Krisis Garam Disebakan Anjloknya Produksi Garam di Jatim

produksi garam
(Petani garam tengah melakukan proses pengeringan garam di tambak. Harga garam meroket disebabkan produksi turun drastis akibat cuaca tidak menentu. Foto : Agro Indonesia)

Pomidor – Jawa Timur selama ini dikenal sebagai salah satu daerah utama penghasil garam di Indonesia. Sekitar 40 persen produksi garam nasional diproduksi di Jatim. Data Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Jawa Timur, produksi garam sampai bulan Juni, baru 689.33 ton. Jauh dari produksi tahun sebelumnya yang mencapai 123.873,59 ton.

Maka ketika produksi garam di Jatim anjlok hingga separuhnya, pengaruhnya langsung terasa di mana-mana. Di sejumlah daerah, harga garam bahkan naik sampai 3 kali lipat. Anjloknya produksi garam ini, disebabkan karena cuaca tidak menentu. Hujan yang masih kerap turun, menyulitkan proses pengeringan air laut yang diambil sebagai bahan baku garam. Selain itu, mendung juga membuat penjemuran garam tidak sempurna dan membutuhkan waktu lebih lama.

Link Banner

Baca juga :

Pemerintah Segera Kaji UU Pengendalian Harga Pangan

Jalan-jalanlah ke Pasar, Pak Menteri

Menurut Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf, untuk mengatasi kelangkaan garam ini, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur sudah meminta stok garam dari propinsi lain. Namun tidak membuahkan hasil.

“Seluruh daerah juga sudah habis dan tidak memiliki stok (garam) lagi. Kelangkaan produksi garam karena faktor cuaca tidak menentu,” katanya, (21/7).

Kendati demikian, untuk mendatangkan garam dari luar (impor), juga tidak mudah. Ada syarat khusus untuk impor garam, misalnya harus mengandung kadar NaCl (Natrium Klorida) tidak lebih dari 97 persen. Selain itu, untuk impor garam juga harus meminta rekomendasi Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP). Belum lagi mulai muncul suara penolakan dari petani garam karena impor dikhawatirkan bakal menggerus harga garam. Jadi untuk mendatangkan garam dari luar negeri, memang tidak sederhana prosesnya.

Sementara itu di pasar, kelangkaan garam terjadi pada semua jenis garam. Mulai dari garam beryodium hingga garam non yodium atau garam grasak. Tak heran kalau kemudian harganya terus merangkak naik. Para pembeli sendiri sudah tidak terlalu memusingkan garam yang dibeli bermerk favorit atau tidak. Yang penting ada garam sehingga masakan tidak hambar. (inot)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan