border=

Agritech Butuh Sosialisasi yang Baik

agritech butuh sosialisasi yang baik
(Aplikasi smartphone untuk memonitor perkembangan tanaman. Penerapan teknologi di bidang pertanian/agritech, tidak akan maksimal tanpa diimbangi dengan sosialisasi yang baik. Foto : appmakr.com)

Pomidor.id – Perkembangan teknologi memang banyak membantu kehidupan manusia. Di era modern ini, nyaris tidak ada aktivitas apa pun yang tidak tersentuh teknologi, mulai dari listrik hingga telpon selular yang biasa kita pakai sehari-hari.

Begitu pula dengan teknologi di bidang pertanian, atau yang lazim disebut agritech. Di sektor pertanian, teknologi berperan meningkatkan hasil panen, meningkatkan efisiensi, mengurangi penggunaan pupuk dan air, merekayasa iklim mikro, dsb.

 border=

Namun tanpa komunikasi dan sosialisasi yang baik tentang manfaat teknologi bagi petani maupun konsumen, agritech bisa bernasib sama dengan tanaman hasil rekayasa genetika. Disalahpahami dan ditolak karena persepsi yang keliru mengenai dampak tanaman hasil rekayasa genetika terhadap kesehatan maupun lingkungan.

Demikian kesimpulan umum dari Forum Pertanian Dunia yang digelar di Singapura hari Jumat lalu (14/7), seperti dikutip eco-business.com. Di forum tersebut, para panelis membahas penggunaan teknologi tepat guna di bidang pertanian, dapat menghasilkan 70 persen lebih banyak makanan yang dibutuhkan untuk memberi makan penduduk dunia yang diperkirakan akan mencapai 9 miliar pada tahun 2050.

“Tantangan ke depan kita memerlukan inovasi. Inovasi memerlukan penerimaan. Untuk memperoleh penerimaan, harus ada komunikasi. Jadi intinya agar berjalan lancar, inovasi memerlukan komunikasi,” kata Dr. Jurgen Oldeweme, senior wakil presiden perusahaan BASF.

 border=

Pembicara yang lain memaparkan, di sinilah letak kesalahan industri makanan dan minuman yang tidak menjelaskan kepada konsumen apa itu sesungguhnya rekayasa genetika. Informasi yang simpang siur menyebabkan konsumen khawatir, sehingga kemudian menggeneralisir bahwa rekayasa genetika pasti buruk. Isu yang sama sekarang mulai merembet pada upaya digitalisasi pertanian.

Mengenai isu makanan hasil rekayasa genetika, CEO Bio Bisnis Asia, Andrew Powell, mempunyai pandangan menarik. “Masyarakat ribut soal makanan hasil rekayasa genetika karena mereka yang pertama harus menanggung resikonya. Sementara keuntungannya masuk ke kantong korporasi-korporasi besar.”

Di antara sekian inovasi penerapan agritech yang dibahas dalam forum, di antaranya adalah pentingnya data analisis dan algoritma untuk menentukan presisi pupuk yang dibutuhkan suatu jenis tanaman, aplikasi smartphone yang dapat mengenali serangan hama atau penyakit berdasarkan foto tanaman, serta pertanian vertikal di wilayah perkotaan.

Baca juga :

Drone Mulai Banyak Digunakan untuk Pertanian

Agri Hi-Tech Bisa Cegah Perang Rebutan SDA di Masa Depan

Dr Ngiam Tong Tau, pemimpin Sky Urban Solutions di Singapura, mengatakan sistem pertanian vertikultur yang dikembangkannya, sejauh ini mampu menghasilkan panenan 10 kali lipat dengan menghemat 95 persen air serta 75 persen tenaga kerja.

Perkembangan teknologi lambat laun memang akan mengganti tenaga manusia dengan mesin. Namun demikian, keuntungan yang sama sebenarnya juga bisa dinikmati petani kecil. Mereka juga memiliki akses menerapkan teknologi tapi dengan skala lebih kecil, demikian komentar Suthad Setboonsarng, anggota Dewan Reformasi Nasional Thailand. Syaratnya, ia menambahkan, mereka musti melek informasi dan terus mengikuti perkembangan kemajuan teknologi. (inot)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan