Geser AS, Rusia Kini Super Power Baru di Sektor Pertanian

Rusia, super power baru di sektor pertanian

Pomidor.id – Melemahnya mata uang yang justru meningkatkan nilai kompetitif, ditambah dengan investasi besar-besaran di bidang pertanian, menjadi faktor kunci keberhasilan Rusia menggeser Amerika Serikat sebagai penghasil gandum terbesar di dunia. Kini, negara beruang merah itu menjadi super power baru di sektor pertanian.

Link Banner

Dikutip dari Itar TASS, Menteri Pertanian Rusia, Alexander Tkachev, mengatakan petani AS saat ini menderita kerugian besar setelah ekspor gandum negaranya membanjiri pasar dunia dan membuat harga gandum menurun tajam dibanding masa-masa sebelumnya.

“Saya pikir para petani Amerika kini “panas dingin” dengan kenyataan bahwa Rusia mampu menghasilkan panenan dalam jumlah sangat besar, sekitar 130 juta ton. Di sejumlah pasar gandum dunia, kita menggeser AS. Dan itu membuat mereka kehilangan banyak pendapatan,” kata Tkachev.

Tkachev menambahkan, situasi ini sangat kondusif bagi perkembangan produksi pertanian domestik. Ia juga menegaskan 130 juta ton bukanlah angka maksimal.

“Produksi (130 juta ton) belum mentok. Kita optimis panenan gandum dapat mencapai 150 hingga 200 juta ton. Sekarang yang perlu kita lakukan adalah mencari pasar baru,” imbuhnya.

Tahun lalu, Rusia menjadi penghasil biji-bijian dan gandum terbesar di dunia setelah mengekspor 34 juta ton dari keseluruhan 119 juta ton produksinya. Ekspor gandum Rusia diperkirakan akan meningkat 40 juta ton tahun ini. Hal ini makin menegaskan pendapat sejumlah pakar bahwa negaranya Putin itu sudah menjadi super power baru di sektor pertanian.

Berita Terkait : Ekspor Pertanian Rusia Geser Penjualan Senjata

Sebelumnya, seperti dilaporkan The Wall Street Journal, membanjirnya produksi biji-bijian dan gandum Rusia membuat harganya anjlok di pasar dunia. Laporan tersebut juga menuliskan tentang AS yang terpaksa menutup kantor penjualan Asosiasi Gandumnya di Mesir.

Penutupan kantor importir gandum terbesar dunia di Kairo ini bukan tanpa alasan. Lonjakan produksi gandum Rusia membuat harga gandum di Chicago Board of Trade turun hampir 25 persen menjadi US$ 4,19 (Rp 56.500) per bushel dibandingkan bulan Juli ketika Rusia baru memulai panen raya gandumnya.

“Dengan harga gandum serendah itu, kami benar-benar tak mampu lagi bersaing dengan Rusia,” kata juru bicara kelompok dagang Steve Mercer, seperti dikutip WSJ.

Menanggapi hal ini, Kepala Institut Studi Pasar Pertanian Rusia, Dmitry Rylko, hanya berkomentar singkat.

“Petani Amerika lebih baik fokus menanam jagung dan kedelai saja karena itu memang kelebihan mereka. Memaksakan diri bersaing di pasar gandum global, hanya akan membuat mereka keteteran,” kata Rylko.

Berita Terkait : Indonesia & Thailand Produsen Beras Terbesar di Dunia

Pernyataan Rylko ini ada benarnya. Pasalnya, berdasarkan data Kementrian Pertanian AS (USDA), produksi gandum Paman Sam hanya menguasai 15 persen dari total pasar gandum dunia, atau turun separuh dari dekade lalu. Terus merosotnya posisi AS di pasar gandum salah satunya disebabkan meningkatnya produksi gandum di Eropa dan India. Bahkan dibandingkan Rusia, produksi gandum AS tidak ada separuhnya. Demikian pernyataan USDA.

1 Komentar

Tinggalkan Balasan