border=

Padi Organik Lebih Disukai Burung Pipit

padi organik perawatannya susah
(Pak Samat (kanan) usai memasang jaring pengaman padi organik miliknya di Cemorokandang, Kota Malang, dari serangan burung pipit. Meskipun sudah dipasang jaring, padi organik tetap menjadi jujukan burung pipit. Foto: Jasmito/pomidor.id)

Pomidor – Jumlah petani di mana-mana semakin hari semakin menurun jumlahnya, terlebih lagi petani dengan kemampuan spesial yaitu menanam secara organik. Di wilayah kota Malang saja, tak banyak yang tersisa dari mereka. Tak lebih dari hitungan jari sebelah tangan, yang tetap bertahan menanam dengan metode organik. Apalagi bertani padi organik. Bagi yang belum berpengalaman, menanam padi organik sangat sulit dan beresiko besar gagal panen karena serangan hama dan burung lebih intens di areal persawahan yang ditanami secara organik.

Namun, bagi orang yang suka bercocok tanam organik alias gila organik, mereka tidak akan peduli dengan profesi lain meski penghasilannya menggoda. Seperti halnya salah satu petani di Cemoro Kandang, Kota Malang, Pak Samat. Beliau mendedikasikan dirinya menjadi petani organik. Mulai kebun sayur, padi, peternakan ayam kampung, semua dikelola secara organik.

 border=

Saat ditemui di sawah miliknya pada hari Rabu Kemarin (9/8), pria yang menyebut dirinya sebagai lulusan S2 (Setengah Sepuh), sedang sibuk merapikan jaring pengaman padi dari serangan burung pipit. Pak Samat merupakan satu-satunya petani di sawah yang menanam padi tanpa bahan kimia sintetis di wilayah sekitarnya. Pupuk yang digunakan biasanya pupuk Petroganik di mix dengan pupuk kandang buatannya sendiri. Adapun pestisida yang digunakan adalah ramuan dari tumbuhan yang rasanya pahit dan memiliki bau menyengat, antara lain daun mimba, butrowali, bawang merah, mahoni, sere, dan lain-lain.

Saat ini yang menjadi masalah adalah air yang sulit di setting organik, karena berasal dari saluran irigasi. Sehingga sudah bercampur dengan berbagai bahan kimia sintetis. Namun pak Samat tetap mengusahakan bagaimana meminimalkan bahan kimia sintetis. Caranya dengan membuat empang atau waduk kecil penampung air. Di waduk tersebut ditanami azolla, kayu apu, dan eceng gondok dengan harapan dapat menguraikan material sintetis yang terkandung dalam air.

Selain masalah tersebut juga masalah tanaman sekitar lahan pak Samat yang dibudidayakan secara anorganik. Ketika menyemprot pestisida, sebagian akan terkena arus angin sehingga menuju ke padi pak Samat. Ke depannya, sawah milik pak Samat akan diborder dengan tanaman-tanaman perdu untuk meminimalkan sampainya percikan pestisida dari sawah disekitarnya.

 border=

“Terlalu besar resiko bercocok tanam organik, termasuk padi. Lihat saja burung pipit lebih banyak menyerang padi saya dibandingkan padi di sekitarnya. Padahal padi saya sudah ditutup dengan menggunakan jaring sedangkan padi lainnya tidak”, ucap lelaki yang bertempat tinggal di dekat MTs N 2 malang. Rasa padi organik memang lebih enak dibandingkan dengan yang menggunakan kimia sintetis. Hal ini ditandai dengan banyaknya burung pipit yang menyerbu padi organik dibandingkan padi yang lain.

Selain burung pipit, hama dan penyakit tanaman (HPT) yang sering melanda adalah walang sangit, wereng, penggerek batang, tikus dan berbagai jenis yang lain. Resiko kerusakan diperparah dengan lokasi sawah yang dikelilingi oleh padi yang dibudidayakan secara tidak organik. Ketika padi disekeliling disemprot kimia, otomatis hama yang tidak mati akan mencoba kabur. Kaburnya jelas ke padi yang tidak disemprot.

Di balik kesulitan bercocok tanam organik, ada kebahagiaan tersendiri saat padi yang ditanamnya dengan susah payah sudah bisa dipanen.

“Alhamdulillah sama yang di atas masih diberi rizki. Masih ada yang bisa dipanen. Harga jual juga tidak mengikuti harga beras di pasar tradisional yang naik turun. Saya menentukan harga sendiri, dan tentu harganya di atas beras yang dijual di pasar biasa. Biasanya pelanggan saya membeli beras untuk dijual lagi, namun ada juga yang dikonsumsi sendiri. Saat ada pembeli yang datang untuk membeli beras saya lagi, itu kebahagiaan tersendiri. Mereka kembali karena cocok dengan beras saya,” ujar laki-laki yang sehari-harinya menggunakan topi saat bekerja ini.

Baca juga :

Indonesia Berpeluang Jadi Eksportir Utama Beras Organik

Ada beberapa varietas padi yang beliau tanam. Harga jual juga bervariasi tergantung varietas. Beras pandanwangi dijual dengan harga Rp.12.500,00. Beras hitam Rp. 22.500,00. Beras merah untuk musim tanam yang kemarin tidak bisa dijual karena gagal panen. Serangan tikus dan burung pipit tidak bisa diatasi. Di bandingkan harga di supermarket dengan label organik memang jauh marginnya. Namun pak Samat, memang bertujuan agar harga bisa dijangkau oleh masyarakat dengan kualitas ekonomi menengah, bukan kalangan atas saja yang bisa menikmati beras sehat.

Selanjutnya, ia juga menjelaskan setengah bergurau bahwa seharusnya manusia bisa seperti burung pipit yang bisa memilah-milah makanan yang sehat. Makanan sehat tidak harus mahal. Dengan makanan sehat, berarti manusia sudah berinventasi kesehatan untuk hari tua. (ito)

6 Komentar

    • Iya mas.semua dibuat sendiri. Semua kita dapatkan dari alam. Jadi gak perlu buang2 duit lebih buat beli.heeeheee

  1. http://Www... Saya tertarik dengan kalimat gurauan pak Samat. Seharusnya manusia memang harus bisa memilah makanan yg sehat. Tanpa bahan kimia. Memang prosesnya tidak instan, tetapi makanan tanpa bahan kimia jauh lebih menyehatkan.

    Kalau jaman sekarang kayaknya memang sangat sulit menanam padi secara organik. Dan juga sudah sangat jarang yg melakukannya.
    Salut dengan pak Samat. Beliau masih tetap bertahan dg tanaman organiknya. ????

    • Beliau ini orang gila mas.gila organik. Apapun ditanam secara organik. Pekerjaan jga ditinggal demi nanam nanam organik. Saya juga salut dengan beliau

Tinggalkan Balasan