Sayangi Lebah, Karena Tanpanya Manusia Bisa Punah

lebah madu
(Lebah mempunyai peranan penting dalam menjaga ketersediaan pangan bagi manusia. Tanpa jasa penyerbukan mereka, tanaman akan sulit berkembang dan berbuah. Foto : pinterest.com)
Pomidor.id – Tidak bisa dipungkiri, lebah, terutama lebah madu, memainkan peran yang sangat penting dalam kelangsungan hidup spesies kita. Sekitar 70 persen tumbuhan yang dikonsumsi manusia, bergantung pada penyerbukan serangga untuk berbuah dan lebah adalah salah satu serangga penyerbuk yang paling utama. Tanpa mereka, umat manusia kemungkinan besar akan menghadapi krisis kepunahan.

Maka tidak mengherankan pada tahun 2006, para ilmuwan cemas ketika mereka menyadari ada sesuatu yang janggal terjadi di sebagian wilayah di benua Amerika. Yaitu menghilangnya lebah madu. Sejak Oktober tahun itu, lebah pekerja tiba-tiba lenyap meninggalkan ratu mereka, larva-larva serta sarang-sarang penuh madu.

Tidak ada petunjuk pasti apakah lebah-lebah yang hilang itu mati atau ada sesuatu yang luar biasa terjadi pada sarang dan lingkungan mereka. Sama anehnya dengan pengamatan intensif selama berminggu-minggu setelah lenyapnya lebah pekerja, sarang yang mereka tinggalkan sama sekali tidak disentuh oleh serangga lain. Padahal sumber daya yang ada di sarang-sarang lebah ini biasanya menjadi incaran serangga-serangga semacam ngengat lilin yang doyan memakan larva lebah dan madunya.

Lebah bukanlah jenis serangga yang sepenuhnya cinta damai. Koloni lebah yang lebih besar tak jarang menginvasi koloni yang lebih kecil. Namun tidak demikian dengan fenomena yang terjadi di Amerika tersebut, sarang-sarang yang ditinggalkan tetap utuh. Tak ada serangga jenis apa pun yang mengambil alihnya, termasuk dari jenis sesama lebah.

Beberapa bulan kemudian, diperkirakan sekitar 162.000-218.000 koloni lebah hancur setelah kepergian tanpa jejak lebah-lebah pekerja. Peristiwa itu dikenal sebagai Colony Collapse Disorder atau CCD. Untunglah, epidemik yang mencapai puncaknya pada musim dingin 2006-2007 itu berangsur-angsur mereda. Namun populasi lebah madu tetap menghadapi ancaman serius.

Greg Hunt, seorang ahli lebah asal Universitas Purdue, mengatakan di tahun 2015, “Rata-rata 30 persen lebah madu lenyap di musim dingin.”

Pertanyaannya, mengapa ini bisa terjadi?

Umumnya para ilmuwan sepakat bahwa ada beberapa faktor penyebab hancurnya koloni lebah. Lebah sangat rentan terhadap parasit tungau, infeksi jamur serta berbagai pestisida yang kerap digunakan pada tanaman.

Sebuah studi yang dilakukan tahun ini menunjukkan sebagian besar lebah pernah bersentuhan langsung dengan pestisida, terutama yang sarangnya berada tak jauh dari tempat tinggal manusia. Misalnya saja pestisida yang digunakan oleh pemilik rumah dan penduduk di kota untuk mengusir nyamuk. Sebenarnya ada satu lagi penyebab menurunnya populasi lebah, yakni pemindahan lebah dalam skala besar untuk kepentingan ekonomi dan membantu mempercepat penyerbukan di sektor agrikultur. Itu semua ternyata membuat lebah stres dan menghambatnya berkembang biak.

Anda mungkin berpikir sayur dan buah-buahan yang kita makan merupakan hasil alami penyerbukan dari lebah liar yang tinggal di dekat ladang-ladang pertanian. Akan tetapi faktanya tidaklah demikian. Bisnis madu, ternyata hanya sepersekian keuntungan dari industri peternakan lebah secara keseluruhan. Setiap tahun, lebih dari satu juta koloni lebah diperjualbelikan di Amerika Serikat. Koloni-koloni itu kemudian diangkut ke berbagai penjuru Amerika, bahkan ada yang sampai dikirim lintas benua. Tak heran kalau lebah-lebah itu stres karena dicerabut secara paksa dari habitatnya.

Penelitian lain yang dilakukan tahun 2012, mempertegas hal ini. Efek transportasi jarak jauh pada lebah madu menunjukkan lebah mengalami masalah dengan kelenjar makanan mereka, yang berfungsi untuk memasok protein bagi semua anggota koloni. Ini berarti koloni yang diangkut kurang sehat dibandingkan dengan koloni-koloni yang tinggal di satu tempat. Selain itu, proses pengangkutan juga terbukti membuat lebah lebih rentan terhadap infeksi jamur. Pemindahan miliaran lebah pada waktu yang bersamaan memperparah penyebaran patogen ini.

Mayoritas lebah tinggal di alam terbuka yang penuh dengan keanekaragaman tanaman. Aktivitas penyerbukan yang mereka lakukan juga beragam. Namun ketika mereka dibawa ke lahan pertanian komersil yang monokultur, masalah besar pun terjadi. Siklus tanaman komersil biasanya sekali tanam, sekali panen, kemudian habis. Nah, saat paska panen inilah lebah-lebah akan ditinggalkan tanpa makanan.

Dengan tingkat kematian lebah madu yang tinggi serta perlakukan buruk yang mereka terima, kita mustinya merasa malu. Mengandalkan ketersediaan pangan pada organisme yang kita perlakukan begitu buruk, selain tidak pantas secara etika juga membahayakan kelangsungan umat manusia itu sendiri.

Baca juga :

Makanan Organik Lebih Murah? Betul!Betul!Betul!

Bakteri Ini Mampu Uraikan Sampah Plastik dalam 6 Minggu

Banyak petani organik kecil tidak repot-repot membawa lebah madu untuk penyerbukan di lahannya, karena lebah yang tinggal di sekitarnya melakukan semua pekerjaan itu. Hanya saja dalam pertanian monokultur skala besar, hal ini lebih sulit untuk diimplementasikan. Meski demikian, sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa menanam aneka bunga liar di sekitar tanaman yang dibudidayakan untuk tujuan komersil, membantu meningkatkan hasil panen petani secara signifikan.

Dengan membeli produk lokal, Anda sama saja membantu melestarikan lebah. Jika Anda memiliki lahan atau kebun, sebaiknya tanamlah bunga untuk menarik lebah maupun kupu-kupu demi membantu populasi lokal ini berkembang. Satu hal yang mungkin perlu Anda ketahui, kita ini sebenarnya lebih butuh lebah lho, ketimbang lebah membutuhkan kita. Maka sayangilah lebah, karena tanpanya manusia bisa punah. (inot)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan