border=

Sektor Pertanian Juga Butuh Bu Susi

bu Susi
(Begitu kompleks masalah yang membelit sektor pertanian di Indonesia. Selain kerja keras, juga butuh tindakan ekstra tegas untuk mengurai berbagai persoalan yang membelit dunia pertanian kita. Ilustrasi oleh Yayasan Tanah Merdeka)

Pomidor – Gebrakan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pujiastuti atau yang akrab disapa Bu Susi, mencengangkan banyak pihak. Meski awalnya sempat diragukan, kinerja menteri yang kerap tampil dengan gaya nyentrik ini menuai pujian baik dari dalam maupun luar negeri. Tengok saja hasil survey dua tahun berturut-turut yang selalu menempatkan Bu Susi sebagai menteri dengan kinerja terbaik. Sementara untuk skala global, menteri yang doyan ngudud ini berulang kali diganjar penghargaan internasional. Bahkan selebriti papan atas Hollywood, Leonardo di Caprio, tak ketinggalan memuji Bu Susi, karena di bawah kepemimpinannya, Indonesia menjadi jawara dalam pemberantasan Illegal, Unreported, Unregulated (IUU) Fishing di dunia.

Segudang prestasi itu bukan diraih tanpa action. Sejak dilantik menjadi bagian dari Kabinet Kerja Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, Menteri Susi langsung bergerak ke akar-akar masalah yang membelit dunia kemaritiman kita. Penenggelaman kapal-kapal asing yang mencuri ikan di perairan Indonesia, bukanlah langkah sok-sokan atau gagah-gagahan. Tapi berkeliarannya kapal-kapal pencuri ikan itu memang menjadi salah satu biang keladi terpuruknya kehidupan para nelayan kita. Selain itu dari sisi ekologi, keserakahan mereka yang ugal-ugalan menangkap ikan merusak banyak biota laut.

 border=

Lalu bagaimana dengan sektor pertanian? Bukankah sektor ini juga memiliki kompleksitas masalah yang tak kalah pelik dengan sektor kemaritiman? Apalagi keduanya sama-sama berkaitan dengan produk pangan.

Jujur saja, sosok seperti Bu Susi teramat dibutuhkan di sektor yang menyerap hampir sepertiga tenaga kerja di Indonesia ini. Sosok yang keras, tegas, sekaligus menguasai betul masalah yang sedang dihadapi sehingga siap pula dengan solusi-solusinya.

Adalah naif apabila kita menutup mata terhadap kerja keras Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. Upaya kementriannya untuk meningkatkan produksi pertanian dan mengendalikan impor bahan pangan, tetap harus diapresiasi. Malah tahun lalu, sumbangan sektor pertanian terhadap total Product Domestic Bruto (PDB) sebesar 14,42%, menempatkannya di posisi kedua setelah sektor industri. Belum lagi data-data lain yang menunjukkan grafik peningkatan pada produktivitas bahan pangan pokok, seperti beras naik 6,42%, jagung naik 3,18% serta kedelai naik 0,86%. Yang jelas, rapor kementrian pertanian jauh dari merah.

Sayangnya, pencapaian yang sudah diraih Menteri Amran, tampaknya lebih banyak di tataran statistik dan tidak terlalu berimbas ke masyarakat umum, terutama masyarakat berpenghasilan rendah.

Bak roller coaster, harga-harga komoditas pertanian tetap saja sulit dikendalikan. Fluktuasi naik turunnya terjadi begitu tajam. Ibu-ibu rumah tangga sering jantungan ketika belanja di pasar. Sebab, apa yang dibeli kemarin belum tentu bisa dibeli hari ini, walau pun jumlah uang yang dibawa sama.

Sialnya lagi, uang yang mereka keluarkan tidak selalu menjamin kualitas barang yang mereka dapatkan. Masih ingat peristiwa ibu-ibu berburu cabai busuk yang sempat ramai diberitakan beberapa waktu lalu? Ini bukan karena mereka doyan barang busuk, tapi cabai yang layak konsumsi harganya melambung tidak masuk akal.

Itu dari sisi konsumen. Dari sisi produsen pun sama saja. Memang harga hasil panenan mereka naik. Namun kenaikannya hampir selalu paralel dengan kebutuhan produksi, seperti bibit, pupuk, tenaga kerja, dll. Kalau ditotal antara panen dan biaya produksi, hasilnya tak jarang malah tekor. Keadaan akan makin mengenaskan ketika barang melimpah akibat panen yang bersamaan di berbagai daerah yang berujung pada anjloknya harga. Petani bukan lagi tekor, tapi nyungsep.

Siklus ini terus berulang setiap tahun. Padahal kebanyakan petani dengan lahan tidak terlalu luas (petani gurem) mengandalkan hutang untuk memulai masa tanam. Lha kalau panen saja susah balik modal untuk membayar hutang, apalagi kalau gagal panen.

Situasi inilah yang pada akhirnya mendorong anak-anak muda dari desa berbondong-bondong mencari pekerjaan di kota. Bertani mereka anggap profesi yang tidak menjanjikan. Bagi mereka, lebih menguntungkan menjadi pemulung, buruh bangunan, pembantu rumah tangga, atau pekerjaan-pekerjaan informal lainnya. Meski sama-sama rendahan, namun penghasilannya lebih bisa diharapkan daripada bertahan menjadi petani di desa.

Ketahanan pangan macam apakah yang hendak kita bangun jika yang tersisa di areal-areal pertanian lebih banyak adalah generasi-generasi tua?

Baca juga :

Sektor Pertanian Butuh Banyak Tenaga Terdidik

Carut marut sektor pertanian ini menjadi tambah sempurna dengan kehadiran kartel-kartel yang mengeruk keuntungan luar biasa di bidang pangan. Ibarat kentut, bau busuk tapi tak kelihatan, tangan gaib kartel-kartel ini mampu menjangkau hingga ke sudut-sudut dapur seluruh rumah tangga di Indonesia. Mulai garam hingga daging yang kita konsumsi, semuanya tidak luput dari permainan harga yang dilakukan para pemburu rente tersebut. Sehingga yang dirugikan tidak hanya konsumen, tapi juga produsen yang sesungguhnya.

Karena itu, sektor pertanian juga butuh sosok seperti Bu Susi. Sosok yang tegas dan tanpa kompromi. Kalau untuk maling-maling ikan di perairan nusantara populer kata “tenggelamkan”, agaknya istilah yang sama perlu diterapkan pada mereka-mereka yang gemar menimbun bahan pangan demi mendapatkan keuntungan berlipat ganda. Toh kelakukan mereka sama-sama menyusahkan orang banyak.

2 Komentar

  1. Kayaknya kita juga perlu turut serta memperjuangkan pangan indonesia. Sudah menjadi kewajiban setiap warga negara untuk berjuang demi negaranya. Apalagi disaat2 seperti ini

Tinggalkan Balasan