Umumkan Impor Pangan, Jangan Cengengesan

demo tolak impor pangan
(Hati-hati dengan kebijakan impor pangan. Terlalu menggampangkannya, akan menyebabkan disinsentif bagi produksi pangan nasional.)
(Hati-hati dengan kebijakan impor pangan. Terlalu menggampangkannya, akan menyebabkan disinsentif bagi produksi pangan nasional.)

Pomidor – Minggu-minggu belakangan ini, ibu-ibu rumah tangga, para perajin ikan asin dan telor asin, pedagang di pasar, bahkan sampai menteri dan presiden, pasti sedang senewen. Senewen gara-gara garam mendadak susah dicari. Sudah langka, harganya melambung ndak karuan pula.

Link Banner

Benda putih berasa asin yang sebelumnya nyaris tak dianggap karena selain murah dan gampang ditemui di mana-mana itu, kini menempati panggung utama sebagai obyek yang paling banyak dibicarakan. Kita tiba-tiba saja baru ngeh, betapa krusialnya garam bagi kehidupan kita. Coba tanya ibu-ibu di rumah, gimana jadinya dapur yang merupakan daerah kekuasaannya, tidak ada garam? Pasti bakal uring-uringan. Atau paling apes ya ogah masak. Aneh kan rasanya bikin sop tanpa garam. Kalau pun ada yang masa bodoh dengan krisis garam ini, bisa ditebak ia tentu penderita hipertensi.

Yang menyebalkan sebenarnya bukan semata soal garamnya. Tapi ya kok bisa-bisanya negara dengan garis pantai terpanjang nomor dua di dunia ini, sampai kekurangan garam. Lha wong bahan bakunya saja melimpah ruah. Mau ngeyel model apa pun, tetap saja sulit bagi otak awam untuk memahami.

Yang lebih menyebalkan lagi (ya sebal terus karena sudah lima hari ini semua masakan hambar sampai-sampai darah tinggi kumat), adalah ada pejabat yang mengatakan produksi garam rendah akibat faktor cuaca. Sudah begitu, dengan entengnya beliau mengumumkan tahun ini Indonesia terpaksa impor garam lagi. “Lagi”, karena tahun lalu kita juga impor barang yang sama.

Alamak! Mengumumkan impor pangan kok seperti rutinitas yang wajar-wajar saja. Sambil cengengesan pula.

Barangkali si pejabat lupa kalau mimiknya waktu mengeluarkan pengumuman impor itu disorot puluhan kamera serta di saat yang bersamaan dipelototi jutaan pasang mata. Garis tipis yang menyungging ke atas bibir si pejabat, bisa mengundang banyak penafsiran.

Bisa saja si pejabat ndrenges karena ia memang orang yang dasarnya ramah. Bisa saja ia begitu karena merasa lega krisis akhirnya terpecahkan dengan keputusan pemerintah untuk impor. Tapi bisa juga orang menangkap sikap cengengesan itu sebagai sinyal minimnya empati si pejabat terhadap persoalan pangan yang kronis membelit negeri ini.

Suka-suka orang menafsirkannya, lah.

Hanya saja secara etika, sikap cengengesan itu tetap kurang tepat. Semestinya si pejabat saat menyampaikan keputusan impor pangan itu mukanya tampak lesu atau raut wajahnya menunjukkan rasa bersalah, karena memang ada yang tidak beres dengan pekerjaannya.

Impor, bagaimana pun juga, adalah solusi terburuk dari segala pilihan yang ada. Jangan terlalu gampang menyederhanakan masalah cukup dengan impor. Lebih-lebih untuk urusan pangan.

Dalam jangka pendek, impor pangan memang tak terlalu berpengaruh. Namun dalam jangka panjang, ketergantungan pada pasokan barang dari negara lain untuk menutup kebutuhan dalam negeri, lambat laun akan mengeroposkan bangunan negara ini. Kemandirian dalam bidang pangan adalah salah satu pilar utama berdiri tegaknya sebuah negara.

Selain itu, melakukan impor pangan secara terus menerus berarti ada yang salah dalam tata kelola produksi kita. Tak hanya garam, sebenarnya. Gula, beras, daging, jagung, kedelai, adalah sebagian komoditas pangan yang produksinya tidak pernah imbang dengan permintaan pasar dalam negeri. Selalu minus sehingga untuk menutup kekurangannya, tiap tahun kita terpaksa merogoh dalam-dalam devisa untuk mendatangkannya dari luar negeri.

Terlalu mudah melakukan impor secara tidak langsung juga merupakan disinsentif bagi proses produksi. Sederhananya, buat apa susah-susah menghasilkan barang jika bisa dengan mudah dan cepat mendatangkannya dari luar. Pada akhirnya, orang akan malas berproduksi karena selain tahapannya sangat panjang dan melelahkan, juga butuh banyak biaya untuk membangun sarana dan infrastruktur penunjangnya.

Apalagi di masa-masa lalu, impor pangan tak sekedar digunakan sebagai katup pengaman ketika terjadi kelangkaan barang. Namun keran impor sering kali malah dijadikan ajang untuk berburu rente, berburu komisi. Berapa banyak sudah petinggi negara yang dicokok komisi anti rasuah akibat bermain-main dengan kuota impor?

Yang paling berbahaya dari semua itu adalah gara-gara saking ngebetnya ingin dapat komisi, keran impor pangan dibuka justru ketika produksi dalam negeri sedang bagus-bagusnya. Ya hancurlah harganya. Petani rugi besar bukan karena gagal panen, tapi barangnya dihargai begitu murah sehingga jangankan untuk balik modal, untuk hidup sehari-hari saja bingungnya setengah mati. Sekali dua, mungkin para petani menganggapnya belum rejeki. Kalau berkali-kali? Tak perlu kaget ketika tiba-tiba mereka memutuskan mogok ke sawah dan ke ladang.

Baca juga :

Industri Pertanian Sudah Mendesak, Bos

Pentingnya Tenaga Terdidik di Sektor Pertanian

Mogoknya petani ini efeknya akan jauh lebih dahsyat ketimbang ritual tahunan para buruh setiap tanggal 1 Mei. Anda bisa membayangkan ketika produsen pangan tiba-tiba tidak mau bekerja? Banyaknya persoalan akibat salah kelola selama berpuluh-puluh tahun, termasuk kebijakan impor yang ujung-ujungnya malah jadi bumerang, membuat jutaan petani mutung dan akhirnya memutuskan hijrah ke pekerjaan lain.

Kalau sudah begini, seberapa kuat kita terus-terusan mengandalkan impor pangan untuk memberi makan 250 juta lebih rakyat Indonesia?

Karena itu, Pak Presiden, Pak Wapres, Pak/Bu Menteri, Pak/Bu Dirjen atau siapalah yang punya kewenangan, tolong jangan cengengesan ketika mengumumkan kebijakan impor, khususnya yang berkaitan dengan pangan. Efek dominonya sangat panjang. Masa depan satu sampai dua generasi anak-anak kita dipertaruhkan di sini.

Seandainya pun kebijakan impor memang betul-betul harus dilakukan, umumkanlah itu dengan wajah sedih dan berjanji akan bekerja ekstra keras untuk menebusnya dengan surplus di tahun-tahun berikutnya. Ini agar kami-kami tak sampai keliru persepsi terhadap apa saja yang sudah Anda-Anda kerjakan.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan