border=

Konsumsi Susu Masyarakat Perlu Ditingkatkan

konsumsi susu
(Seorang pekerja industri susu rumahan tengah memerah susu di peternakan lokal. Rendahnya konsumsi susu masyarakat Indonesia, membuat pemerintah mendorong swasta untuk bermitra dengan peternak lokal agar dapat menggenjot produksi nasional. Sehingga harga susu dapat lebih murah dan terjangkau masyarakat. Foto : harnas.co)

Pomidor – Kendati konsumsi susu masyarakat Indonesia terus mengalami kenaikan rata-rata 5 persen per tahun, namun jumlah itu masih bisa ditingkatkan lagi. Apalagi tingkat konsumsi susu Indonesia masih di bawah negara-negara ASEAN lainnya, yakni baru sebesar 12,1 kilogram per kapita.

Hal itu dikatakan Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Abdul Kadir. Menurutnya, jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, kebiasaan minum susu Indonesia masih tertinggal. Singapura adalah negara pengkonsumsi susu terbesar di ASEAN dengan jumlah 48,6 kg per kapita. Kemudian berturut-turut disusul Malaysia 36,2 kg per kapita, Thailand 33,7 kg per kapita, Myanmar 26,7 kg per kapita dan Filipina 17,8 kg per kapita.

Rendahnya konsumsi susu masyarakat Indonesia ini selain karena belum terlalu membudidaya, juga disebabkan belum mampunya pelaku usaha ternak sapi perah untuk memenuhi kebutuhan susu nasional.

 border=

“Kalau kebutuhan konsumsi susu bisa dipenuhi dari peternak lokal, manfaatnya akan terasa sekali dan memperkuat posisi Indonesia di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), kata Abdul Kadir, di Jakarta, (8/8).

Namun Abdul Kadir juga menyadari belum mampunya industri susu nasional memenuhi kebutuhan dalam negeri karena kurangnya keberpihakan pemerintah kepada para peternak sapi, khususnya sapi perah. Sehingga profesi peternak hanya menjadi usaha sambilan dengan jumlah sapi minim. Rata-rata hanya tiga ekor per peternak.

“Hal ini berimbas pada produksi susu lokal yang rendah yang membuat harganya menjadi cukup mahal. Kemudian diperparah dengan masuknya susu sapi impor yang harganya lebih murah. Kenapa susu sapi impor lebih rendah, karena disubsidi oleh negara asalnya,” terangnya.

Saat ini kebutuhan susu nasional mencapai 4,45 juta ton. Sedangkan pelaku usaha susu sapi di Indonesia baru bisa memproduksi sebesar 852 ribu ton. Dengan demikian, produksi susu nasional baru dapat memenuhi sekitar seperlima kebutuhan dalam negeri.

“Ini yang coba kita tingkatkan. Jika tingkat konsumsi susu meningkat, maka dapat pula meningkatkan pemberdayaan UMKM,” tambahnya.

Baca juga :

Nilai Tukar Petani Jatim Tertinggi Nasional

Industri Pertanian Sudah Mendesak, Bos

Demi menggenjot produksi susu nasional, pemerintah mengajak berbagai pihak, termasuk swasta, untuk melakukan kemitraan dengan para peternak sapi perah lokal sebagai pemasok bahan baku. Kementrian Pertanian juga terus mendorong terbentuknya kelembagaan peternakan sapi perah rakyat. Sehingga mampu memiliki posisi tawar dengan Industri Pengolahan Susu, khususnya terkait dengan penetapan kriteria dan harga susu segar.

Beberapa perusahaan saat ini tengah membangun kemitraan dengan para peternak lokal. Salah satu di antaranya adalah Nestle. Perusahaan yang berkantor pusat di Swiss tersebut, sudah lebih dari 40 tahun mengembangkan program kemitraan yang melibatkan 27 ribu peternak sapi di propinsi Jawa Timur. Program ini membantu penyerapan produksi susu sebesar 500 ribu liter setiap harinya untuk diolah di pabrik susu di Kejayan, Kabupaten Pasuruan. (inot)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan