China Berencana Produksi Daging Palsu. Mau?

daging palsu
(Seorang konsumen di China tengah memilih daging di supermarket. Pemerintah China berencana memproduksi daging buatan secara besar-besaran. Foto : dw.com)

Pomidor – Untuk mencegah percepatan perubahan iklim serta mencegah berbagai penyakit yang diakibatkannya, pemerintah China berinisiatif membuat terobosan baru. Yakni menciptakan daging buatan atau daging palsu. Seandainya benar-benar menjadi kenyataan, ini sih memang merupakan terobosan yang luar biasa. Masalahnya nanti, apakah banyak orang yang mau perut yang keroncongan ditambal dengan daging palsu?

Link Banner

Semangka abal-abal, daging bebek yang dibikin seolah daging sapi dengan merendamnya di dalam air kencing kambing, sampai telur berbahan resin, adalah sebagian contoh kreatifnya orang-orang China mengakali makanan. Tentu saja ini sempat membuat dunia gaduh beberapa tahun lalu. Beritanya bahkan menjadi headline selama berminggu-minggu di seantero jagat. Para kritikus menyatakan bahwa kecenderungan negara ini melakukan pembajakan sudah keterlaluan. Tak hanya barang, makanan pun hendak pula dibikin kawe-kawean.

Untunglah konsumen di China sendiri juga tidak setuju dengan adanya rencana membuat daging palsu ini. Mereka protes keras. Mereka menuntut pemerintahnya agar membenahi standar keamanan di sektor makanan. Meski demikian, di saat yang bersamaan pemerintah China sesungguhnya menyokong penyediaan “daging bersih” yang mendapat dukungan kuat dari beberapa aktivis lingkungan.

Menurut koresponden Deutsche Welle, Frank Sieren, yang sudah tinggal lebih dari 20 tahun di negeri tirai bambu tersebut, baru-baru ini terjadi kesepakatan dengan Israel bahwa China akan berinvestasi sebesar US$ 300 juta untuk memulai produksi daging palsu di laboratorium.

Daging palsu itu terbuat dari sel induk yang dikembangkan dalam larutan bebas kuman sehingga tidak perlu lagi antibiotik. Pendukung daging buatan ini mengatakan tidak ada perbedaan baik rasa maupun kekenyalannya dengan daging yang asli. Namun tampaknya klaim mereka tentang “daging bersih” itu tak akan mudah diterima konsumen. Lha wong daging dari substitusi kedelai saja mereka enggan, apalagi ini daging yang tak tentu asal muasalnya.

“Daging bersih” ini memiliki potensi besar, kata para aktivis lingkungan dan perlindungan binatang. Tak hanya karena kita tidak perlu membunuh binatang lagi, tapi juga akan lebih baik bagi planet ini. Sebab, tanpa konsumsi daging riil maka tak perlu ada peternakan. Ini berarti lebih sedikit penggunaan air, tak ada lagi penggundulan hutan yang menyebabkan efek rumah kaca. Selain itu, daging buatan juga menjadi alternatif yang lebih manusiawi untuk memproduksi daging secara masal.

Bruce Friedrich dari Good Food Institute, yang melakukan penelitian tentang “daging bersih” dan alternatif nabati pengganti daging, menyambut baik kesepakatan antara China dan Israel. Ia mengatakan pihaknya menawarkan “peluang pasar yang sangat besar”. Dana investasi yang disediakan China bisa saja akan menggerakkan spesialisasi teknologi di bidang tersebut.

Entah apakah China berharap menciptakan trend berternak daging di laboratorium sekedar mengubah citranya sebagai salah satu negara penghasil polusi terbesar atau tidak, semuanya masih tanda tanya. Namun yang jelas, masa depan negerinya Mao tersebut tergantung di sini. Tahun lalu, Beijing meluncurkan kampanye mengurangi konsumsi daging di kalangan warganya hingga 50 persen. Sayangnya, kampanye ambisius itu masih jauh panggang dari api alias sulit dicapai. Sejak kenaikan pertumbuhan ekonomi, konsumsi daging di kalangan penduduk meningkat pula secara pesat.

Di awal-awal mengadopsi pasar terbuka di tahun 1982, orang China rata-rata mengkonsumsi daging 13 kg per tahun. Tahun ini melonjak menjadi rata-rata 63 kg per tahun. Konsumsi daging yang melesat ini (termasuk pula konsumsi gula dan alkohol), menyebabkan peningkatan diabetes hingga 10 kali lipat dibandingkan 30 tahun lalu. Sekitar 114 juta penduduk China menderita diabetes, tertinggi di seluruh dunia.

Baca juga :

Aussie Disarankan Banyak-Banyak Makan Daging Kangguru

China Ijinkan Impor Tanaman Produk Rekayasa Genetika

“Daging bersih” dianggap bisa menjadi solusi karena dinilai relatif lebih rendah kolesterol dan lemak sehingga jauh lebih sehat untuk dikonsumsi. Selain itu, dengan memproduksi daging semacam ini juga akan mengurangi ketergantungan China pada impor daging dari Australia, Amerika Serikat, dan Jerman. China saat ini mengimpor daging senilai US$ 13,5 miliar setiap tahun dan angka ini akan terus meningkat.

Problem utama pemerintah China adalah banyak orang yang enggan mengkonsumsi daging palsu ini. Berbagai kritik yang beredar di dunia maya mengungkapkan hal ini tidaklah wajar dan tentunya tidak sehat. Namun pemerintah sendiri bersikap pragmatis. Jika dagingnya murah tapi tetap enak, maka pasti akan dimakan.

Sebuah surat kabar di China belum lama ini mengajukan pertanyaan imajiner: Jika saja suatu saat Anda memiliki dua produk yang sama rasanya. Yang satu harganya murah dan tidak memicu emisi atau pencemaran lingkungan, sementara yang satunya lagi lebih mahal karena berasal dari daging binatang aslli yang disembelih.

Kira-kira mana yang bakal Anda pilih? (inot)

2 Komentar

    • Ya, itulah gan, kadang-kadang saking kreatifnya manusia, apa saja mau diciptakan. Kalau untuk barang, okelah artifisial. Tapi kalau untuk makanan, ya nanti dulu. Tapi ada baiknya kita lihat saja perkembangan daging palsu ini

Tinggalkan Balasan