Indonesia Tidak ‘Tutup Pintu’ bagi Produk Australia

Indonesia tidak tutup pintu bagi produk Australia
(Pembatasan impor daging sapi asal Australia, berpengaruh signifikan terhadap para eksportir negara tetangga tersebut. Australia berharap Indonesia tidak melakukan kebijakan “tutup pintu” bagi produk dari negara lain. Foto : http://www.theherald.com.au)

Pomidor  – Kendati saat ini tengah bekerja keras mewujudkan keinginan swasembada pangan, Indonesia tidak melakukan kebijakan ‘tutup pintu’ terhadap produk-produk pertanian dari Australia. Demikian pernyataan Dirjen Perdagangan Internasional, Imam Pambagyo, dalam wawancaranya dengan Fairfax Media menjelang pertemuan kedua negara untuk membahas perdagangan bebas di Canberra minggu ini.

“Ini hanya soal memprioritaskan produk dalam negeri. Bukan berarti kita menerapkan kebijakan ‘tutup pintu’,” kata Imam Pambagyo. Ia membandingkan keinginan Indonesia untuk mandiri ini dengan kebijakan Presiden AS, Donald Trump, yang menganjurkan warganya mengutamakan membeli produk Amerika atau “Buy American”.

Pernyataan ini muncul setelah Indonesia mengumumkan Jumat minggu lalu (28/7) akan mengimpor 75 ribu ton garam asal Australia. Garam dari Australia ini dijadwalkan tiba di beberapa pelabuhan Indonesia tanggal 10 Agustus mendatang. Namun Kementrian Perdagangan, sebagai pihak yang mengeluarkan ijin impor, menegaskan bahwa produk dalam negeri perlahan akan kembali normal.

Para pengamat sebelumnya skeptis bahwa Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA) antar kedua negara akan membuahkan hasil optimal. Perjanjian yang akan diselesaikan akhir tahun ini, diragukan mampu menangani hambatan jangka panjang untuk akses pasar produk Australia ke Indonesia.

Pasalnya, Indonesia telah bertekad untuk swasembada beberapa komoditas kunci seperti daging sapi, gula, beras dan kedelai.

Baca juga :

Lampu Hijau bagi Kemendag untuk Impor Garam

Indonesia Desak WTO Perhatikan Petani Kecil

“Indonesia mengenakan berbagai pembatasan impor, termasuk larangan dan penerapan kuota, demi mendukung produsen lokal. Namun pembatasan ini berdampak negatif terhadap para eksportir Australia.” Hal ini diungkap Departemen Pertanian dan Sumber Daya Air Australia saat dengar pendapat dengan parlemen mengenai hubungan dagang kedua negara. Perubahan tak terduga atas kebijakan impor ini berpengaruh terhadap berkurangnya kepastian bagi para eksportir Australia.

Meski demikian, pemerintah negeri kangguru itu juga mengakui bahwa keinginan Indonesia untuk swasembada pangan tersebut diimbangi dengan kepekaan terhadap fluktuasi harga-harga kebutuhan pokok. Kebijakan impor akan dijalankan untuk menjaga stabilitas harga, terutama ketika barang langka dan mahal, seperti yang terjadi pada komoditas garam. (inot)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan