border=

Juwet Putih, Tanaman Langka yang Nyaris Tak Dilirik Orang

buah juwet putih

Pomidor.id – Kendati tergolong tanaman langka, juwet putih ternyata tak terlalu diminati masyarakat. Tanaman yang bisa terus tumbuh membesar, rata-rata pohon ini bisa tumbuh sampai 15 hingga 20 meter, adalah faktor yang barangkali membuat orang malas memeliharanya. Apalagi bagi mereka yang tinggal di daerah perkotaan. Padahal selain harganya relatif murah dan mudah dibudidayakan, pohon yang memiliki nama ilmiah Syzygium cumini ini banyak khasiatnya untuk pengobatan.

Dibandingkan dengan harga pohon buah-buahan lokal lainnya, harga pohon juwet putih masih jauh lebih murah. Satu pohon dalam polybag ukuran besar dengan tinggi lebih dari dua meter, dijual antara Rp 50 ribu – Rp 75 ribu. Kalah jauh dengan pohon sawo manilo atau jambu air putih yang dihargai lebih dari Rp 200 ribu. Apalagi dibandingkan tanaman eksotis lainnya seperti anggur pohon dan sirsak mentega yang nilainya bisa mencapai Rp 1 sampai 1,5 juta per pohon.

 border=

“Ya mungkin orang males nanamnya, Mas. Pohon yang masih belum masuk masa berbuah saja tingginya sudah dua meter lebih,” kata Sutrisno, penjaga kios bunga dan buah di daerah Velodrom, Sawojajar, Malang, Kamis (2/11).

“Untuk orang kota yang pekarangannya sempit-sempit, pasti kesulitan. Kecuali kalau nanamnya di polybag. Tapi itu buahnya nggak bakal sebanyak kalau dibiarkan ditanam di lahan bebas,” imbuhnya.

Berita Terkait : Pesanan Bibit Cabai Rawit Melonjak Jelang Musim Hujan

 border=

Sutrisno yang baru satu tahun menjadi penjaga kios bunga setelah sebelumnya bekerja serabutan di proyek bangunan, menambahkan, ada juga orang yang datang khusus untuk membeli pohon juwet putih. Tapi jumlahnya bisa dihitung satu jari tangan. Dalam sebulan, bisa menjual lima pohon saja sudah bagus.

pohon juwet putih
(Pohon juwet putih yang dijual di kios bunga dan buah di kawasan Velodrom, Sawojajar, Malang.)

Selama ini pohon juwet putih yang dijual semuanya dipasok dari Batu. Namun karena penjualannya tidak secepat pohon-pohon buah lainnya, barang baru akan didatangkan lagi dari pemasok apabila benar-benar sudah habis atau ada pesanan dalam jumlah agak banyak. Jika tidak, ya menunggu sampai pohon terakhir terjual.

“Buat apa nyimpan banyak-banyak. Nanti jadi tambah rungsep (terlalu padat), nutupi pohon-pohon lainnya. Kalau sudah habis semua, baru minta dikirimi lagi dari Batu,” kata Sutrisno menjelaskan mengapa hanya ada satu pohon di kios tanaman tempatnya bekerja.

Dari lima kios tanaman bunga dan buah di sekitar Velodrom Sawojajar, hanya kios Barokah yang menjual pohon juwet putih. Menurut sang pemilik, Bu Arsa, ia memang ingin menjual berbagai jenis tanaman selengkap mungkin di kiosnya. Soal tanaman itu banyak diminati orang atau tidak, itu urusan berbeda. Kalau ada tanaman yang tak kunjung laku, paling apes ya ditempatkan di pojok belakang.

Namun sepengetahuannya, buah juwet putih memiliki banyak khasiat untuk pengobatan herbal. Yang pernah ia rasakan sendiri dan cukup manjur adalah mengurangi sakit kepala dan batuk. Sedang khasiatnya yang lain, ia hanya mendengar dari cerita-cerita saja.

Sebenarnya bukan hanya sakit kepala dan batuk yang manjur diobati dengan buah juwet putih. Menurut sejumlah penelitian, buah juwet, baik yang berwarna ungu kehitam-hitaman atau yang putih, memiliki manfaat kesehatan yang tidak sedikit. Beberapa manfaat tersebut di antaranya adalah, mengatasi masalah pencernaan, gangguan sembelit, menjaga kesehatan tulang, gigi dan jantung, serta menurunkan kadar gula penderita diabetes.

Berita Terkait : Buah Lokal Dapat Kucuran Dana Triliunan Rupiah

Sayangnya tanaman khas tropis ini sudah semakin jarang ditemui. Kebutuhan hunian dan pemukiman yang terus meningkat setiap tahun, membuat pohon juwet banyak ditebangi. Sedangkan di daerah pedesaan yang lahannya masih luas, pohon ini juga dianggap tak ekonomis. Petani menganggap lebih menguntungkan menanam umbi-umbian yang masa panennya lebih pendek.

Atau kalau pun menanam pohon buah yang umurnya tahunan, mereka lebih memilih lemon, blimbing, alpukat atau rambutan yang jelas pasarnya. Jadilah pohon juwet makin terpinggirkan. Jangan-jangan lima sampai sepuluh tahun lagi, juwet sudah kian sulit dicari. Kalau pun ada, tahu-tahu itu ternyata juwet impor dari Filipina atau Australia.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan