Menyongsong Rupiah dengan Cabai Keriting

menanam cabai keriting

Pomidor.id – Kendati sudah memasuki pertengahan musim penghujan, yang sebenarnya cukup riskan untuk menanam tanaman jenis cabai-cabaian, namun Hasan tetap nekad memenuhi lahan sewaannya dengan tanaman cabai keriting. Ia memprediksi harga cabai ini akan merangkak naik beberapa bulan ke depan, tepat ketika cabai yang ia tanam mulai bisa dipanen.

Link Banner

Lahan sewaan Hasan berukuran kurang lebih 3500 meter persegi di desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Meski enggan mengungkapkan biaya sewa lahannya, Hasan mengaku sudah menyiapkan modal 17 juta rupiah untuk menanam sekitar 11 ribu tanaman cabai keriting.

“Selain sewa lahan, modal itu juga untuk biaya pembelian benih lombok plintir (sebutan petani lokal untuk cabai keriting), pupuk, mulsa, obat-obatan (fungisida dan pestisida), bayar buruh tani, dll. Moga-moga modalnya cukup, ga sampai membengkak,” ujar Hasan saat ditemui di lahan garapannya, Senin, (11/12).

Hasan mengungkapkan ia memilih menanam cabai keriting menjelang puncak musim hujan karena berdasar pengalamannya di tahun-tahun sebelumnya, harga cabai jenis ini biasanya akan terus merangkak naik sampai bulan Maret atau April.

“Kalau bagus, harganya bisa sampai Rp 25 ribu perkilo atau malah lebih. Tapi kalau jeblok, seperti dua tahun lalu, hanya dihargai Rp 3 ribu – Rp 5 ribu perkilonya. Kalau sudah begitu, ya pasti rugi. Susah balik modal,” imbuhnya.

Berita Terkait : Pesanan Bibit Cabai Rawit Melonjak Jelang Musim Hujan

Menurut pria yang tinggal di daerah Asrikaton, Pakis, Kabupaten Malang ini, ia memutuskan untuk  fokus pada cabai keriting karena banyak rekannya yang sering jor-joran menanam jenis cabai-cabaian, hanya beberapa saja yang menanamnya pada musim tanam kali ini.

hasan tanam cabai keriting
(Hasan, rompi hijau, dan pekerjanya saat memindahkan bibit cabai keriting ke lahan.)

Kebanyakan lebih memilih menanam cabai rawit atau cabai besar yang lebih luas pasarnya. Selama ini permintaan untuk cabai keriting memang lebih banyak dari luar kota seperti Surabaya, Bali, Jakarta atau daerah-daerah di wilayah barat lainnya.

Ada pun mengenai kendala hujan yang turun hampir tiap hari, Hasan mengatakan masalah yang kerap muncul adalah kelembaban tinggi yang membuat cabai rawan terkena serangan jamur.

“Untuk gangguan hama seperti kutu daun, tak separah di musim kemarau. Tapi untuk penyakit yang disebabkan jamur biasanya berkembang cepat. Karena lembab terus. Makanya dikasih mulsa dan guludannya ditinggikan. Juga harus rutin diberi fungisida untuk pencegahan sekaligus pengobatan kalau sudah ada yang terserang, sehingga tak sampai meluas ke tanaman yang lain,” jelasnya.

Untuk tahap awal penanaman seperti saat ini, Hasan memperkerjakan 6 orang. Mereka membantunya mulai dari pengolahan tanah, pembasmian rumput, pemberian pupuk dan obat, memasang mulsa hingga pemindahan bibit ke lahan.

Berita Terkait : Pentingnya Memanfaatkan Prakiraan Cuaca untuk Pertanian

Dengan sumber daya yang lumayan besar, baik modal maupun tenaga, Hasan berharap tanaman cabai keritingnya tidak ada masalah hingga mulai bisa dipanen 3-4 bulan ke depan. Selain itu, estimasinya tentang harga cabai keriting yang bakal merangkak naik, juga tidak sampai meleset terlalu jauh.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan