Pengolahan Limbah Ternak Sapi, Bisnis Berwawasan Lingkungan

pengolahan limbah ternak sapi
(Hadi Mulyo (kiri) saat ditemui di pengolahan limbah ternak sapi milik Gapoktan Dewi Ratih Desa Sukoanyar, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Foto: Jasmito/pomidor.id)

Pomidor – Di tengah minimnya petani dengan kualitas pemikiran yang inovatif, munculah satu sosok pria separuh baya dengan gaya bicara yang visioner. Hadi Mulyo merupakan lelaki desa yang mulai kecil akrab dengan suasana tani. Cara pandang ia tentang pertanian sudah jauh ke depan, termasuk memikirkan efek jangka panjang setiap kegiatan pertanian warga sekitar. Berbagai program pertanian ia jalankan. Termasuk saat ini, aksinya terfokus pada program pengolahan limbah ternak sapi warga sekitar.

Link Banner

Pria yang bertempat tinggal di Desa Sukoanyar, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang ini sudah bersiaga di tempat pengolahan limbah ternak milik Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Dewi Ratih saat dikunjungi Pomidor pada hari Senin (7/8). Dengan mengenakan baju putih-hijau dan celana hitam, dengan sopan beliau berjabat tangan dengan Pomidor. Menurut Hadi Mulyo, ia hampir setiap hari selalu berada di tempat pengolahan limbah ternak sapi tersebut bersama anggota kelompok tani yang lain. Kegiatan yang dilakukan tidak lain adalah menunggu warga sekitar mengantarkan kotoran sapi ke lahan pengolahan. Setelah itu, dengan cekatan meratakan kotoran sapi agar cepat kering.

“Saya melakukan semua ini bukan karena gaji, melainkan karena empati terhadap sungai irigasi yang tercemar karena warga sekitar membuang limbah ternak sapi ke sungai. Pencemaran tersebut berdampak buruk terhadap tanaman perkebunan dan sawah”, ujar pria yang sudah berusia kepala empat ini, sambil tersenyum sopan.

Ia menambahkan, usaha ini didasari murni untuk mengatasi pencemaran, bukan karena uang. Pencemaran air sungai kalau dibiarkan dalam jangka waktu lama, dapat mengakibatkan turunnya komoditas pertanian warga sekitar. Selain itu juga dapat menyebabkan pendangkalan sungai irigasi.

Kegiatan pengolahan limbah ternak sapi ini bermula pada tahun 2014 silam.  Awalnya, kegiatan pengolahan dilakukan di halaman rumahnya sendiri. Ia meminta beberapa warga yang memiliki sapi untuk membuang limbah ternak ke halaman rumahnya. Limbah tersebut antara lain berupa kotoran sapi, air kencing sapi, dan sisa-sisa makanan sapi.

Sisa-sisa kotoran sapi yang masih basah diguyur dengan mikroba starter sejenis EM4 untuk mempercepat proses fermentasi atau pembusukan sehingga bau busuk tidak menyengat kemana-mana. Proses fermentasi dipercepat dengan kondisi anaerob (tanpa oksigen), yakni dengan ditutup terpal. Proses ini berlangsung sekitar 3-4 minggu hingga siap dijadikan pupuk kandang. Pupuk kandang tersebut digunakan untuk memupuk tanaman di sawah dan kebun warga.

Usaha pria alumni SMA Negeri 8 Kota Malang ini tidak selamanya berjalan mulus. Halaman rumahnya masih terlalu sempit untuk menampung semua limbah ternak sapi warga sekitar. Dengan memutar otak bersama rekan di kelompok tani, akhirnya muncul ide untuk mengajukan proposal ke dinas peternakan Kabupaten Malang. Proposal tersebut mendapat respon positif dari dinas, dan bersedia menyediakan rumah olah limbah, kendaraan roda tiga untuk angkutan, dan mesin seleb kotoran sapi, serta perkakas pendukung lainnya. Usaha tersebut juga mendapat dukungan dari pemerintah desa. Dukungan desa diwujudkan dalam bentuk penyediaan lahan desa untuk kegiatan olah limbah.

Petani hebat yang pernah menjadi pendamping SMA Negeri Tumpang dalam program Adi Wiyata ini mengatakan, “Saat ini, pupuk kandang yang dihasilkan dari pengolahan sudah dalam skala besar dibandingkan sebelumnya. Banyak kelompok tani yang mengambil pupuk kandang dari sini. Bahkan Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung juga kadang-kadang mengambil dari sini”.

Baca juga :

Agritech Butuh Sosialisasi yang Baik

Media Tanam Tanah dari Bawah Rumpun Bambu

Harga jual pupuk kandang yang sudah diolah ini dijual relatif murah. Satu karung berisi sekitar 50 kilogram harganya Rp. 12.000,00. Sengaja tidak digunakan satuan kilogram dalam penjualan pupuk karena adanya kadar air dalam pupuk dan dikhawatirkan tidak akurat. Sekarang bobot 40 kg, ketika terkena panas berkurang bobotnya. Pupuk tersebut dijual murah karena bahan baku didapatkan secara gratis. Selain itu, juga dapat memancing petani untuk membeli pupuk kandang sehingga tidak bergantung pada pupuk sintetis.

Hadi Mulyo, sosok petani hebat karena bersedia peduli pada lingkungan sekitar. Petani-petani lain seharusnya memiliki jiwa kepedulian yang tinggi, memiliki kepekaan terhadap lingkungan. Jangan hanya berfokus pada hasil melimpah, masa panen cepat, dapat uang banyak. Namun, bagaimana caranya menjaga alam sehingga alam akan berbalik membantu. (ito)

Be the first to comment

Leave a Reply