Sistem Manajemen Manufaktur Ala Toyota Untuk Pertanian

sistem manajemen manufaktur di sektor perrtanian
(Toyota menerapkan sistem manajemen manufaktur untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas di sektor pertanian. Foto : japantimes.co.jp)

Pomidor – Untuk meningkatkan efisiensi kerja dan produktivitas petani, Toyota Motor Corp. menerapkan sistem manajemen manufaktur ke sektor pertanian. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertanian di daerah Yatomi, Prefektur Aichi, sudah merasakan manfaat penerapan sistem manajemen yang telah digunakan selama puluhan tahun di perusahaan otomotif raksasa asal Jepang itu.

Link Banner

Adalah Nabehachi Nousan Co., perusahaan pertanian yang mengadopsi sistem produksi rancangan Toyota  untuk memantau operasi bisnis pertaniannya secara elektronik. Nabehachi Nousan sendiri merupakan perusahaan pertanian yang banyak menggandeng petani-petani kecil. Areal pengolahan lahannya seluas sekitar 200 hektar yang terdiri dari 2 ribu lot atau kapling. Untuk meningkatkan efisiensi, perusahaan ini menerapkan sistem manajemen manufaktur Toyota yang memanfaatkan GPS.

Sistem ala Toyota ini terlebih dahulu menyusun rencana produksi maksimal berdasarkan data masa lalu. Untuk penanaman padi, misalnya. Perangkat yang digunakan untuk memantau, baik melalui smartphone maupun komputer, layarnya akan menunjukkan warna berbeda yang mencerminkan tingkat perkembangan padi di sawah. Hal ini akan memudahkan serta mempercepat pekerjaan petani untuk menangani tanamannya.

Pemanfaatan sistem manajemen yang demikian akan membuat pekerjaan petani menjadi jauh lebih ringan. Mereka tinggal memasukkan data perkembangan tanaman mereka ke smartphone. Dalam sistem ini, Toyota juga melakukan otomatisasi penyusunan laporan harian sehingga mengurangi beban pekerjaan yang sering kali menyita waktu.

Dengan menduplikasi konsep “tepat waktu” yang lazim diterapkan perusahaan otomotif, sistem tersebut memangkas 30 persen biaya bibit padi karena Nabehachi Nousan tak perlu lagi menyisihkan dana untuk menyediakan bibit cadangan.

Menurut CEO Nabehachi Nousan, Kiharu Yagi, penyediaan bibit cadangan merupakan hal yang “wajib” dilakukan para petani di Jepang. Namun dengan penerapan sistem yang dirancang Toyota ini, kebutuhan akan bibit cadangan dapat ditekan hingga 90 persen.

Di sisi lain, para petani juga akan menerima instruksi dari karyawan Toyota tentang pentingnya menjalankan kaizen (perbaikan terus menerus) dalam operasi pekerjaan mereka sehari-hari.

“Ada perubahan pola pikir para petani terhadap pekerjaan mereka,” kata Yagi dikutip dari japantimes.co.jp. Ia mengungkapkan mereka kini selalu menggunakan data akumulasi untuk terus memperbaiki pekerjaan bertani mereka.

Baca juga :

Agritech Butuh Sosialisasi yang Baik

Drone Mulai Banyak Digunakan untuk Pertanian

Mengingat para petani Jepang yang umumnya didominasi generasi tua terus berkurang, kebutuhan untuk efisiensi pekerjaan di sektor pertanian meningkat pula. Nabehachi Nousan hanyalah salah satu contoh perusahaan yang memanfaatkan teknologi untuk terus meningkatkan efisiensi serta produktivitas bisnis mereka.

Hingga akhir Juli lalu, ada 35 lagi perusahaan di Jepang yang bergerak di bidang pertanian yang menerapkan sistem manajemen manufaktur Toyota. Perusahaan-perusahaan tersebut tersebar di sentra-sentra pertanian seperti Prefektur Hokkaido, Fukushima dan Nagano. Didorong oleh hasil yang menggembirakan ini, Toyota berencana merilis sistem tersebut secara besar-besaran dalam waktu tiga tahun ke depan.

“Bersama-sama dengan para petani, kami akan menjawab tantangan untuk mewujudkan pertanian berteknologi tinggi di masa depan,” kata Shigeki Tomoyama, pejabat senior Toyota yang ditugaskan untuk menangani sistem tersebut. (inot)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan