Siswandi, dari Bisnis Anggrek ke Budidaya Kelinci

dari anggrek ke budidaya kelinci

Pomidor.id – Lama berkecimpung di dunia Anggrek, Siswandi akhirnya malah banting setir ke usaha pembudidayaan kelinci. Alasannya mungkin klise, di bisnis anggrek ia sempat bangkrut dan kehabisan modal. Sementara di budidaya kelinci, meski omzet yang berputar tak sebesar di bisnis sebelumnya, namun modalnya relatif kecil dan pemasarannya pun juga lebih mudah.

Link Banner

Tahun ini, genap lima tahun Siswandi menekuni usaha budidaya kelinci. Tak pernah terbayang di benaknya suatu ketika bakal sehari-hari bergelut dengan binatang lucu bertelinga lebar ini. Apalagi menjadikannya sebagai mata pencaharian. Sayangnya bisnis anggrek yang sempat ditekuninya hampir sepuluh tahun, tak dapat dipertahankannya. Pemasaran adalah kendala utamanya. Selain juga munculnya pesaing-pesaing yang tak terduga.

“Kalah sama yang obrokan (penjaja bunga keliling dengan motor). Yang bikin tambah susah, mereka rata-rata mengambil dulu bayarnya kalau sudah laku. Itu kan bunga, Mas. Bukan beras atau kebutuhan pokok yang dicari orang setiap hari. Lha kalau nggak cepet laku, ya duitnya macet. Malah seringnya anggrek yang nggak laku-laku, diobral murah-murahan. Tapi ya itu tadi, karena nggak nyucuk (mencukupi) sama kulaknya, akhirnya duitnya amblas. Nggak disetorkan ke petaninya. Untuk petani kecil seperti saya, lama-lama ya nggak kuat,” kata Siswandi ketika ditemui di kandang kelincinya di Junrejo Batu, Senin (6/11).

Saat ditanya mengapa tidak ikut perkumpulan seperti PAI (Perhimpunan Anggrek Indonesia) sehingga pemasaran anggreknya bisa lebih efektif, Siswandi hanya menggeleng. Ia mengatakan tak suka ribet-ribet bergabung dengan perkumpulan, perhimpunan atau apalah namanya. Ia lebih suka membudidayakan dan merawatnya di rumah saja sampai ada yang beli langsung. Sayangnya, yang beli kebanyakan untuk dijual lagi dengan sistem pembayaran di belakang. Karena lebih sering tersendat, ia memutuskan untuk beralih ke usaha lain yang lebih menjanjikan.

“Setelah dengar sana dengar sini, akhirnya saya putuskan untuk ternak kelinci saja. Jualnya mudah karena pembeli langsung datang. Mereka bayarnya juga kontan. Jadi saya nggak stres atau mikir yang berat-berat,” sambung Siswandi.

Artikel Terkait : Semangat Susi Berhembus Hingga ke Gunung Buring

Bapak tiga anak ini mengatakan, ada delapan jenis kelinci yang dipeliharanya. Yang paling mahal adalah jenis Holland Lop. Untuk indukan harganya bisa mencapai Rp 1,2 juta hingga Rp 2 juta. Sedangkan anakannya yang berusia tiga bulan, dijual Rp 400-500 ribu. Kalau yang paling murah adalah jenis kelinci pedaging, Rp 25-30 ribu perekornya.

“Tapi lebih banyak yang beli kelinci pedaging. Ada restoran sate kelinci di Batu yang mau ambil berapa pun jumlah yang saya punya. Kadang-kadang kalau pas nggak ada barang, saya ambil dari teman-teman yang juga budidaya kelinci. Untungnya memang sedikit, tapi putaran duitnya cepat,” ujarnya.

Siswandi menambahkan, ia memiliki pelanggan dari Kalimantan yang rutin memesan kelinci. Biasanya yang dipesan adalah jenis-jenis kelinci hias seperti Holland Lop, Fuzzy Lop dan Anggora. Sekali pesan minimal 1 koli yang berisi 60 ekor anakan kelinci.

Sama seperti kelinci pedaging, ia juga sering “patungan” dengan teman-temannya sesama peternak kelinci untuk memenuhi pesanan dari Kalimantan. Pasalnya, sangat sulit bagi peternak kecil sepertinya untuk mengirim sekaligus 60 anakan kelinci hias.

Mengingat ongkos kirimnya yang lumayan mahal karena harus lewat pesawat udara, Siswandi hanya menjual kelinci yang bernilai ekonomi tinggi bagi pelanggan dari luar pulau atau tempat yang jauh-jauh. Jika lewat laut atau darat, besar kemungkinan banyak yang mati karena kelinci tergolong hewan yang rentan terhadap perubahan cuaca.

siswandi dan pembelinya
(Siswandi saat melayani pembeli di kandang kelincinya.)

Meski begitu Siswandi menolak menyebutkan omzetnya sampa berapa per bulan. Ia hanya mengatakan cukuplah untuk memenuhi kebutuhannya.

Selama lima tahun menggeluti usaha budidaya kelinci, menurutnya yang paling susah adalah ketika memasuki musim penghujan seperti saat-saat sekarang ini. Harus ekstra hati-hati merawatnya karena kelinci mudah terserang penyakit seperti bubulen (kudis), pilek, radang mata, kembung, dlsb. Lebih-lebih jika hujan turun seharian yang membuat udara sangat lembab.

“Pernah waktu awal-awal saya ternak, hampir semua kelinci saya mati. Cuma sisa 4 ekor dari 50-an kelinci yang ada. Mungkin nggak kuat dingin. Makanya sekarang kandang-kandangnya saya kasih lampu dan ditutupi plastik kalau malam,” imbuhnya.

Sedangkan untuk perawatan sehari-hari, ia kerjakan sendiri termasuk cari pakan rumputnya. Selain rumput, ia juga memberi makan polar yang tinggi kandungan nutrisinya. Dengan pemeliharaan teratur, kini sangat jarang kelincinya yang mati.

Artikel Terkait : Angon Bebek Petelur Harus Rela Jadi “Bang Toyib”

Sementara ini, Siswandi melakukan usaha budidaya kelinci di tempat kenalannya di Jalan Raya Beji, Junrejo, Kota Batu. Rumahnya sendiri berada di Janti, Kota Malang. Namun ia tidak setiap hari pulang karena ada bangunan kecil untuk berteduh di sebelah kandang-kandang kelincinya. Paling hanya seminggu dua kali ia pulang ke Janti. Selain mengetahui kondisi rumah, ia pulang ke Malang sekalian melepas kangen dengan cucunya.

Siswandi secara jujur mengungkapkan, dua tiga tahun yang lalu ia sangat berambisi mengembangkan usaha budidaya kelincinya. Bahkan sempat terpikir meminjam bank untuk menyewa lahan, menambah kandang dan menggenjot jumlah kelinci peliharaannya. Namun berkaca pada usaha anggreknya yang gulung tikar, ia akhirnya meredam keinginan tersebut.

“Saya ini sudah tua, Mas. Anak saya tiga-tiganya sudah mentas (mandiri). Bahkan salah satu anak saya kerja di Pemkot Malang, dulunya kuliah Informatika. Buat apa saya ngoyo-ngoyo. Dari ternak kelinci ini saja saya sudah bisa makan, beli rokok, kasih uang ke rumah di Janti. Mau cari apa lagi? Ya dinikmati saja ngramut (memelihara) kelinci. Rejeki nggak lari ke mana, kok,” pungkas Siswandi sambil terkekeh.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan