Berburu Sinar Matahari Jemur Benih Jagung di Musim Hujan

berburu sinar matahari untuk jemur benih jagung

Pomidor.id – Intensitas hujan yang tinggi belakangan ini, hampir tiap hari mengguyur wilayah Malang dan sekitarnya, menyulitkan mereka yang pekerjaannya sangat tergantung pada sinar matahari. Termasuk para pembudidaya benih jagung seperti Junaidi, seorang petani gurem di daerah Pandanwangi, Kota Malang.

Link Banner

Sudah mendekati satu tahun ini Junaidi menggeluti usaha sampingan pembenihan. Bekerja sama dengan seorang rekannya di Wajak, Kabupaten Malang, ia memproduksi benih jagung manis. Benih indukan disuplai rekannya tadi, sementara ia bertugas memperbanyak benih tersebut untuk ditanam di lahan sewanya yang tak terlalu luas. Kurang lebih seukuran 1500 meter persegi di sekitar Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

Selama ini tak ada masalah dengan hasil panenan. Dengan luasan lahan tersebut, ia bisa memanen 40 hingga 50 kg pipilan jagung. Setelah disortir, biasanya masih tersisa antara 70-80 persen biji yang layak untuk dibuat benih.

“Setidaknya lebih dari 30 kg biji jagung yang saya setorkan ke teman di Wajak. Biji jagung khusus untuk benih, harganya lumayan. Rp 125 ribu per kg,” kata Junaidi saat ditemui tengah menjemur benih jagung di pelataran rumahnya, Sabtu (2/12).

Berita Terkait : Pentingnya Memanfaatkan Prakiraan Cuaca untuk Pertanian

jemur benih jagung
(Junaidi sibuk bergantian menjemur benih jagung manisnya agar tak sampai rusak.)

Namun masalah mulai muncul ketika masuk musim penghujan. Bukan tanaman jagungnya yang bermasalah, namun cuaca mendung. Terik sinar matahari yang hanya muncul sebentar-sebentar, menyulitkan menjemur biji jagungnya secara maksimal.

“Agak susah memang sekarang. Harus berburu sinar matahari untuk menjemur biji-biji jagung ini. Yang repot itu kalau pas ditinggal sebentar, tahu-tahu hujan deras. Kena air biji jagung bisa keluar kecambahnya. Kalau sudah begitu ya tidak bisa disetor,” terangnya.

Junaidi menambahkan, ia kini berkejaran dengan waktu. Pasalnya, curah hujan yang tinggi meningkatkan kelembaban. Banyak biji jagung yang disimpan di kamar belakang rumahnya yang sudah berkecambah akibat kondisi yang lembab. Agar tak semakin banyak yang rusak, beberapa hari terakhir ini ia sibuk mengurusi biji-biji jagungnya. Apalagi cuaca juga lebih cerah daripada sebelumnya.

“Hari ini tidak ke kebun dulu. Mumpung ada panas lebih baik menunggui biji jagung yang dijemur. Kuatir kalau tiba-tiba hujan ga nututi ngentase. Mungkin sore nanti baru ke kebun,” ujarnya.

Berita Terkait : Pesanan Bibit Cabai Rawit Melonjak Jelang Musim Hujan

Selain jagung untuk pembenihan, Junaidi juga menanam lombok besar dan kacang tanah. Meski jumlahnya tak terlalu banyak, hasil panenan dua jenis tanaman tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Lumayan, Mas. Gae tambah-tambah isine pawon dan bayar sekolah anak,” pungkasnya sambil tersenyum.

2 Komentar

Tinggalkan Balasan