule-bule atau tauke-tauke dari negeri sebelah.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan