Homo Sapiens Sebabkan Limbah Plastik Seluas Argentina

limbah plastik mengancam bumi
(Produksi plastik yang terus meningkat pesat, membuat sampahnya kini mencapai ukuran seluas negara Argentina. Jika tidak dikendalikan, dalam beberapa puluh tahun ke depan, sampah plastik bisa menutupi separuh permukaan bumi. Foto : emaze.com)

Pomidor – Homo sapiens alias manusia, merupakan satu-satunya spesies di muka bumi ini yang paling bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan. Tak tanggung-tanggung, hanya dalam waktu kurang dari 70 tahun sejak ditemukannya, manusia telah menciptakan limbah plastik seluas negara Argentina. Jika tidak ada langkah ekstrem yang dilakukan untuk mengatasinya, dikhawatirkan dalam kurun waktu beberapa puluh tahun ke depan, separuh permukaan bumi akan dipenuhi limbah yang tidak bisa didaur ulang ini.

Link Banner

Dalam analisis global pertama produksi plastik, banyak ilmuwan menghitung bahwa kita telah menghasilkan lebih dari 9 milyar ton limbah plastik sejak tahun 1950-an. Yang mengerikan, sebagian besarnya atau 79 persen, langsung menuju ke tempat pembuangan sampah. Sampah atau limbah plastik itu kebanyakan sekedar dikuburkan begitu saja, tanpa melalui pengolahan limbah yang semestinya. Bahkan ada pula yang langsung dibuang ke lautan.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances, mendapati bahwa hanya 9 persen dari total sampah plastik yang didaur ulang. Sementara 12 persen dibakar dalam mesin insenerator.

Penelitian tersebut juga mengamati semua sampah plastik, mulai dari resin sampai fiber. Produksi plastik sendiri meningkat pesat sejak awal ditemukannya polyethylene terephthalate (PET), atau molekul pembentuk plastik paling umum. Dari 2 juta ton di tahun 1950, melonjak menjadi ribuan kali lipat di tahun 2015. Hal ini membuat plastik menjadi salah satu bahan buatan manusia yang paling banyak diproduksi.

“Sebagian besar plastik tidak bisa terurai. Jadi plastik yang diproduksi manusia akan sama bentuknya selama ratusan bahkan ribuan tahun,” jelas Jenna Jambeck yang turut menulis penelitian tersebut.

“Kami ingin menekankan pentingnya untuk berpikir serius mengenai material yang kita gunakan dan praktik pengelolaan limbahnya,” Jambeck menambahkan.

Jika produksi massal plastik ditarik ke belakang di tahun 50-an, akan diperoleh temuan bahwa sejak beberapa tahun terakhir telah terjadi peningkatan pesat pembuatan manufaktur berbahan dasar plastik. Para ilmuwan memperkirakan sejauh ini telah tercipta lebih dari 9 milyar ton plastik, dan separuhnya dibuat dalam kurun waktu 13 tahun terakhir. Total plastik yang ada di dunia saat ini, sudah cukup untuk menutupi wilayah seukuran negara Argentina.

Secara gamblang penelitian tersebut memberi gambaran lebih luas tentang ketergantungan kita pada penggunaan plastik. Tak hanya itu, ketergantungan kita pada plastik juga berpengaruh sangat besar pada lingkungan dan planet ini.

Baca juga :

Milyaran Penduduk Bumi Kesulitan Air Bersih

Rumput Laut dan Singkong Alternatif Pengganti Plastik

Sebuah makalah ilmiah yang belum lama diterbitkan, mengungkapkan mikroplastik sudah hadir di setiap lingkungan laut yang diambil sampelnya di Australia. Bahkan di wilayah laut yang terpencil dan sulit diakses, sudah tercemar oleh partikel-partikel plastik. Plastik juga telah ditemukan di kedalaman samudera dan di perairan dingin di daerah kutub. Jika homo sapiens terus memproduksi plastik tanpa terkendali, maka diperkirakan tahun 2050 nanti, jumlah sampah plastik di lautan akan lebih banyak daripada ikan.

Para ilmuwan atau aktivis lingkungan tidak berpikir untuk sama sekali meniadakan penggunaan plastik dalam kehidupan modern saat ini. Karena hal itu memang mustahil untuk dilakukan. Namun mereka ingin temuan tentang plastik tersebut dapat memberi masukan tentang kebijakan apa saja yang diperlukan untuk mengelola produksi, penggunaan serta pembuangan plastik yang lebih baik. Sehingga kecemasan bahwa suatu saat lebih dari separuh permukaan bumi bakal tertutupi oleh sampah plastik, tidak sampai terjadi atau bisa dicegah. (inot)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan