border=

E-Commerce Dongkrak Kesejahteraan Petani

e-commerce
(Pemanfaatan e-commerce dapat memangkas mata rantai pemasaran hasil produk pertanian. Sehingga petani bisa menikmati jerih payahnya dengan lebih baik. Foto courtesy : ukm news)
Pomidor.id – Masalah klasik utama yang membelit dunia pertanian di negara kita adalah mata rantai distribusi barang yang teramat panjang. Panjangnya mata rantai ini membuat kebanyakan petani sulit untuk keluar dari jurang kemiskinan. Selain itu, para petani nyaris tak punya wewenang menentukan nilai dari produk yang dihasilkannya. Semuanya ditentukan oleh pedagang perantara dan pasar yang sama-sama berebut mencari untung. Tak heran kalau kemudian timbul kesenjangan mencolok antara harga di tingkat petani dengan harga di tingkat konsumen.

Sebenarnya posisi tawar petani yang lemah ini bisa diatasi dengan memanfaatkan teknologi informasi yang berkembang pesat, yakni melalui bisnis e-commerce.

Bisnis e-commerce menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika perkembangan internet di Indonesia. Data dari Kementrian Perdagangan, transaksi jual beli barang melalui internet (e-commerce) naik rata-rata 40 persen setiap tahunnya. Tahun ini diperkirakan transaksi belanja online bakal menembus angka US$ 10 miliar lebih. Wow. Sebuah jumlah yang fantastis.

 border=

Maka sangat disayangkan apabila sektor pertanian tidak mampu mengoptimalkan manfaat e-commerce untuk menunjang pemasaran produk-produknya. Keuntungan E-commerce di bidang pertanian atau e-agribussiness lainnya adalah menghemat waktu dan biaya, ajang promosi yang mudah dan singkat, memperpendek product cycle, serta meningkatkan loyalitas konsumen.

Memang, tidak semua petani melek informasi (internet). Apalagi mereka yang tinggal di pelosok-pelosok. Meski begitu, penggunaan e-commerce bisa saja dilakukan secara bertahap. Bisa dari daerah-daerah di pinggiran kota yang sudah stabil jaringan internetnya.

Barangkali kita musti melihat apa yang terjadi di Tiongkok sebagai rujukan. Dua atau tiga dekade lalu, para petani di sana juga masih berkubang dengan kemiskinan. Sama dengan di Indonesia, distribusi hasil pertanian yang panjang adalah penyebabnya.

 border=

Namun sejak pembangunan infrastruktur dilakukan besar-besaran serta mengintegrasikannya dengan kemajuan teknologi, perubahan pesat pun terjadi. Peran e-commerce dalam memasarkan hasil berbagai industri di Tiongkok, termasuk pertanian, sangatlah besar.

Salah satu perusahaan e-commerce yang berjasa mengubah perekonomian Tiongkok adalah Alibaba. Perusahaan yang dimiliki Jack Ma tersebut, sukses mendongkrak kesejahteraan sebagian petani di sana. Melalui Alibaba, mereka bisa langsung menjual produknya tanpa harus melalui rantai distribusi yang berbelit-belit. Tak hanya di dalam negeri, berkat e-commerce produk-produk pertanian Tiongkok kini sudah membanjiri pasaran dunia.

Dalam dunia bisnis yang bergerak begitu cepat saat ini, efisiensi merupakan komponen utamanya. Efisiensi merupakan magic word sebuah entitas bisnis dapat bertahan dan kemudian berkembang, atau justru kolaps. Dengan kata lain, persaingan bisnis tak lagi ditentukan seberapa banyak barang yang dihasilkan, tapi seberapa cepat barang sampai di tempat tujuan. Percuma produksi melimpah tapi lambat sampai ke pasar/konsumen. Distribusi dan mata rantai yang panjang pasti akan berdampak pada membengkaknya biaya. Biaya yang membengkak ini siapa lagi yang menanggungnya kalau bukan konsumen. Pada akhirnya, produk pun menjadi tidak kompetitif karena terlalu mahal.

Contohnya apel. Kalau dulu apel Batu sempat merajai pasar apel dalam negeri, kini tidak lagi. Sudah digeser apel-apel made in China atau Australia. Tak hanya di supermarket besar, bahkan apel impor mudah ditemui di pinggir-pinggir jalan. Kalah bersaingnya apel Batu ini bukan semata karena kemasannya yang terkesan asal-asalan, tapi juga harganya yang dua sampai tiga kali lipat lebih mahal.

Jadi, sangat aneh jika ada yang menuding masyarakat tidak cinta produk dalam negeri, sementara produk itu sendiri kurang marketable. Pembeli/konsumen itu mahluk ekonomis, yang akan njelimet berhitung untung rugi ketika membelanjakan uangnya. Sungguh tidak masuk akal menuntut mereka membeli barang yang jelek tapi mahal, padahal di sebelahnya ada barang bagus yang murah. Meminjam kata Cak Lontong, “Mikir!”

Makanya daripada komentar yang mboten-mboten, lebih baik segera bertindak melakukan pembenahan. Tak hanya kualitas dan kemasan, cara memasarkan produk juga perlu mendapat perhatian. E-commerce sebagai sarana jualan yang murah, efisien dan mampu menjangkau pasar yang luas, semestinya dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Perusahaan-perusahaan e-commerce yang bergerak di agribisnis model Alibaba di Tiongkok, perlu diperbanyak lagi. Anak-anak muda kreatif yang akrab dengan dunia maya, bisa menjadi ujung tombaknya. Tak perlu gengsi terjun ke dunia pertanian. Sebab jika ditekuni sungguh-sungguh, potensi yang ada sangatlah luar bisa. Terjun ke dunia pertanian tidak melulu harus jadi petani. Namun membantu meningkatkan nilai tawar petani dengan memasarkan produk mereka secara viral dan efisien, sudah merupakan kontribusi tidak ternilai untuk mengangkat kesejahteraan para petani dan keluarganya.

Baca juga :

Korsel-ASEAN Bahas Peningkatan Kerja Sama Perdagangan di Bidang Pertanian

Banyak petani yang hidup miskin bukan karena mereka malas. Tapi karena mereka dibiarkan berjuang sendirian menghadapi sistem mekanisme pasar yang absurd. Absurd karena tidak jelas rambu-rambunya. Absurd karena pedagang yang semestinya cuma perantara, berkuasa penuh atas produsen dan konsumen.

Sudah saatnya, petani memiliki hak yang wajar atas nilai barang produksinya. Dengan memanfaatkan e-commerce atau e-agribussiness, setidaknya hasil panen mereka dihargai lebih adil karena distribusi yang terlalu panjang dapat dipangkas. Distribusi yang ringkas akan mengurangi beban biaya produksi petani, sehingga mereka bisa mendapatkan keuntungan yang lebih wajar. Jika profesi sebagai petani bisa dijadikan sandaran hidup layak, niscaya anak cucu mereka tidak akan meninggalkan sawah ladang peninggalan leluhur mereka.

Ketika banyak anak muda percaya diri bahwa dunia pertanian menjanjikan masa depan cerah, detik itu juga tak usah didengar kalau ada yang ngomel-ngomel soal ketahanan pangan.

Bilang saja ke mereka. “Dasar ndeso!”

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan