Industri Pertanian Sudah Mendesak, Bos

industri pertanian sudah mendesak
(Beberapa petak sawah yang tersisa di pinggiran perumahan. Sudah waktunya pemerintah memperlakukan sektor pertanian sebagai sektor industri yang dikelola dengan konsep dan visi yang baik. Foto : pomidor.id)

Pomidor – Jika kita memperhatikan wawancara atau pidato pejabat-pejabat yang mengurusi sektor pertanian, bahkan yang sekelas menteri, lamat-lamat kita sering mendengar kata-kata semacam “ketahanan pangan”, “kedaulatan pangan”, “swasembada pangan”, atau ucapan-ucapan yang merujuk pada kata “pangan”. Intinya, mereka sadar betapa pentingnya pangan bagi keberlangsungan kehidupan negara ini.

Link Banner

Benarkah demikian? Kalau sekedar omongan sih, tidak ada yang menyangkal. Tapi kalau membumikannya dalam realita yang sebenar-benarnya, nanti dulu. Rasanya masih banyak yang tidak sinkron antara omongan dengan apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan.

Buktinya hingga detik ini setiap hari kita dibanjiri dengan berita-berita yang menyoroti berbagai persoalan di dunia pertanian kita. Anehnya, berita-berita itu merupakan pengulangan dari berita-berita yang sama beberapa waktu sebelumnya. Coba, pernahkah Anda mendengar ribut-ribut soal kelangkaan garam atau melambungnya harga cabai? Googlinglah berita tahun kemarin, lalu cocokkan dengan tahun ini. Seperti deja vu, Anda akan menemukan berita yang mirip walau dengan redaksional yang sedikit berbeda.

Artinya apa? Kita ini bergulat dengan persoalan yang sama dari tahun ke tahun. Ibarat lari di atas treadmill, kita merasa seakan sudah melaju puluhan kilometer padahal kita tidak beringsut sedikit pun dari tempat kita berdiri.

Entah harus mulai dari mana mengurai benang kusut ini. Namun salah satu yang mungkin menjadi penyebabnya adalah sikap kita sendiri yang tak terlalu menganggap penting sektor pertanian. Menempatkannya tak lebih dari sub-ordinat sektor-sektor yang lain.

Sudah terlalu lama sektor pertanian menjadi anak pinggiran. Kalau pun ada perhatian dari pemangku kebijakan di negeri ini, sifatnya hanya sporadis dan lebih banyak unsur reaktifnya. Saat ada kabar mengenai bergejolaknya harga suatu komoditas karena stok yang minim di pasar, impor nyaris selalu menjadi jawaban pemerintah. Seolah-olah impor adalah satu-satunya dewa penyelamat untuk menutup kebutuhan pasar dalam negeri yang terus membesar dari tahun ke tahun.

Lalu korelasinya dengan swasembada di mana? Rasanya akan lebih elegan jika pemerintah berterus terang bahwa tiga sampai lima tahun ke depan kita akan impor besar-besaran kedelai, misalnya. Tapi dalam kurun waktu tersebut kita juga akan ekspansi gila-gilaan menanam kedelai sekaligus menyiapkan segala infrastruktur penunjangnya. Sehingga menginjak tahun keenam, sudah tidak ada cerita lagi harga tempe melonjak karena kebetulan waktu bayar kedelai impornya, kurs dolar sedang tinggi.

Agar tidak gampang menghambur-hamburkan devisa untuk sesuatu yang bisa kita produksi sendiri, kenapa kita tidak memperlakukan sektor pertanian sebagaimana layaknya industri beneran. Bukan industri abal-abal yang dikelola amatiran.

Mungkin ada baiknya kita melihat bagaimana industri garmen bekerja. Mulai dari pendirian pabrik, pembelian mesin,  perekrutan karyawan, pemilihan benang sebagai bahan baku pembuatan pakaian, promosi hingga penandatangan kontrak dengan buyer, semuanya sudah dikonsep sejak awal. Saling terkait. Tidak ada yang jalan sendiri-sendiri. Lalu bagaimana dengan industri pertanian?

Sebenarnya pertanian kita pernah mengalami masa keemasan. Sayangnya, masa itu adalah masa kolonial. Meski demikian, di tangan penjajah Belanda, produksi gula, teh, kopi dan rempah-rempah kita pernah merajai pasar Eropa dan dunia. Bahkan di sektor gula, infrastruktur di Indonesia, khususnya di Jawa dan sebagian Sumatra, termasuk yang paling komplit untuk ukuran jaman itu. Setiap sentra-sentra perkebunan tebu, pasti memiliki jaringan rel kereta api untuk mengangkut hasil panenan tebu ke pabrik gula. Hebatnya, pabrik-pabrik gula yang dibangun di era penjajahan, sampai kini pun masih banyak yang beroperasi. Itu menandakan pemerintah kolonial tidak tanggung-tanggung merancang komoditas gula sebagai sebuah industri andalan.

O iya, ketika masih bernama Hindia Belanda, kita pernah menjadi eksportir gula nomor satu di dunia, lho.

Lha setelah sekian lama merdeka, industri pertanian kita kok tambah melempem? Jangankan memperbesar kapasitas ekspor gula, tidak sampai impor saja sudah prestasi yang luar biasa. Itu belum termasuk komoditas pokok lain semacam garam, jagung, kedelai, beras, daging, dlsb. Nyaris semuanya bergantung barang dari luar untuk mencukupi kebutuhan pasar dalam negeri.

Baca juga :

E-Commerce Dongkrak Kesejahteraan Petani

Pertanian Juga Butuh ‘Bu Susi’

Ada yang janggal memang dengan pola pikir para petinggi di negeri ini. Preseden baik di masa lalu, saat Belanda menjadikan negara kepulauan ini sebagai produsen utama sejumlah komoditas pertanian, tidak berusaha mati-matian untuk diteruskan. Padahal kita mempunyai modal dasar berupa tanah subur yang luas dan tenaga kerja melimpah. Satu lagi, jumlah penduduk Indonesia yang saat ini lebih dari seperempat milyar, merupakan pasar yang sangat besar. Pasar yang mampu menyerap berapa pun produksi pertanian yang dihasilkan. Jadi kurang apalagi modal yang kita miliki untuk membangun sebuah industri pertanian yang kuat?

Mudah-mudahan kebijakan pemerintahan saat ini yang sibuk membuat akses jalan, membangun bendungan irigasi, mencetuskan reforma agraria, ada kaitannya dengan keinginan pemerintah membangun pertanian menuju sebuah industri. Tanpa menjadikan industri pertanian sebagai industri yang terkonsep baik dan bervisi jauh ke depan, maka dunia pertanian kita selamanya akan begini-begini saja. Dan pada akhirnya akan semakin ditinggalkan karena memang tidak menjanjikan apa-apa untuk masa depan.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan