border=

Energi Terbarukan untuk 139 Negara di Tahun 2050

energi terbarukan
(Menurut sebuah penelitian, 139 negara dapat mengadopsi energi terbarukan yang menghapus sama sekali penggunaan energi nuklir, fosil dan biofuel. Jika segera dipersiapkan, energi yang 100 persen terbarukan itu akan bisa dinikmati pada tahun 2050 mendatang. Foto : ecowatch.com)

Pomidor – Dua tahun lalu, Profesor Mark Jacobson bersama beberapa koleganya di Universitas Stanford, AS, mempublikasikan sebuah studi yang menjadi pembicaraan hangat para ilmuwan. Studi tersebut membeberkan bahwa sesungguhnya Amerika Serikat dapat beralih dari bahan bakar berbasis nuklir, biofuel dan fosil, menjadi energi terbarukan 100 persen pada tahun 2050.

Temuan Jacobson bersama 26 koleganya tersebut kini tak hanya berlaku untuk Amerika Serikat saja. Namun juga bisa diterapkan lebih luas. Melalui roadmap yang diterbitkan di jurnal ilmiah Joule, energi terbarukan bisa diadopsi 139 negara di seluruh dunia.

 border=

“Roadmap ini menunjukkan rencana spesifik utama yang bisa dilakukan setiap negara di dunia untuk menghindari kenaikan suhu hingga 1,5 derajad Celcius,” kata Mark Jacobson. Selain sebagai peneliti, Jacobson adalah direktur Program Atmosfer dan Energi di Universitan Stanford. Ia juga merupakan salah satu pendiri Solution Projects, sebuah LSM nirlaba di AS yang kerap menjadi penasehat program transisi menuju energi terbarukan.

Menurut studi tersebut, keberhasilan penerapan transisi ke energi terbarukan bergantung pada tenaga surya yang akan menyediakan 57,6 persen energi global. Kemudian 37,1 persen diperoleh dari angin, dan sisanya berasal dari energi lainnya seperti pembangkit listrik tenaga air, panas bumi dan gelombang air laut.

Sayangnya, biaya transisi energi ini sangatlah mahal. Diperkirakan menyentuh angka sekitar US$124,7 triliun. Wow, jumlah yang tentu saja amat fantastis. Akan tetapi rekan Jacobson, Rob Jordan, mengatakan biaya itu masih terhitung murah karena cahaya matahari dan angin dapat diperoleh secara gratis.

 border=

“Biaya keseluruhan berkembang dari waktu ke waktu, termasuk untuk operasional, pemeliharaan, transmisi dan biaya penyimpanan. Kalau dikalkulasi total, sama saja dengan ongkos untuk membangun infrastruktur energi fosil,” kata Jordan.

Tak hanya itu, industri energi terbarukan juga membuka banyak lapangan pekerjaan. Di Amerika Serikat saja, karyawan yang diperkerjakan di industri energi tenaga surya masih lebih banyak daripada gabungan mereka yang bekerja di sektor batu bara, minyak maupun gas alam. Bahkan dari penelitian yang dilakukan Lawrence Berkeley National Lab, menunjukkan hasil yang positif. Yakni meningkatnya penggunaan pembangkit tenaga surya dan pembangkit tenaga angin berkorelasi langsung dengan menurunnya tingkat kematian dini ribuan orang. Sehingga menghemat anggaran milyaran dolar AS sepanjang tahun 2007 hingga 2015 untuk biaya perawatan kesehatan yang berkaitan dengan lingkungan.

“Yang menakjubkan dari transisi energi semacam ini akan menciptakan lebih dari 20 juta pekerjaan di seluruh dunia. Selain itu juga bisa menghemat dana pengguna energi serta memangkas lebih dari 3 persen GDP anggaran yang harus dikeluarkan setiap negara hanya untuk biaya perawatan kesehatan akibat polusi udara,” tambah Jacobson.

139 negara yang disebut dalam penelitian Jacobson cs adalah negara-negara penghasil 99 persen polutan karbon dioksida berdasarkan data Badan Energi Internasional. Negara-negara tersebut juga memiliki sumber daya alam yang bisa diubah menjadi energi terbarukan.

Baca juga :

Ilmuwan Rusia Ciptakan Bahan Alami Pengganti Plastik

Agri Hi-Tech Bisa Cegah Perang Rebutan SDA di Masa Depan

Proyek energi terbarukan ini membutuhkan modernisasi atau elektrifikasi besar-besaran seluruh sektor energi di setiap negara. Ini meliputi pula sektor transportasi, listrik, industri pertanian, perkebunan dan perikanan serta sektor-sektor publik lainnya. Konsumen di seluruh dunia juga harus beralih ke pompa elektrik, kompor listrik, kendaraan listrik, dsb.

Tentu saja proyek ambisius Jacobson dkk tentang energi terbarukan ini mendapat kritikan dari banyak pihak. Apalagi dalam proyek jangka panjang mereka tentang energi di masa depan, mereka sama sekali meniadakan sumber energi dari nuklir, batubara, gas alam dan biofuel. Hal ini tentu akan menimbulkan guncangan hebat sektor energi di seluruh dunia.

Meski demikian, Jacobson dan rekan-rekannya tetap bersikukuh menolak penggunaan bahan bakar berbasis nuklir dan fosil. Nuklir, misalnya, sumber energi ini membutuhkan biaya tinggi serta rentan resiko kebocoran. Sementara biofuel memproduksi lebih banyak karbon daripada angin, air atau tenaga surya. Sedangkan bahan bakar fosil, sudah jelas tidak ramah lingkungan. (inot)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan