border=

Bunga Tulip, Bunga Kehidupan Kebanggaan Belanda

kebun bunga tulip Belanda
(Bunga tulip kendati bukan asli Belanda, namun bunga eksotis penuh warna ini sekarang sudah identik dengan negeri kincir angin. Foto : pinterest.com)

Pomidor – Bunga tulip, Anda tentu tahu atau paling tidak pernah melihatnya entah itu di gambar, poster, televisi atau bahkan melihatnya langsung di Belanda. Ya, bunga tulip adalah bunga khas Belanda sekaligus juga bunga yang sangat dibanggakan warga negeri kincir angin tersebut.

Bunga tulip merupakan bagian dari keluarga Liliaceae dan termasuk 100 spesies tumbuhan berbunga yang memiliki umbi. Umumnya bunga ini mekar di musim semi. Daunnya memiliki lapisan lilin dan bunganya berukuran besar yang terdiri dari 6 helai daun mahkota. Tulip hasil persilangan tak lagi selalu berwarna tunggal seperti kuning, merah, hijau, oranye, biru atau ungu. Namun juga menghasilkan kombinasi dan gradasi warna.

 border=

Karena mekar di musim semi dan bunganya sangat indah, jutaan turis mengunjungi kebun-kebun yang membudidayakan bunga tulip di Belanda. Para turis ini akan sibuk berfoto ria dengan latar belakang warna warni ribuan bunga tulip yang menyegarkan mata. Tak jarang di antara mereka yang kemudian berbelanja tulip dalam jumlah besar untuk dibawa pulang atau sekedar oleh-oleh bagi kenalan dan sanak kerabat.

Pemerintah Belanda sendiri memiliki kepedulian yang amat besar pada bunga tulip karena bunga ini berandil besar menopang perekonomian negaranya. Setiap tahun tak kurang dari 9 miliar kuntum bunga tulip dipanen. Lebih dari 75 persen bunga tulip yang dipanen, diekspor ke luar negeri. Dengan harga berkisar US$ 3 – US$ 5 perkuntumnya, bisa dibayangkan betapa besar penghasilan yang dinikmati Belanda dari bisnis ini. Bahkan dari bisnis bunga tulip saja, sudah cukup untuk menempatkan Belanda sebagai pengekspor bunga potong terbesar di dunia.

bunga tulipKendati menjadi ikon Belanda, namun sesungguhnya tulip bukan spesies bunga asli Belanda. Tulip asalnya tumbuh liar di pegunungan Pamir, Hindu Kush yang masih berada di kawasan Himalaya. Selama berabad-abad, tulip menjadi simbok keindahan dan dicintai penduduk yang tinggal di tempat yang sekarang dikenal India, Pakistan dan Afghanistan. Baru pada masa Kekhalifahan Utsmaniyah (Ottoman) Turki, bunga tulip menyebar ke berbagai penjuru dunia. Hal ini karena para penguasa dinasti Utsmaniyah begitu mengagumi keindahan tulip dan mewajibkan setiap taman di istana dihiasi bunga tulip. Bukan suatu kebetulan pula kalau nama tulip kemudian diasosiasikan dengan nama turban atau sorban.

 border=

Pada abad ke-16, Ogier Ghiselin de Busbecq, menjadi duta besar Habsburg (Kekaisaran Austria) untuk Kekhalifan Utsmaniyah. Saat menghadap Sultan Turki, Suleyman I, yang merupakan penggemar berat tulip, sang duta besar dihadiahi umbi bibit bunga tulip untuk dibawa ke Wina.

De Busbecq kemudian memberikan bibit tersebut ke seorang temannya ahli botani, Charles d’Écluse, yang bekerja di kebun kaisar Austria di Wina. Saat d’Écluse meninggalkan Wina untuk menerima tawaran mengajar di sebuah universitas di Leiden, Belanda, ia membawa serta beberapa bibit berupa umbi tulip itu dan menanamnya di sana.

Sebagai direktur kebun botani di Leiden, ia leluasa melakukan eksperimen dengan bunga eksotis ini. Eksperimennya berhasil dan menjadikan bunga tulip incaran kaum kaya dan bangsawan karena memiliki bunga tulip bisa menaikkan gengsi atau mempertegas status sosial mereka.

Mengingat posisinya sebagai penegas simbol status sosial, bunga tulip lalu menjadi komoditas yang nilai ekonomisnya sangat tinggi. Harganya melambung gila-gilaan. Ada satu varietas tulip paling mahal, yakni Semper Augustus, yang nilainya sama dengan satu rumah di Amsterdam.

kebun bunga tulipMelihat fenomena ini, tak heran jika kemudian orang-orang Eropa, khususnya Belanda, berlomba-lomba membeli benih umbi bunga tulip untuk dibudidayakan. Sebagian di antara mereka bahkan rela menukar barang-barang berharga mereka untuk sebiji umbi benih tulip. Padahal banyak dari mereka yang tidak tahu teknis menanamnya.

Kalau pun ada di antara mereka yang sukses membudidayakannya, kondisinya tetap tidak menguntungkan. Pasalnya, terlalu banyak orang yang menanam bunga tulip sehingga terjadi over supply di pasar yang membuat harganya terjun bebas. Di tahun 1637, keadaan lebih mengenaskan lagi. Hanya dalam waktu semalam, bunga tulip yang sempat menjadi primadona kaum jetset Eropa, tiba-tiba menjadi barang yang sama sekali tidak ada harganya. Banyak orang jatuh miskin dalam semalam gara-gara si tulip.

Fenomena ini mengingatkan kita pada trend bunga gelombang cinta yang pernah heboh di Indonesia. Sempat dihargai satu mobil mercy, satu pot besar bunga gelombang cinta kini nilainya tak lebih dari bunga hias biasa. Latah atau berprinsip pokoknya hajar bleh dalam bisnis, memang ibarat judi. Anda bisa jadi OKB tapi bisa juga bankrut dalam hitungan jam.

Baca juga :

Termitomyces, Jamur Edibel Terbesar di Dunia

Kalau Rumput Liar Bisa Ngomong …

Balik ke laptop, eh ke tulip. Walau pun pernah mengacaukan kehidupan sosial ekonomi masyarakat beberapa abad lalu, namun bunga tulip juga menjadi penyelamat puluhan ribu orang Belanda pada Perang Dunia II. Ketika pasukan Sekutu menderita kekalahan dari Nazi Jerman di pertempuran Arnheim, sebagian wilayah Belanda terisolir karena diblokade tentara Jerman. Akibatnya, suplai makanan pun terhenti ke daerah-daerah yang diisolir.

umbi bunga tulip
Umbi bunga tulip yang pernah menyelamatkan banyak orang Belanda di PD II. Foto : pixabay.com)

Parahnya, musim dingin tiba tak lama setelahnya. Kelaparan massal, yang di Belanda dikenal dengan sebutan “Hongerwinter”, melanda wilayah-wilayah yang diblokade dan menyebabkan korban jiwa 22 ribu orang.

Selama masa Perang Dunia II, para petani tulip Belanda menghentikan sementara aktivitas menanam bunga. Bibit umbi tulip yang ada mereka simpan di tempat-tempat kering. Pemerintah setempat lalu memutuskan untuk mendistribusikan umbi yang seharusnya untuk bibit itu sebagai pengganti makanan dan meminta para petani untuk menjualnya.

Bibit umbi tulip ternyata bisa dimakan dan mudah dimasak. Soal rasa mungkin tidak enak, namun umbi tersebut terbukti menyelamatkan banyak orang dari kelaparan. (inot)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan