border=

Pertanian di Afrika Belum Optimal Adopsi Teknologi

pertanian di afrika masih gaptek
(Para petani di Afrika harus mengadopsi kemajuan teknologi untuk meningkatkan produktivitas di sektor pertanian. Foto : monitor.co.ug).

Pomidor – Tak berbeda jauh dengan Indonesia, pertanian di Afrika kurang optimal tergarap karena tak banyak memanfaatkan perkembangan teknologi. Meski beberapa dekade terakhir sektor pertanian menunjukkan kemajuan berarti, namun kemajuan tersebut masih jauh dari potensi yang sesungguhnya dimiliki Afrika.

Keberhasilan penelitian di bidang pertanian hingga saat ini memang belum sepenuhnya diterapkan untuk menyokong pertumbuhan sektor agrikultur serta mengurangi kemiskinan di sebagian besar penduduk Afrika. Padahal penerapan teknologi akan banyak membantu meningkatkan produktivitas sektor pertanian di Afrika.

Hal inilah yang menjadi perhatian utama para pakar pertanian di benua hitam tersebut. Mereka menyerukan keprihatinannya pada pertemuan tingkat tinggi mengenai penerapan Sains, Teknologi dan Inovasi untuk Transformasi Sektor Pertanian Afrika yang berakhir hari Minggu kemarin (8/10), di Kampala, ibukota Uganda.

 border=

Cyprian Ebong, seorang pejabat Asosiasi Riset Pertanian di Afrika Tengah dan Timur menjadi salah satu pembicara kunci. Ia menyatakan pemerintahan di negara-negara Afrika harus menempatkan sektor pertanian menjadi prioritas utama agar dapat menjamin kebutuhan pangan penduduk Afrika yang populasinya terus membengkak.

Dengan menunjukkan trend pertumbuhan penduduk, ia mengungkapkan tahun 2050 jumlah penduduk di Afrika akan meningkat dua kali lipat. Ini berarti kebutuhan untuk menyediakan pangan bagi warga akan bertambah dua kali lipat pula.

“Untuk mengatasi masalah kelaparan dan kekurangan gizi akibat kelangkaan pangan, musti ada pendekatan secara holistik atau menyeluruh. Terutama dalam soal menangani kesuburan tanah, penggunaan air untuk produksi pertanian, sistem irigasi, agronomi, dlsb,” kata Ebong.

 border=

Ia mengingatkan para ilmuwan yang terlibat dalam sektor pangan agar betul-betul mengadopsi kemajuan teknologi demi menggenjot produksi tanaman pangan, perikanan dan peternakan.

Di sisi lain Ebong juga mengungkapkan banyaknya lahan di Afrika yang belum dimanfaatkan secara optimal. Dari 60 persen lahan subur di benua tersebut, baru 6 persen yang digunakan untuk produksi pertanian.

Parahnya, gagap teknologi di kalangan petani tradisional Afrika membuat prosentasi kegagalan panen sering kali tak masuk akal. Di Uganda, misalnya, dari total produksi pertanian hanya dua persen yang bisa dipanen per tahunnya. Sisanya terbuang percuma akibat gagal panen.

Baca juga :

FAO : Beri Akses Petani Kecil pada Pemanfaatan Teknologi

Sektor Pertanian Berperan Kurangi Pengangguran di Nigeria

Secara keseluruhan, hanya tiga persen hasil pertanian Afrika yang beredar di pasaran. Sudah US$ 4 milyar dana yang digelontorkan dalam bentuk pinjaman untuk menutup kerugian paska panen. Jumlah dana yang luar biasa besar itu akan jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk membiayai teknologi.

Penyebab lain rendahnya produktivitas pertanian di Afrika adalah jarangnya penggunaan statistik dan manajemen pengetahuan yang memadai.

Untuk mengatasi hal ini, mutlak harus ada investasi besar-besaran di bidang sains, teknologi dan inovasi.

Direktur Eksekutif Yayasan Teknologi Pertanian Afrika (AATF), Dr Denis Kyetere, mengatakan pentingnya kerja sama antara masyarakat, swasta dan pemerintah untuk mengubah wajah pertanian di Afrika.

“Selama ini investasi dalam riset teknologi di Afrika sama sekali tidak memadai untuk meningkatkan produktivitas pertanian serta mengurangi angka kemiskinan. Harus ada perubahan paradigma secara fundamental dalam memandang sektor pangan ini. Teknologi adalah kunci bagi masa depan pertanian di Afrika,” tegas Dr Kyetere. (inot)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan