border=

Pentingnya Memanfaatkan Prakiraan Cuaca untuk Pertanian

memanfaatkan prakiraan cuaca di pertanian

Pomidor.id – Anomali cuaca yang semakin kerap terjadi, sebenarnya bukan faktor mutlak kegagalan dalam usaha di bidang pertanian. Jika petani atau pun pihak-pihak yang terlibat dalam sektor ini mau mengikuti informasi mengenai prakiraan cuaca, kegagalan panen setidaknya bisa diminimalisir.

Demikian dikatakan Kasi Observasi dan Informasi BMKG Karang Ploso, Aminuddin AR, beberapa hari lalu. Menurutnya meski bukan satu-satunya faktor kegagalan panen, namun cuaca berperan penting membuat suatu tanaman bisa tumbuh maksimal atau tidak.

 border=

“Ada jenis-jenis tanaman seperti tembakau, cabai atau tomat yang baik di tanam di musim kemarau. Tapi ada juga tanaman yang kuat ditanam saat intensitas hujan tinggi. Kalau sepanjang tahun musim hujan dan kemaraunya normal, tidak ada masalah,” ujarnya.

“Umumnya petani bisa kok antisipasi meski curah hujan sangat tinggi. Selama itu terjadinya memang di musim penghujan. Mereka kan sudah pengalaman dan tahu apa yang baik ditanam di musim kemarau, apa yang baik di tanam di musim hujan. Yang repot itu kalau musimnya nggak normal kayak tahun kemarin. Itu karena faktor La Nina. Banyak yang gagal panen karena hampir sepanjang tahun hujan terus. Nah di sini pentingnya informasi tentang prakiraan cuaca untuk pertanian. Biar tanamannya bisa panen lebih baik,” imbuh pria yang sudah lama bekerja di BMKG Karang Ploso ini.

Berita Terkait : Awal November, Malang Raya Masuki Musim Penghujan

 border=

Aminuddin menjelaskan, sebelum menanam jenis tanaman tertentu, memang ada baiknya petani mengikuti informasi perkembangan cuaca. BMKG Karang Ploso secara berkala mengeluarkan prakiraan cuaca tak hanya untuk wilayah Malang Raya. Melainkan juga sampai ke tingkat propinsi.

“Ada petani tembakau di Lumajang yang rutin menanyakan kondisi cuaca di daerahnya hingga beberapa bulan ke depan. Ya ini sikap antisipasi. Tembakau kan termasuk tanaman yang tidak bisa dalam kondisi terlalu basah. Idealnya memang di musim kemarau nanamnya. Jadi bagus kalau ada yang tanya-tanya soal cuaca kemari,” kata Aminuddin.

Meski demikian ia menegaskan cuaca bukan satu-satunya penyebab kegagalan di pertanian. Masih banyak faktor lain yang berpengaruh. Beberapa di antaranya adalah pengolahan lahan yang kurang bagus sedari awal, pola tanam yang tak terencana matang, hingga fluktuasi harga komoditas di pasar.

Ditambahkan Aminuddin, pada prinsipnya BMKG Karang Ploso terbuka untuk memberi informasi kepada masyarakat, terutama yang pekerjaannya tergantung pada kondisi cuaca seperti pertanian, perikanan, peternakan, transportasi, dlsb. Bagi masyarakat umum yang berkepentingan, juga bisa memperoleh informasi prakiraan cuaca di karangploso.jatim.bmkg.go.id atau di bmkg-malang.blogspot.co.id.

Saat ini BMKG bekerja sama dengan dinas pertanian setempat untuk memberi bekal kemampuan membaca prakiraan cuaca kepada para tenaga penyuluh pertanian. Nantinya para tenaga penyuluh pertanian yang mensosialisasikannya langsung ke petani. Tidak selalu efektif karena masih banyak petani yang lebih mengandalkan intuisinya dalam membaca cuaca daripada menerima data secara ilmiah.

Catatan Terkait : Sektor Pertanian Butuh Banyak Tenaga Terdidik

Namun untuk petani yang muda-muda, cenderung lebih bisa memahami pentingnya data-data tersebut untuk usahanya. Apalagi sekarang juga ditunjang kecanggihan teknologi semisal GPS atau kemudahan akses internet yang menyajikan berbagai informasi tentang iklim dan cuaca.

“Ya harus ada upaya terus menerus untuk mensinergikan data BMKG dengan sektor pertanian. Kalau bisa malah kelompok-kelompok tani yang ada juga memanfaatkan data-data ini. Sehingga mereka bisa melakukan perencanaan yang lebih baik lagi sebelum memulai masa tanam,” pungkas Aminuddin.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan