border=

Lahan Pertanian Terus Menyusut di Seluruh Dunia

lahan pertanian
(Seorang petani tengah beraktivitas tak jauh dari gedung perkantoran yang baru selesai dibangun. Alih fungsi lahan pertanian secara besar-besaran dan tidak terkontrol dapat menimbulkan kerawanan pangan global. (Foto Courtesy : Sven Torfinn / Panos)

Pomidor – Di tahun 2030, jutaan hektar lahan subur pertanian diperkirakan bakal lenyap diganti dengan kota-kota baru. Negara-negara di Asia dan Afrika adalah yang paling ekspansif mengubah lahan pertanian mereka menjadi pemukiman, perkantoran dan industri. Sekitar 80% lahan pertanian di negara-negara tersebut akan beralih fungsi.

Menurut data satelit sejak tahun 2000, lahan pertanian produktif terus menyusut secara masif, berkebalikan dengan pembangunan proyek-proyek infrastruktur non pertanian yang teramat agresif.

 border=

Para peneliti internasional menemukan fakta mengejutkan, di tahun 2030 lahan pertanian subur di seluruh dunia kemungkinan akan tergerus hingga 30 juta hektar sejalan dengan berkembangnya daerah perkotaan. Luasan itu sama dengan luasan negara Filipina. Asia dan Afrika sendiri akan kehilangan 24 juta hektar lahan produktifnya. Lahan yang bakal lenyap ini, menyumbang 3-4 persen dari produksi tanaman pangan global.

Tiongkok, India, Indonesia, Vietnam, Pakistan, Nigeria dan Amerika Serikat adalah negara-negara yang paling ekstrem mengalihfungsikan lahan pertaniannya. Tentu saja hal ini akan berakibat pada terjun bebasnya produktivitas beras, gandum, jagung dan tanaman jenis kacang-kacangan lainnya.

Dikutip dari laman www.scidev.net, benua Asia adalah yang paling menderita dengan fenomena ini. Di Tiongkok saja, lahan pertaniannya yang hilang setara dengan seperempat lahan produktif di dunia. Sedangkan India, meski sama-sama berkembang pesat ekonominya, diperkirakan tidak separah Tiongkok. Namun perkiraan ini bisa meleset jika pemerintah India tidak mampu mengendalikan arus urbanisasi di negaranya. Tiga negara agraris Asia lainnya, Pakistan, Indonesia dan Vietnam, juga menghadapi masalah yang sama mengingat jumlah penduduknya yang sangat besar.

 border=

Jika alih fungsi lahan pertanian ini terus terjadi dalam skala yang luar biasa, tidak saja para petani gurem dan pedagang-pedagang kecil yang terkena dampaknya, namun konsekuensi lebih serius mengancam eksistensi hutan-hutan yang ada.

Baca juga :

Pemerintah Segera Luncurkan Program Reforma Agraria

Navin Ramankutty, Profesor di Universitas British Columbia, Canada, mengatakan memang tidak mudah memprediksi secara pasti pengaruhnya terhadap sistem pangan perkotaan. Dengan kata lain, dampaknya berbeda-beda di setiap wilayah.

“Saya pikir ini soal konteks ketergantungan. Suatu daerah rawan pangan atau tidak, ditentukan oleh kemampuan daerah itu sendiri, apakah ia mampu memproduksi kebutuhannya sendiri atau bergantung pada impor bahan pangan. Faktor biogreografis di mana daerah itu berada, juga tak kalah pentingnya di sini.”

Ramankutty menambahkan, menyusutnya lahan pertanian yang berpotensi memicu kerawanan pangan di tingkat global ini, sebenarnya dapat diantisipasi dengan sedikit mengubah pola makan atau mengurangi kebiasaan membuang-buang bahan makanan. (inot)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan