border=

Penggunaan Drone di Pertanian Belum Boleh Otomatis Penuh

penggunaan drone di pertanian

Pomidor.id – Sejumlah perusahaan di Jepang kini berlomba-lomba mengembangkan pertanian berbasis teknologi drone untuk penyemprotan dan fungsi lainnya. Drone tersebut akan dijual ke kalangan petani kecil yang saat ini tengah menghadapi masalah serius akibat minimnya minat generasi penerus untuk menggantikan mereka. Namun penggunaan drone sebagai alat penyemprot di pertanian ini terkendala masalah lain. Pemerintah Jepang masih belum mengijinkan pesawat tanpa awak itu digunakan untuk melakukan penyemprotan sepenuhnya secara otomatis, khususnya penyemprotan pestisida.

Sebuah drone berdiameter 2 meter melayang dan mengguyurkan air, bukan pestisida, di atas kebun yang ditanami bawang merah. Layar remote control menunjukkan lokasi drone dan area penyemprotan dilakukan. Peralatan canggih ini dikembangkan oleh SkymatiX Inc., sebuah perusahaan hasil kongsi antara Mitsubishi Corp. dan Hitachi, Ltd., yang didirikan tahun lalu.

 border=

Pekan lalu Skymatrix mendemonstrasikan ke media penyiraman tanaman dengan menggunakan drone di sebuah ladang di Koriyama, Prefektur Fukushima.

“Kami yakin dengan stabilitas peralatan ini,” kata Zentaro Watanabe, 38, kepala operator SkymatiX dikutip dari nationmultimedia.com.

Berita Terkait : Drone Mulai Banyak Digunakan untuk Pertanian

 border=

Sebuah drone pertanian mempunyai tangki yang mampu membawa pestisida dan pupuk cair di bagian bawahnya. Butuh waktu seharian penuh bagi petani tradisional yang membawa tangki di punggungnya untuk menyemprotkan pestisida di lahan seluas satu hektar. Namun dengan drone, pekerjaan itu bisa dilakukan hanya 10 menit. Per unit drone ini dipasarkan seharga ¥3 juta (Rp 360 juta) hingga ¥3.5 (Rp 420 juta).

Menurut perusahaan perdagangan Seed Planning Inc. yang bermarkas di Tokyo, pasar drone penyemprot semacam ini diperkirakan akan tumbuh pesat dari ¥1.2 milyar (Rp 144 milyar) di tahun 2016 menjadi ¥20 milyar (Rp 2,4 trilyun). Melihat market yang menggiurkan tersebut, tak heran jika banyak perusahaan yang berambisi memasukinya.

“Ini memang pasar yang menjanjikan,” ujar sumber yang dekat dengan perusahaan perdagangan tersebut.

Sementara Nileworks Inc., yang juga berkantor pusat di Tokyo yang salah satu pemegang saham terbesarnya adalah Sumitomo Corp., menyatakan bahwa drone yang diproduksinya tak hanya mampu menyemprotkan pupuk dan pestisida. Tapi juga mengambil gambar dan memonitor kondisi pertumbuhan tanaman padi dengan kamera canggih. Perusahaan itu akan melakukan tes pasar untuk drone di bulan Mei 2018.

“Kami akan membuat pertanian menjadi industri berbasis teknologi untuk menarik minat generasi muda,” kata Presiden Nileworks, Hiroshi Yanagihita, 57.

Kubota Corp., perusahaan sejenis yang mulai menjual drone untuk pertanian sejak Juli tahun ini, berkeinginan membangun sistem yang dapat menganalisa data yang diambil pesawat yang dikendalikan remote control tersebut. Selain itu, perusahaan ini juga tengah mengembangkan pemanfaatan artificial inteligence atau kecerdasan buatan untuk traktor sehingga dapat bergerak sendiri.

Artikel Terkait : Sistem Manajemen Manufaktur Ala Toyota Untuk Pertanian

Sayangnya saat ini masih ada kendala untuk memperluas penggunaan drone di pertanian. Ada aturan ketat yang dikeluarkan Kementrian Pertanian, Kehutanan Perikanan Jepang. Harus ada ahli yang mendampingi ketika sebuah drone dipakai untuk menyemprotkan pestisida. Hal ini untuk menghindari penyemprotan pestisida tidak sampai menyebar ke tempat lain di luar area yang dituju.

Aturan yang sama juga melarang otomatisasi penuh pada pengoperasiannya. Banyaknya aturan yang sebenarnya dimaksudkan untuk keamanan ini pulalah yang mungkin membuat sebagian petani enggan ribet-ribet memakai drone.

Untuk membahas keamanan penggunaan drone dan isu-isu lainnya, Kementrian Pertanian Jepang berencana menggelar pertemuan dengan para ahli di bidang terkait awal tahun depan. Dalam pertemuan tersebut, kementrian pertanian akan memutuskan boleh tidaknya penyemprotan pestisida sepenuhnya secara otomatis setelah mendengar pendapat para ahli.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan