Pro Kontra Tanaman Hidroponik Diberi Sertifikat Organik

sertifikat organik untuk tanaman hidroponik

Pomidor.id – Setelah bertahun-tahun melalui perdebatan panjang dan melelahkan, Dewan Standar Organik Nasional Amerika Serikat akhirnya membuat keputusan krusial. Tanaman yang ditanam di air, di kontainer atau di tempat-tempat lain selain di tanah, dapat juga disebut organik selama memenuhi standar dan syarat ketat yang ditentukan. Dengan demikian, tanaman-tanaman yang sebagian besar dibudidayakan dengan teknologi canggih tersebut bisa mendapat sertifikasi organik.

Isu bisa tidaknya tanaman hidroponik dianggap sebagai tanaman organik merupakan isu global, bukan hanya di AS. Perdebatan mengenai hal tersebut jauh lebih rumit dari yang tampak di permukaan. Hidroponik dan jenis pertanian berteknologi tinggi lainnya memang mendapat banyak perhatian. Umumnya positif karena mampu memaksimalkan ruang yang tidak bisa dilakukan pertanian konvensional.

Tanaman yang dibudidayakan dengan cara ini juga dinilai sangat hemat energi, khususnya untuk penggunaan air. Sedangkan pemakaian pestisida pun terbatas karena banyak dioperasikan indoor atau di ruangan tertutup semacam green house.

Akan tetapi tanaman hidroponik tetap membutuhkan nutrisi yang diserap akar untuk menunjang pertumbuhannya. Karena tidak menggunakan media tanah yang biasanya mengandung banyak unsur hara, kebutuhan nutrisinya dipasok dari air yang bisa jadi sarat bahan kimia sintetis. Bahan-bahan kimia tersebut di antaranya adalah kalium, natrium, potasium, dlsb.

Inilah yang menyebabkan perdebatan tentang apakah tanaman hidroponik bisa disebut tanaman organik murni atau tidak.

Artikel Terkait : Sistem Manajemen Manufaktur Ala Toyota Untuk Pertanian

Keputusan Dewan Standar Organik Nasional AS ini, disambut gembira oleh sekelompok petani dan inovator teknologi pertanian yang sadar lingkungan.

“Dengan berpihak pada sains dan aturan yang ada membuka diri pada berbagai pengembangan metode pertanian, Dewan telah mengirimkan pesan penting. Yakni, keberlanjutan dan inovasi sangat dihargai di sektor pertanian AS,” demikian pernyataan tertulis Direktur Eksekutif Koalisi Pertanian, Ian Marianne Cufone, dalam sebuah rilis yang dikutip dari laman Modern Farmer.

Meski begitu, banyak pula kelompok petani organik yang menentang keras. Mereka menilai ada dua kelompok utama yang diuntungkan dengan keputusan tersebut. Dengan pemberian sertifikasi organik, dua kelompok itu, salah satunya dimiliki Koalisi Pertanian, bisa mengenakan harga mahal untuk produk mereka. Sedangkan kelompok lainnya adalah perusahaan-perusahaan besar seperti Driscoll’s dan Wholesum Harvest.

Institut Cornucopia, yang merupakan salah satu aktivis organik, menganggap tidak adil pemberian sertifikasi organik untuk tanaman hidroponik perusahaan-perusahaan besar. Sebab, dengan memiliki sertifikat, mereka bisa mengenakan biaya premium meski produknya tidaklah benar-benar organik.

Menurut para aktivis, berbicara makanan organik adalah berbicara tentang keseluruhan ekosistem. Merawat tanah, mengisi kembali nutrisi dengan rotasi tanaman, menyediakan penyerbuk alami serta pengendalian hama.

Sementara untuk perusahaan seperti Driscoll’s, mereka seolah terpisah dari alam. Mereka tidak berkontribusi apa pun terhadap kebugaran tanah (karena mereka memang tidak menggunakan tanah) atau kesehatan alam secara keseluruhan.

Artikel Terkait : Kosta Rika Gunakan Teknologi Nuklir untuk Keamanan Pangan

Perusahaan-perusahaan besar itu bisa berdalih bahwa mereka mematuhi aturan penggunaan pestisida sehingga layak mendapat sertifikat organik. Namun para aktivis menganggapnya itu hanya akal-akalan perusahaan besar untuk mendapatkan lebih banyak uang dari label organik.

Meributkan sebuah produk tanaman organik murni atau tidak, sepertinya hal yang sepele. Namun bagi kebanyakan petani organik, ini adalah kerancuan cara pandang dari apa yang seharusnya dimaksudkan dan ingin dicapai dari tanaman organik. Apa gunanya mengikuti semua aturan yang rumit dan mahal jika pemodal besar bisa seenaknya membangun pabrik. Kemudian membanjiri pasar dengan produk yang diberi embel-embel “organik” padahal tidak sesuai dengan tujuan semula. Yang pasti menjadi korban adalah para petani organik skala kecil.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan