Penggunaan Bahan Kimia untuk Pertanian di Afrika Mencemaskan

penggunaan bahan kimia untuk pertanian berbahaya
(Penggunaan bahan kimia di sektor pertanian Ghana, mulai dipertanyakan. Selain dinilai berlebihan dan sering kali tidak tepat sasaran, penggunaan bahan-bahan berbahaya tersebut juga mengancam keselamatan konsumennya. Foto : geneticliteracyproject.org).

Pomidor – Nyaris sama dengan di Indonesia, sebagian negara Afrika bergantung pada penggunaan bahan kimia untuk pertanian. Mulai dari pengendalian rumput, jamur hingga hama pengganggu tanaman, banyak menggunakan bahan kimia berbahaya. Bahkan penggunaan bahan-bahan yang tidak ramah lingkungan ini sudah pada taraf mencemaskan serta mengancam kesehatan konsumen.

Hal ini diungkapkan para pakar pertanian dan lingkungan mengenai perkembangan industri pertanian di Afrika. Mereka khawatir atas apa yang disebut sebagai “meningkatnya penggunaan agro-kimia yang berlebihan dan tidak tepat sasaran” oleh petani di benua hitam tersebut. Jika tidak dikendalikan, efek dari penggunaan bahan kimia untuk pertanian ini bisa mengancam keselamatan jiwa konsumen dalam jangka panjang.

Muat Lebih

Bukan rahasia lagi bahwa penggunaan bahan kimia untuk pertanian, khususnya di sektor pertanian tanaman pangan, akan meninggalkan residu berbahaya yang tidak mudah hilang. Apalagi penggunaan bahan kimia kini tak lagi sekedar untuk menjaga tanaman dari serangan virus, jamur atau hama pengganggu, melainkan juga untuk mempercepat proses pematangan serta membuat tampilannya lebih menarik. Alhasil tanaman pun “mandi” bahan kimia sebelum sampai ke konsumen.

“Beberapa petani menggunakan bahan kimia tertentu untuk mempercepat warna merah pada tomat. Sebagian dari kita ketika ke pasar, tentu akan memilih tomat yang berwarna cerah karena sangat menarik dan mengundang selera makan. Padahal, di tomat itu samar-samar terlihat ada bubuk putih atau kekuningan. Pertanyaannya, berapa banyak dari kita yang sempat meluangkan waktu untuk mencucinya dan tidak tergoda untuk langsung memakannya?” demikian diungkapkan Konsultan Agrikultura, Aaron Attefa Ampofo kepada ghanamma.com.

Ampofo juga mengatakan ada persyaratan ketat petani tidak boleh menyemprot bahan kimia ke tanaman mereka dua minggu sebelum dipanen.

“Untuk pestisida, terutama insektisida, setiap dua minggu sekali Anda mungkin bisa menyemprotnya. Tapi jika sudah hampir 9 minggu, Anda harus menghentikan sama sekali penggunaan bahan kimia. Sehingga Anda memiliki setidaknya 12 sampai 21 hari sebelum panen untuk meminimalkan residu yang tertinggal,” seorang petugas pertanian di distrik Fanteakwa, Christian Zormelo, menambahkan.

Akan tetapi Zormelo mengakui banyak petani di sekitarnya yang melanggar standar ini sehingga dapat membahayakan kesehatan konsumen mereka.

“Bahkan ada yang tetap menyemprotkan bahan kimia meski besoknya bakal dipanen,” ujar Zormelo mengungkapkan praktek yang sering dilakukan petani di daerahnya.

Ia mencontohkan kadang-kadang ada pengepul kubis yang datang dan menekan petani untuk panen sehari setelah mereka meyemprot bahan kimia ke tanamannya. Para petani yang umumnya hidup miskin tak bisa berbuat banyak selain menuruti permintaan pengepul. Jadi ini murni masalah ekonomi.

penyemprotan bahan kimia ke tanamanSementara itu, sebuah penelitian dilakukan Hagar AlfiaNanabaro dari Universitas Sains dan Teknologi Kwame Nkrumah. Dalam penelitian itu terungkap penggunaan bahan kimia untuk pertanian banyak yang sudah melebihi ambang batas yang diperbolehkan. Termasuk di dalam sayur-sayuran yang dipilih secara acak.

“Sebagian besar sayuran mengandung berbagai pestisida dengan kadar residu yang berbeda-beda,” kata Hagar.

Di sisi lain, Ampofo menyadari peliknya situasi akibat banyaknya petani yang buta huruf dan tidak mengerti instruksi kesehatan.

“Kita memiliki masalah besar karena antara 30 sampai 70 persen petani yang menanam sayuran buta huruf. Hal ini membuat faktor-faktor yang terlibat dalam produksi pangan juga kian kompleks. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan, bahan kimia yang digunakan dalam pertanian tak lagi sesederhana dulu. Oleh karena itu, harus ada pendidikan minimal bagi petani untuk mengetahui bahan kimia apa yang dipakai dan kapan waktu yang tepat untuk memakainya,” jelasnya.

Baca juga :

Kenya Larang Penggunaan Kantong Plastik

Penggunaan Pestisida Mutlak Harus Dikendalikan

Untuk mengatasi pencemaran makanan oleh pestisida, mulai muncul tuntutan agar melarang penggunaan bahan kimia ke produksi pangan. Dr. Samuel Atta Mills, seorang petani sekaligus anggota parlemen Komenda Edina Eguafo Abrim (KEEA), adalah pionir yang mengajukan tuntutan tersebut.

“Kita harus melarang hal-hal seperti ini, melarang impor pestisida. Kita musti beralih ke pertanian organik. Siapa pun yang menangani hal ini haruslah orang yang tepat dan paham betul masalah ini. Tak perlulah kita bergantung pada bahan-bahan kimia. Negara-negara maju saja sudah banyak yang melarang penggunaannya ke makanan. Tapi kurang ajarnya, karena butuh uang, mereka malah mengirim bahan-bahan berbahaya itu ke sini,” ujarnya keras.

Sayangnya, tuntutan Dr. Mills ini mendapat perlawanan dari agen penjualan bahan kimia untuk pertanian.

“Percayalah, pertanian di negeri ini sudah berada pada tahapan industri yang tidak mungkin lagi meninggalkan pemakaian bahan kimia,” kata Fred Boampong dari Crop Life Ghana, sebuah asosiasi agen penjualan bahan kimia di Accra, ibukota Ghana. (inot)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan