border=

Indikasi Geografis Jamin Kualitas & Keaslian Produk

indikasi geografis jamin kualitas produk
(Berbagai produk olahan tempe khas Malang. Jika didaftarkan sertifikasi Indikasi Geografis, makanan berbahan baku kedelai ini tak akan mudah diklaim negara lain. Foto : blogger Malang)

Pomidor – Selama ini jika kita membeli produk pertanian, utamanya buah atau produk olahan makanan, kita sering tertarik pada embel-embel nama di belakang nama barang. Misalnya saja, Jeruk Bali, Rambutan Binjai, Duku Palembang, Matoa Papua, Coto Makassar, Tempe Malang, Sate Madura, dlsb. Embel-embel nama tersebut menunjukkan daerah di mana barang berasal. Untuk menertibkan penggunaan embel-embel nama tersebut, pemerintah akan memberikan perlindungan berupa pemberian Indikasi Geografis yang dikeluarkan Kementrian Hukum dan HAM.

Indikasi Geografis ini mirip dengan hak paten pada produk-produk intelektual atau copy right. Bedanya, pemberian Indikasi Geografis mencakup pengertian yang lebih luas. Selain wilayah geografis asal barang, faktor alam, budaya, manusia atau kombinasi ketiganya, juga menjadi acuan utama yang dipertimbangkan dalam pemberian Indikasi Geografis. Hal ini penting dilakukan agar di kemudian hari tidak terjadi tumpang tindih klaim atas suatu barang dengan negara lain.

 border=

Pemerintah sebenarnya sudah lama menyediakan payung hukum untuk ini. Melalui Perppu No. 51 tahun 2007, ada kepastian perlindungan hukum terhadap nama geografis asal produk, jaminan keaslian asal usul produk serta peningkatan penerimaan produsen.

Sayangnya sejak 10 tahun diterbitkan, baru ada sekitar 40-an produk yang memiliki sertifikasi Indikasi Geografis. Beberapa produk yang sudah memiliki sertifikat IG tersebut di antaranya adalah Kopi Kintamani, Kopi Arabika Gayo, Madu Sumbawa, Lada Putih Muntok, Lada Hitam Lampung, dll.

Minimnya jumlah produk barang yang sudah bersertifikat IG, bisa saja karena mayoritas masyarakat kita tak menganggapnya terlalu penting.

 border=

Kita justru sering beranggapan ngapain ribet-ribet cari sertifikat untuk sekedar menyatakan kalau rendang itu asalnya dari Padang, Sumatera Barat. Ya memang sudah dari sononya rendang itu berasal dari Padang. Titik. Setelah itu kita bersikap masa bodoh dan menganggapnya sebagai sesuatu yang given, sesuatu yang tidak usah diutak atik lagi.

Tapi kita juga langsung murka begitu tahu negara tetangga mengklaim kalau rendang itu makanan asli mereka. Bahkan kita tak segan berdemo sambil mengucapkan sumpah serapah di depan kedutaan negara tetangga tersebut hanya gara-gara makanan. Tak mau sedikit repot mendaftarkan hak “paten” atas suatu barang, tapi ngamuk tak karuan saat tahu barang itu diklaim milik orang lain. Memang aneh masyarakat kita ini.

Selain perlindungan hukum terhadap orisinalitas suatu produk, Indikasi Geografis sebenarnya mempunyai banyak manfaat lain.

Yang pertama adalah jaminan kualitas dan keaslian produk tersebut. Jaminan ini dapat menghindarkan konsumen dari pemalsuan produk sekaligus menjaga kredibilitas produsen.

Yang kedua, persebaran dan peningkatan ekonomi. Konsumen yang paham, bersedia membeli suatu produk yang ada sertifikat IG dengan harga lebih tinggi karena yakin dengan jaminan kualitas dan keasliannya.

Yang ketiga, mendongkrak popularitas daerah yang berbagai produknya memiliki sertifikat IG. Karena populer, bukan tidak mungkin daerah tersebut lantas menjadi tempat tujuan wisata. Baik itu wisatawan dalam negeri maupun wisatawan mancanegara.

Baca juga :

Industri Pertanian Sudah Mendesak, Bos

E-Commerce Dongkrak Kesejahteraan Petani

Sebenarnya masih banyak lagi manfaat suatu produk yang ada sertifikat Indikasi Geografisnya. Pemerintah, khususnya pemerintah daerah, semestinya lebih giat lagi melihat potensi yang ada di wilayahnya masing-masing. Mendaftarkan IG untuk produk pertanian atau makanan olahan yang memiliki kekhasan tersendiri, sama saja dengan mendorong pertumbuhan ekonomi serta mempopulerkan daerah tersebut.

Di Perancis ada sebuah kota kecil bernama “Cognac” yang sangat terkenal karena menghasilkan minuman brendi dengan nama yang sama. Tidakkah kita ingin dunia mengenal tempe sebagai makanan olahan khas sebuah kota di Jawa Timur dengan nama yang sama, “Tempe Malang”?

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan