border=

Agri Hi-Tech Bisa Cegah Perang Rebutan SDA di Masa Depan

agri hi-tech

Pomidor – Lupakanlah sejenak perdebatan soal minyak dan gas bumi. Kita sekarang ini seharusnya lebih khawatir tentang fakta semakin menipisnya cadangan air bersih di dunia.

Artikel ini dibuat manakala Kathmandu, ibukota sekaligus kota terbesar di Nepal, tengah mengalami krisis air bersih yang amat hebat. Kendati penduduknya rutin membayar tagihan air, namun pasokan air ke rumah-rumah mereka hanya mengalir seminggu sekali. Itu pun beberapa jam saja. Warga yang putus asa akhirnya terpaksa mencari air dari sumber-sumber lain, termasuk yang dikelola swasta. Harga yang lebih mahal mungkin bukan masalah bagi orang-orang kaya, tapi sangat menyusahkan bagi yang ekonominya pas-pasan. Di banyak negara berkembang, kemampuan mengakses air bersih memang menjadi pembeda yang tegas antara mereka yang hidup makmur dengan mereka yang miskin.

 border=

Saat ini lebih dari satu milyar penduduk di seluruh dunia kesulitan memperoleh air bersih. Macam-macam penyakit yang menjangkiti negara-negara berkembang, kebanyakan berkaitan dengan sanitasi yang buruk, termasuk langkanya air bersih. Setiap tahun jutaan orang meninggal akibat diare (diperkirakan tiap 17 detik ada yang tewas terserang penyakit ini).

Mengingat krusialnya masalah ini, semua pihak harus bergegas mencari solusinya, sebelum kelangkaan air bersih menjadi pemicu utama konfllik-konflik berskala internasional. Konflik-konflik yang dipicu perebutan SDA, termasuk sumber air bersih.

Sebagaimana kita ketahui, 97 persen air yang ada di bumi adalah air laut, sisanya adalah air tawar. Dari 3 persen air tawar tersebut, sebagian besarnya berupa gunung-gunung es di daerah kutub. Ini berarti hanya ada 0,5 persen air di bumi yang benar-benar bisa dikonsumsi. Ironisnya, sumber air yang terbatas itu lebih dari dua pertiganya digunakan untuk pertanian.

 border=

Jadi jika kita hendak menghemat air bersih, fokuslah pada pemakaian air untuk pertanian seefisien mungkin. Dengan populasi yang terus bertambah, otomatis dibutuhkan hasil panen lebih banyak lagi untuk memberi makan penduduk bumi. Padahal air dan tanah kian menyusut. Karena itu perlu mengembangkan pertanian yang efektif, yang tidak banyak membuang-buang air dan tanah.

Secara global, hanya sekitar sepertiga (37 persen) lahan pertanian produktif yang sudah dimanfaatkan. Lahan-lahan potensial lainnya belum tergarap karena minimnya infrastruktur, masih berupa hutan atau tanah konservasi. Sebenarnya luasan lahan bukanlah masalah besar, karena kemajuan ilmu pertanian mampu meningkatkan produksi walau di lahan terbatas. Namun yang menjadi inti persoalan adalah penggunaan air.

Lalu bagaimana caranya menumbuhkan tanaman dengan sedikit air? Salah satu caranya adalah memisahkan kandungan garam di air laut. Pertanian di Australia Selatan ini (seperti tampak dalam gambar di bawah), memanfaatkan energi matahari untuk mengekstrak air laut dan memisahkan kadar garamnya sehingga yang tersisa nantinya adalah air tawar. Air tawar hasil dari penyulingan air laut inilah yang akan dipakai untuk menumbuhkan tanaman di dalam green house-green house raksasa di sana.

Pertanian model Agri Hi-Tech ini dikembangkan di daerah-daerah tandus dan kering dengan sistem hidroponik yang tidak membutuhkan tanah. Pengembangan pertanian yang demikian juga akan secara signifikan mengurangi penggunaan air tawar. Sayangnya, untuk membangun green house super canggih seperti ini membutuhkan biaya yang teramat besar.

Problem kelangkaan air bersih yang melanda dunia ini sebenarnya dapat dikurangi jika saja pertanian konvensional tidak terlalu boros menggunakan air. Memang lebih mudah mengatakan ketimbang mempraktekannya. Namun penggunaan air yang efisien akan sangat membantu, khususnya di daerah-daerah yang rawan kekeringan.

Para ilmuwan tentang tumbuhan di seluruh dunia kini sibuk meneliti gen yang memungkinkan tanaman tetap tumbuh subur dalam kondisi kering dan gersang. Misalnya, apa yang membuat padi gogo bisa tumbuh di tanah kering, sementara padi lainnya membutuhkan sawah irigasi yang baik untuk pertumbuhannya?

Para petani tradisional umumnya membudidayakan tanaman yang toleran terhadap kekeringan setelah melalui proses seleksi yang sangat lama, bahkan hingga hitungan generasi. Nah, rekayasa genetika memberikan jalan pintasnya.

Sebuah penelitian baru-baru ini mengidentifikasi beragam sistem akar pada varietas beberapa jenis kacang. Ke depan, penelitian diharapkan berlanjut pada indentifikasi gen-gen yang membuat akar tanaman efisien dalam menyerap air dan nutrisi di tanah kering. Begitu faktor genetiknya terungkap, para ilmuwan dapat langsung memperbanyak gen yang membantu tanaman mengumpulkan lebih banyak air tersebut.

Faktor kunci yang membuat tanaman toleran terhadap kekeringan adalah hormon abscisic acid (ABA) atau asam absis, yang meningkatkan efisiensi tanaman menggunakan air dalam kondisi kekeringan. Akan tetapi asam absis ini juga mengurangi proses fotosintensis yang berpengaruh menghambat pertumbuhan tanaman dalam jangka panjang dan berakibat menurunnya hasil panen.

Baca juga :

Lahan Pertanian Terus Menyusut di Seluruh Dunia

Sejak dibudidayakan manusia untuk tujuan pangan dan komersil, banyak jenis tanaman yang kehilangan gen kunci yang membuat tanaman dapat beradaptasi dengan dehidrasi ekstrim. Hal ini memungkinkan tanaman tumbuh hampir di seluruh permukaan bumi, meski jauh dari sumber air, sekitar 500 juta tahun lalu. Di masa kini, kita masih dapat menjumpai tanaman seperti itu pada kaktus dan lumut. Mereka dapat tumbuh di padang pasir karena memiliki kemampuan mengumpulkan air di daun dan batangnya sehingga membantu bertahan hidup dalam kondisi kering.

Ini adalah tantangan bagi para ilmuwan. Merekayasa tanaman yang mampu hidup dengan pengairan minim pada akhirnya akan membantu meringankan problem kelangkaan air.

Rekayasa genetika pada tanaman memang masih kontroversial, meski beberapa penelitian menunjukkan tanaman hasil rekayasa genetika sudah banyak dijual di pasar dan ternyata aman dikonsumsi. Adanya pro dan kontra ini lebih sering disebabkan kesalahpahaman. Hanya saja fakta bahwa kemajuan ilmu pengetahuan berperan besar dalam menunjang keberlangsungan hidup umat manusia, manfaat rekayasa genetika pada tanaman tidak bisa diabaikan begitu saja. (inot)

Artikel ini merupakan terjemahan bebas dari tulisan Rupesh Paudyal, seorang peneliti postdoctoral (biologi molekular dan seluler) di Universitas Leeds, Inggris. Artikel ini dipublikasikan pertama kali di The Conversation (theconservation.com) dan kemudian dimuat di laman http://www.independent.co.uk/environment/high-tech-agriculture-can-prevent-oncoming-global-water-wars-a7506041.html

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan