border=

Libatkan Perempuan dalam Pengelolaan Sumber Air Bersih

libatkan perempuan dalam pengelolaan sumber air bersih
(Kaum perempuan adalah pihak yang paling susah ketika musim kemarau tiba. Mereka kadang harus berjalan jauh hanya sekedar untuk mengambil air bersih untuk kebutuhan keluarga. Foto : portalentera.wordpress.com)

Pomidor – Sekitar 30 persen penduduk bumi hingga saat ini masih belum memiliki akses air bersih dan 60 persen tidak memiliki akses sanitasi yang layak. Namun kurangnya akses pada sanitasi yang layak ini jauh lebih berpengaruh terhadap perempuan daripada laki-laki. Maka adalah tidak adil jika meniadakan keterlibatan mereka dalam pengambilan kebijakan untuk pengelolaan sumber air bersih.

Begitu pula dengan apa yang terjadi di sejumlah daerah di tanah air belakangan ini. Kekeringan di musim kemarau akibat pengelolaan sumber air bersih yang buruk, membuat kaum ibu harus pontang panting mencari air untuk mencukupi kebutuhan di rumah. Dalam beberapa tayangan di televisi, terlihat para perempuan adalah yang paling aktif membawa-bawa jerigen, ember besar atau wadah apa saja untuk menampung air bersih.

 border=

Jadi, benang merahnya di sini adalah keterkaitan yang amat fundamental antara air dan perempuan.

Dalam skala global, pada tahun 2015, memang ada peningkatan 68 persen akses penduduk bumi ke fasilitas sanitasi yang lebih baik, termasuk toilet umum, dibandingkan dengan 54 persen di tahun 1990. Meski demikian, masih ada 2,4 milyar penduduk yang belum juga memiliki toilet atau fasilitas MCK.

Ketiadaan akses ke sanitasi yang sehat ini memiliki dampak yang lebih berat pada perempuan. Kaum perempuan umumnya dibebani tanggung jawab menyediakan air untuk keperluan memasak, mencuci dan kebutuhan lainnya bagi seluruh keluarga. Keadaan akan lebih parah jika dalam keluarga itu tidak ada sarana air bersih. Maka para perempuan, atau emak-emak ini, yang pertama kali harus berjibaku mencari sumber air untuk dibawa ke rumah.

 border=

Tanggung jawab itu bertambah karena masih ada kewajiban untuk mengasuh anak, merawat orang tua dan orang sakit di rumah, membuat mereka rentan terserang penyakit. Lebih-lebih apabila sanitasi dasar yang layak masih jauh dari jangkauan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), akses terhadap air bersih, sanitasi yang baik serta pola hidup yang mengutamakan kebersihan, membantu mencegah penyebaran penyakit. Sebagai ilustrasi, diare menyebabkan kematian 1,5 juta penduduk di seluruh dunia setiap tahunnya. Padahal diare sebenarnya adalah penyakit yang tak terlalu sulit diatasi selama kita rutin menjaga kebersihan. Namun bagaimana bisa menjaga kebersihan, jika tidak ada atau minim akses air bersih?

Selain diare, sanitasi yang baik juga dapat menangkal cacingan, mencegah meluasnya penyebaran parasit dan bakteri merugikan di dalam tubuh. Karena itu meningkatkan akses terhadap sanitasi, baik itu di dalam rumah, fasilitas kesehatan maupun sekolah, sangatlah penting. Di laman resminya, WHO tak ketinggalan menekankan pula krusialnya pendidikan dasar mengenai kesehatan, khususnya pada kaum ibu dan anak-anak perempuan.

Lalu mengapa harus menitikberatkan pada perempuan tentang krusialnya pendidikan kesehatan ini?

Di negara-negara berkembang, tak terkecuali Indonesia, perempuan memegang peranan kunci untuk hidup sehat bagi dirinya serta keluarganya. Ironisnya, mereka juga yang paling sering menjadi obyek di dalam keluarga, apalagi jika didominasi anggota keluarga laki-laki. Mereka memiliki tanggung jawab besar tapi tak diimbangi dengan hak yang sama.

Dengan pendidikan, perempuan dapat mengubah cara pandang keluarga. Biasanya di negara-negara berkembang, semakin banyak anggota keluarga maka semakin besar kemungkinan mereka hidup dalam kungkungan kemiskinan. Jika orang tua tak mampu menyekolahkan atau memberikan pendidikan yang memadai bagi anak-anaknya, ketika sudah berkeluarga kelak, anak-anak ini akan meneruskan apa yang dilakukan orang tuanya. Memiliki anak banyak. Siklus ini bakal terus berulang dari generasi ke generasi.

Akan tetapi keadaan akan berbeda jika anak-anak perempuan diberi kesempatan mengenyam pendidikan di sekolah setara dengan anak laki-laki. Mereka cenderung mempunyai peluang lebih besar keluar dari spiral kemiskinan tersebut. Dengan bekal pendidikan, mereka bisa meningkatkan penghasilannya. Penghasilan yang lebih tinggi serta lebih sedikit anak, akan membuat kaum perempuan leluasa memberi jaminan kesehatan bagi keluarganya.

Di samping itu, pendidikan juga membuat kaum perempuan lebih peduli dan terlibat aktif dalam permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Termasuk kesadaran betapa pentingnya ketersediaan air bersih dan sanitasi yang layak.

Baca juga : 

Peduli Lingkungan? Biarkan Anak Anda Bermain di Luar

Milyaran Penduduk Bumi Kesulitan Air Bersih

ibu-ibu repot mencari air bersih
Lagi-lagi kaum perempuanlah yang harus memikul tanggung jawab mencari air bersih, seperti di India ini.

Oleh sebab itu, pendekatan sensitif gender harus disertakan dalam pengelolaan sumber air bersih. Kaum perempuan, sebagai pihak yang paling berperan dalam mencari dan mengelola air di dalam rumah tangga, mustinya menjadi figur sentral untuk memperbaiki akses terhadap air bersih dan sanitasi yang baik. Mereka seharusnya diberi kewenangan yang lebih luas untuk berpartisipasi dalam pembangunan di komunitasnya. Mereka seyogyanya juga aktif dilibatkan dalam pengambilan kebijakan mengenai pengelolaan sumber daya air di wilayahnya masing-masing.

Pendekatan dari sisi perempuan, barangkali bisa banyak membantu mengurangi masalah kekeringan yang terjadi hampir setiap tahun. Keterikatan mereka dengan alam, sampai ada istilah Mother Nature, bisa saja memunculkan sudut pandang yang berbeda tapi tetap efektif untuk mengurangi persoalan kekeringan.

Sehingga ketika musim kemarau tiba, sudah jarang lagi tampak pemandangan ganjil. Ibu-ibu antri air bersih dengan jerigen di tangan kanan kiri, sementara kaum bapak nongkrong santai sambil ngudud di halaman rumah. Padahal kaum laki-lakilah yang sesungguhnya paling bertanggung jawab atas kebijakan yang tidak tepat mengenai pengelolaan sumber air bersih serta eksploitasi berlebihan terhadap lingkungan.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan