border=

Pertanian Vertikultur, Tak Hanya Indah Tapi Juga Hemat Lahan

pertanian vertikultur di gedung pencakar langit

Pomidor.id – Bagi yang tinggal di daerah perkotaan dan menggemari kegiatan bertanam, tentu sudah tidak asing dengan istilah urban farming. Ya, bertani ala orang kota yang memanfaatkan lahan sempit dengan efisien. Di antara berbagai macam metode bertani ala orang kota ini, ada satu yang kian banyak diminati. Yakni bertanam dengan cara vertikal atau pertanian vertikultur.

Dalam pengertiannya, vertikultur adalah sistem budidaya pertanian secara vertikal atau bertingkat. Baik itu di luar maupun di dalam ruangan (greenhouse). Sistem bertanam dengan metode ini semakin berkembang pesat, khususnya di perkotaan, lantaran terbatasnya lahan serta memperhitungkan faktor estetika dan ekonomis.

 border=

Konsep bertanam secara vertikultur ini terinspirasi oleh hunian vertikal seperti apartement atau rumah susun (bukan rumah lapis, lho). Jika dalam seribu meter persegi dibangun hunian yang sepenuhnya horizontal, akan didapatkan kurang lebih 10 rumah dengan ukuran masing-masing 84m2 (sudah memperhitungkan akses jalan). Katakanlah satu rumah ditinggal 4 orang (ayah, ibu dan 2 anak), maka tanah seluas seribu meter persegi hanya dapat dihuni sekitar 40 jiwa.

Berbeda jika di tanah seluas itu dibangun apartemen atau rumah susun. Jika rumah susun itu berlantai 10 sementara tiap-tiap lantainya tersedia 5 tempat tinggal, maka tanah dengan luasan yang sama dapat menampung 200 jiwa atau lima kali lipat dibandingkan hunian horizontal. Itu belum termasuk sisi-sisi sampingnya yang bisa dimanfaatkan untuk lahan parkir, tempat bermain anak-anak, taman, dlsb.

vertikultur sederhana
(Vertikultur sederhana dengan memanfaatkan botol-botol bekas.)

Artikel Terkait : 6 Alasan Kenapa Musti Beli Sayur & Buah dari Petani Lokal

 border=

Konsep yang sama bisa diterapkan untuk budidaya pertanian. Jika pertanian konvesional maksimal hanya bisa menanam empat pohon cabai permeter persegi misalnya, namun dengan pertanian vertikultur bisa ditanami hingga puluhan pohon. Tergantung metode dan bahan-bahan peralatan yang digunakan.

Model, ukuran, bahan, media, wadah untuk tanaman vertikultur memang sangat bervariasi. Sekarang tinggal menyesuaikan dengan kondisi dan keinginan pemiliknya. Akan tetapi umumnya tanaman vertikultur dibudidayakan di tempat berbentuk persegi panjang, segitiga atau bertingkat-tingkat seperti anak tangga dengan setiap tingkat berisi rak tanaman.

Sementara untuk bahan-bahannya bisa menggunakan bambu, pipa paralon, kaleng/botol bekas, dll. Untuk penghobi tanaman, bisa memanfaatkan barang apa saja yang ada di sekitar.

Lain halnya dengan yang dibudidayakan untuk skala industri. Butuh modal besar, peralatan canggih serta sistem yang terkomputerisasi. Bahkan juga memerlukan genset khusus untuk antisipasi padamnya listrik karena model pertanian vertikultur modern semacam ini sangat tergantung pada pasokan daya listrik untuk menggerakan berbagai peralatan canggihnya.

Satu lagi persayaratan vertikultur adalah tanaman yang dibudidayakan seyogyanya tanaman-tanaman yang berumur pendek. Sebab tanaman berumur tahunan memiliki akar yang terus tumbuh sehingga malah dapat merusak wadah tempat tanaman vertikultur tersebut.

Pada umumnya tanaman yang dibudidayakan secara vertikultur adalah jenis-jenis sayuran seperti kangkung, bayam, selada, sawi-sawian, tomat, cabai, terung, kemangi, dlsb.

vertikal farming
(Vertikal farming di Singapura yang tingginya bisa mencapai lebih dari 6 meter.)

Artikel Terkait : Agritech Butuh Sosialisasi yang Baik

Negara jiran yang getol mengembangkan model-model tanaman vertikultur adalah Singapura. Hal ini bisa dimaklumi karena dengan luas yang hanya 710 km persegi dan ditempati sekitar lima juta penduduk, Singapura tak mungkin mengembangkan pertanian dengan cara konvensional.

Namun seorang pengusaha kreatif asal Singapura mengatakan ia mampu memproduksi sayuran meski negara kota itu dikelilingi bangunan-bangunan tinggi menjulang. Berbekal teknik pertanian yang dinamakan A-Go-Grow, Jack Ng, pengusaha itu, menyulap lahan sempit di tempatnya sehingga mampu menghasilkan rata-rata 1 ton sayuran segar setiap harinya. Sayur-sayuran itu dipasarkan khusus untuk warga kota.

Tinggi tanaman yang dibudidayakan Jack Ng bisa sampai lebih dari 6 meter. Rak-rak sayuran disusun sedemikian rupa dalam sebuah rangka alumunium dan dapat berputar untuk bergantian menerima sinar matahari, aliran udara dan pengairannya. Sistem perputaran air mengikuti gaya gravitasi dan kemudian dinaikkan lagi menggunakan energi listrik.

Meski menggunakan listrik, Jack Ng mengklaim tidak boros energi karena untuk menggerakan satu unitnya hanya butuh daya setara dengan 60 W bola lampu. Seluruh sistem, masing-masing hanya membutuhkan lahan seluas 60 meter persegi. Sejauh ini sudah lebih dari 150 menara telah didirikan di Kranji, 14 km dari pusat bisnis Singapura.

jack ng
(Jack Ng, pelopor pertanian vertikultur skala industri di Singapura.)

Dengan konsep pertaniannya yang futuristis, tak heran banyak pengusaha maupun negara yang ingin mengadopsi konsep pertanian tersebut. Selain efisien lahan, pertanian semacam ini juga memenuhi unsur estetika. Bayangkan sebuah kota yang gedung-gedung pencakar langitnya tak berkesan kaku karena diselimuti warna hijau dedaunan. Penduduk kota tersebut tentu akan betah tinggal di dalamnya.

Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang sama untuk mengembangkan pertanian vertikultur. Beberapa praktisi agribisnis sudah melakukannya meski dalam lingkup yang lebih kecil. Modal yang teramat besar serta daya serap pasar yang terbatas untuk produk-produk pertanian vertikultur yang harganya bisa berkali-kali lipat ketimbang dengan yang dibudidayakan secara horizontal, menjadi pertimbangan sebelum ekspansi pertanian semacam ini. Apalagi lahan yang masih sangat luas di Indonesia membuat usaha pertanian yang sepenuhnya bergantung pada teknologi canggih, dianggap kurang mendesak.

tanaman di atas kolam
(Pertanian vertikultur yang dikombinasikan dengan kolam ikan.)

Artikel Terkait : Mina Padi, Konsep 2 in 1 yang Menguntungkan

Namun bagi penghobi tanaman, pertanian vertikultur dapat menjadi ajang pelepasan kreativitas. Mereka bisa memaksimalkan sisa halaman yang sempit untuk menghasilkan panenan sayuran yang sehat dan segar. Selain bisa dikonsumsi sendiri, bercocok tanam dengan cara vertikultur juga memperindah pekarangan rumah.

Jika hendak berinovasi lebih jauh, bertani vertikal ini dapat dipadukan dengan kolam untuk ikan konsumsi seperti nila, mujaer, gurame, ikan mas atau bawal. Atas tanaman, bawah ikan. Jadi sewaktu-waktu ketika uang belanjaan menipis, tak lagi bingung. Mau bikin lalapan ikan penyet, tinggal petik sayur dan ambil ikan segar di pekarangan rumah. Kalau pun masih ada yang harus dibeli di warung tetangga, paling-paling ya cuma terasi dan kerupuk untuk menambah nikmat lalapan.

2 Komentar

    • Sebenarnya yang tepat bukan penghematan lahan, namun memaksimalkan lahan yang ada. Jika pertanian konvensional, misalnya, membutuhkan lahan yang teramat luas karena menanamnya secara horizontal, maka pertanian vertikultur akan lebih sedikit menggunakan lahan karena tanaman yang dibudidayakan tumbuhnya ke atas alias vertikal. Boleh dibilang mirip2 hunian horizontal dengan hunian vertikal.

Tinggalkan Balasan