border=

Sampah Laut Lintas Batas Harus Segera Ditangani

sampah laut lintas batas

Pomidor.id – Sampah laut lintas batas merupakan persoalan serius yang harus secepatnya menjadi perhatian untuk ditangani mengingat dampaknya yang cukup besar pada masalah ekonomi, ekologi hingga kesehatan. Oleh karena itu, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman (Kemenko Maritim) berkomitmen untuk mengurangi sampah plastik di laut hingga sebesar 70 persen di tahun 2025 mendatang.

Komitmen pemerintah untuk menangani persoalan sampah laut lintas batas (trans boundaries debris), diungkapkan oleh Asisten Deputi Pendayagunaan IPTEK Maritim, Nani Hendiarti, dalam acara Workshop Aplikasi Penerapan Teknologi untuk Plastik Menjadi Bahan Campuran Aspal (Plastic for Tar Road/Plastaroad). Workshop itu sendiri berlangsung di Hotel Sari Pan Pasific, Jakarta, Kamis (21/12).

 border=
Nani Hendiarti
(Asisten Deputi Pendayagunaan IPTEK Maritim, Nani Hendiarti, dalam workshop penerapan teknologi limbah plastik menjadi bahan campuran aspal).

Menurut Nani, perlu segera dilakukan upaya percepatan yang komprehensif dan terpadu demi menanggulangi permasalahan sampah plastik di laut. Permasalahan ini juga harus diatasi secara berjenjang serta dilakukan semua pemangku kepentingan.

Kemenko Maritim saat ini bersama 16 Kementerian dan Lembaga bahkan telah menyusun dan melaksanakan Rencana Aksi Nasional yang melingkupi 56 kegiatan dengan empat strategi utama. Keempat  strategi itu menyangkut perubahan perilaku masyarakat, pengelolaan sampah di daratan, pesisir dan perairan, serta mekanisme pendanaan dan penguatan jaringan kerja sama kelembagaan yang ditunjang riset dan inovasi teknologi.

Sedangkan peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sebagai garda terdepan serta pelaku usaha dan masyarakat dalam pengelolaan sampah plastik ini perlu dipertegas dengan sistem pengendalian yang lebih baik.

 border=

“Rancangan Peraturan Presiden (PerPres), tentang pengelolaan sampah plastik di laut sedang dalam tahap akhir harmonisasi. Diharapkan pada awal tahun 2018 rancangan PerPres ini sudah dapat diselesaikan untuk selanjutnya disampaikan kepada Presiden Joko Widodo,” ujar Nani.

Artikel Terkait : Indonesia Serukan Laut Menjadi Bagian Kesepakatan Paris

Berbagai proses daur ulang terhadap sampah plastik sudah menghasilkan produk-produk yang berguna, di antaranya adalah penerapan teknologi Plastaroad. Teknologi ini memiliki prospek jangka panjang karena dinilai memiliki ketahanan yang lama, pengerjaan yang tidak rumit, investasi tidak besar serta prakteknya cukup sederhana dan tidak merepotkan.

Pada perioda Juli – Desember 2017, proyek percontohan teknologi Plastaroad telah diterapkan pada beberapa lokasi jalan sepanjang lebih kurang 10 km, dengan lebar jalan berkisar 7 meter. Beberapa pilot project yang sukses diaplikasikan ada di Kampus Universitas Udayana Bali sepanjang 1,9 km, Jl. Sultan Agung, Bekasi sepanjang 2,6 km, jalan raya Maros, Makassar, jalan di Kampus Univeritas 11 Maret, Solo, jalan raya ruas Gempol, Surabaya sepanjang 1,1 km, Jl Cilincing Raya, Jakarta Utara, dan jalan Tol Tangerang – Merak.

“Selain itu, ada pula swadaya masyarakat di Jl. Perumahan Jatimulya, Depok pada Juni 2017 yang diterapkan dengan cara sederhana. Kami lihat ada antusiasme dari masyarakat Indonesia. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Kementerian PU PR, BPPT dan beberapa mitra strategis lainnya atas dukungan dan sinergi yang baik,” jelasnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan