Jualan Pisang Hingga di Usia Renta

Mbah Warimun, jualan pisang hingga usia renta

Pomidor.id – Menjadi tua itu pasti. Tapi menjadi tua yang bagaimana, itu pilihan. Sampean tambah lama pasti bakal tambah sepuh. Apakah di usia sepuh itu Sampean masih berkeinginan keras melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain atau justru pasrah dengan kondisi yang kian pikun, gampang gemetaran, dan berbagai penyakit degeneratif lainnya, itu berpulang pada diri Sampean masing-masing.

Link Banner

Kita mungkin layak berkaca pada Mbah Warimun, seorang aki-aki asal Pajaran, Kabupaten Malang. yang memiliki kegiatan rutin jualan pisang di pasar Sawojajar, Kota Malang. Lelaki sepuh berusia 80-an tahun itu setidaknya dua hari sekali berkunjung ke pasar Sawojajar untuk menjajakan pisang-pisang dagangannya.

Yang mengagumkan sekaligus membuat miris, ia membawa barang dagangannya ke pasar dengan menggunakan sepeda onthel, sepeda kayuh. Itu pun tidak dinaiki, tapi dituntun. Padahal jarak antara tempat tinggalnya dengan pasar tempat ia berjualan lebih dari 20 kilometer.

“Berangkatnya ya subuh dari rumah, Le. Kalau kesiangan, susah. Nanti banyak yang nyisa,” ujar Mbah Warimun saat ditemui hendak menuju ke pasar Sawojajar. Ia mengatakan butuh waktu hampir empat jam perjalanan menuntun sepeda dari rumah ke tempat orang bertemu untuk melakukan aktivitas jual beli tersebut.

Umumnya pisang yang ia jual adalah pisang jenis kepok, susu, atau ambon. Sekali berangkat ke pasar, ia bisa membawa 10 sampai 15 sisir yang rata-rata dihargai Rp 15 ribu – Rp 25 ribu persisirnya.

“Bukan dari kebun sendiri. Tapi beli dari orang terus dijual lagi. Kadang dari tetangga. Tapi seringnya kulak dari desa-desa sebelah atau malah sampai ke kecamatan lain. Asal mau keluyuran, pasti ada saja orang yang panen pisang. Ya pisang-pisang itu yang saya beli dan kemudian saya jual lagi ke pasar,” ujarnya.

Artikel Terkait : Siswandi, dari Bisnis Anggrek ke Budidaya Kelinci

Menurutnya jualan pisang lebih pagi lebih bagus karena ia bisa pulang cepat sehingga tidak sampai kemalaman pulangnya. Kadang-kadang jika sudah lewat tengah hari dan ada pisang dagangannya yang belum laku, biasanya ia akan menjualnya ke pedagang pisang lainnya di pasar Sawojajar. Yang penting balik modal dan ia bisa pulang cepat.

Mbah Warimun
(Mbah Warimun mendorong pisang dagangannya menuju pasar Sawojajar.)

Kendati sudah tidak memuat apa-apa lagi dalam perjalanan balik ke rumah, Mbah Warimun tak selalu menaiki sepeda tuanya itu. Ia lebih suka menuntunnya sama seperti ketika berangkat. Selain karena ngeri dengan ramainya lalu lalang kendaraan di jalan, ia juga sudah tidak kuat jika harus mengayuh, apalagi ketika bertemu jalanan menanjak.

Ditanya apakah tidak ada anak-anaknya yang membantu mengingat usianya yang sudah cukup renta, Mbah Warimun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

Emoh (tak mau) ngrepoti. Mereka sudah omah-omah (berumah tangga) semua. Mereka punya tanggungan sendiri-sendiri. Dengan jualan pisang begini, kebutuhan sudah tercukupi. Malah sisanya bisa disisihkan untuk cucu dan cicit. Buat jajan mereka,” tuturnya.

Di luar empat anak, Mbah Warimun memiliki beberapa cucu dan dua cicit. Walau pun tidak serumah, namun sebagian besar dari mereka masih menetap di satu desa. Bahkan ada pula yang rumahnya bersebelahan dengan rumah lelaki uzur yang mengaku tak pernah betah lama-lama meninggalkan desanya itu.

“Kalau malam pasti ada saja yang datang ke rumah. Entah itu sekedar nengok, ngasih tahu kalau ada yang baru panen pisang, atau cuma ngobrol sebentar,” kata Mbah Warimun menceritakan kegiatannya di kala senggang bersama anak keturunannya.

Artikel Terkait : Semangat Susi Berhembus Hingga ke Gunung Buring

Satu prinsip Mbah Warimun yang ia pegang teguh hingga di usia senjanya adalah, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Karena itu ia akan terus melakoni jualan pisang seperti yang kini tengah dikerjakannya sampai ia betul-betul sudah tidak kuat lagi berjalan.

“Oalah, Le. Wong masih sehat kok mikir wayahe (sudah saatnya) ngaso. Kelamaan ngaso di rumah tambah bikin badan sakit semua. Mending begini, masih bisa ngasih, nguruni kalau ada yang butuh. Nggak tahu lagi kalau besok-besok sudah nggak bisa jalan. Nggak usah disuruh pun ya bakal ngaso-ngaso karepe dewe,” tegas Mbah Warimun dengan intonasi yang masih terdengar jelas.

Ungkapan lawas bahasa Latin “Corgito ergo sum (aku berpikir maka aku ada)”, ungkapan jadul orang Rusia “Rabotayu i zhivu (aku bekerja maka aku ada)” rasanya sangat relevan untuk disematkan ke Mbah Warimun. Semoga saja generasi micin tak mengubahnya menjadi “Aku medsosan maka aku ada.” Bisa berabe jadinya.

4 Komentar

    • Kalau tidak terbiasa kerja keras sejak usia muda, tak mudah melakoni apa yang dikerjakan Mbah Warimun. Makanya orang dulu sehat-sehat, karena fisiknya terbiasa digunakan sebagaimana mestinya. Bandingkan dengan anak-anak muda jaman sekarang yang malas bergerak. Beli rokok tak sampai 50 meter saja pakai motor. Tak heran kalau belum terlalu tua tapi sudah menderita penyakit aneh-aneh.

Tinggalkan Balasan