Makanan Halal Semakin Diminati di Jepang

pameran makanan halal di Jepang
(Seorang pengunjung mengamati pameran produk makanan halal di Jepang. Banyaknya warga dan wisatawan Muslim, membuat industri makanan halal berkembang pesat di Jepang. Foto : japantimes.co.jp)

Pomidor – Sejalan dengan kian banyaknya orang asing, termasuk pengunjung Muslim ke Jepang, mulai bermunculan upaya untuk mengakomodasi kebutuhan mereka selama di Jepang. Salah satunya adalah penyediaan makanan yang tidak bertentangan dengan keyakinan mereka, yakni makanan halal.

Menurut data yang dirilis Badan Pariwisasta Nasional Jepang, jumlah pengunjung dari Indonesia, negara dengan populasi penduduk Muslim terbesar di dunia, sudah melampaui 270 ribu turis pada tahun 2016. Atau naik 32,1 persen dibanding tahun sebelumnya. Karena mayoritas turis asal Indonesia beragama Islam, produk makanan halal tentu banyak dicari.

Nasser Mohammed Alomaim, Direktur Institut Islam Arab di Tokyo, mengatakan minat masyarakat Jepang terhadap budaya Islam meningkat pesat. Minat tersebut meliputi pula mengenai makanan yang dilarang dan yang boleh dikonsumsi orang Muslim atau makanan halal. Insititut Islam Arab di Tokyo sendiri memiliki 300 mahasiswa Jepang yang belajar bahasa Arab.

“Salah satu mahasiswa kami mengakui bahwa ia mulai tertarik mempelajari bahasa Arab karena ia sering sekali ditanyai makanan ini halal  atau tidak oleh pelanggan di restoran tempatnya bekerja,” kata Alomaim kepada Japan Times. Insititut Islam Arab di Tokyo sendiri memiliki 300 mahasiswa Jepang yang belajar bahasa Arab.

Institut ini beberapa kali pernah menggelar simposium dan seminar mengenai ekonomi, budaya dan dialog antar peradaban. Acara yang membahas budaya dan makanan Islam juga diminati masyarakat Jepang. Terlebih-lebih bagi para pengusaha yang memiliki bisnis ekspor produk makanan ke Timur Tengah.

Kata halal merujuk pada hal-hal yang diperbolehkan dalam hukum Islam, termasuk aturan ketat tentang makanan dan cara penyajiannya. Misalnya saja, daging ternak yang diproses dan kemudian diberi label halal, harus dipisahkan pemrosesannya dengan daging babi atau hewan terlarang lainnya. Regulasi mengenai hal ini sudah dirilis oleh Kementrian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Jepang.

Di bulan Ramadan lalu, seorang pekerja asal Malaysia tengah menikmati buka puasa di restoran Panga di Tokyo. Saat itu ia, Taufik, 27 tahun, datang ke restoran yang menyajikan daging panggang bersama isttrinya, Aqilah.

Bagi Taufik, menu makanan yang mencantumkan logo halal sangat membantunya ketika makan di luar. Ia sendiri sudah 7 tahun ia bekerja di Jepang.

“Saya sangat memperhatikan apakah makanan yang saya makan itu halal atau tidak,” ujarnya. Namun demikian, ia mengaku tidak terlalu peduli dengan adanya pelayanan untuk minuman beralkohol bagi pelanggan lainnya.

Pada prinsipnya, Asosiasi Muslim Jepang di Tokyo, hanya mengeluarkan sertifikasi halal pada berbagai produk yang ditujukan untuk dijual ke negara-negara berpenduduk Muslim. Sebelum memberi label halal, selalu dilakukan inspeksi menyeluruh sesuai syariat Islam.

Sedangkan untuk pasar domestik, pihak Asosiasi sebatas memberi rekomendasi bagi umat Islam jika makanan, layanan dan fasilitas telah memenuhi syarat. Pasalnya, pemberian label halal pada produk makanan yang dipasarkan di Jepang akan mengundang kontroversi. Bagi sebagian warga Jepang, pelabelan halal terlalu berkonotasi religius dan memihak agama tertentu.

Baca juga :

Kelangkaan Daging Sapi Ancam Nigeria

Qatar Pastikan Keamanan Makanan bagi Para Pelajar

Toshio Endo, Eksekutif Direktur Asosiasi Muslim Jepang, memilih jalan tengah. Ia merekomendasikan penggunaan kalimat “sesuai untuk Muslim” atau “disajikan dengan cara Muslim”. Selain menghindari kontroversi, sekedar pelabelan halal dari bahan-bahannya namun tanpa diimbangi dengan memperhatikan aspek lain seperti tata cara penyajiannya, juga membuat was-was pengunjung Muslim.

Sementara itu, Akihiro Shugo, salah satu pendiri Halal Media Japan Co. yang menyediakan informasi halal bagi warga dan turis Muslim, menyatakan dukungannya untuk pemberian keterangan makanan halal.

“Keinginan Jepang untuk menarik 40 juta wisatawan di tahun 2020, tidak akan tercapai tanpa memberi perhatian yang layak kepada populasi Muslim yang sekarang jumlahnya melebihi seperempat penduduk dunia,” tegasnya. (inot)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan