Cape Town Kota Besar Pertama Diambang Kehabisan Air Bersih

Cape Town krisis air bersih

Pomidor.id – Pernah nonton Mad Max : Fury Road? Film produksi kolaborasi Australia dan Amerika itu menggambarkan sebuah wilayah yang secara konstan dilanda kekacauan dan penuh kekerasan. Penyebab utama kesemrawutan selain nafsu berkuasa, adalah minimnya ketersediaan air. Orang pun tak segan-segan menghabisi sesamanya demi setetes air.

Link Banner

Meski hanya film, namun apa yang digambarkan dalam film tersebut bukan tidak mungkin terjadi pula di dunia nyata. Contohnya adalah apa yang kini tengah dialami sebuah kota di belahan selatan benua Afrika. Cape Town, kota terbesar kedua setelah Johannesburg di Afrika Selatan, saat ini menghadapi krisis air bersih yang amat parah.

penupan kolam renang
(Penutupan kolam renang untuk umum menjadi pilihan yang harus diambil untuk menghemat penggunaan air di Cape Town.)

Tiga tahun dilanda kekeringan hebat yang tidak pernah ada presedennya, membuat cadangan air bersih di Cape Town kian menipis. Bahkan diperkirakan air di seluruh waduk di kota itu akan habis tak sampai 90 hari ke depan. Apabila itu benar-benar terjadi, Cape Town akan menjadi kota besar pertama di dunia yang tak mampu lagi menyuplai air bersih bagi jutaan penduduknya. Keadaan itu kemudian disebut sebagai Day Zero.

Baca Juga : Libatkan Perempuan dalam Pengelolaan Sumber Air Bersih

Dikutip dari Bloomberg, Walikota Cape Town, Patricia de Lille, menghimbau warganya agar tak serampangan menggunakan air. Mereka dianjurkan berhemat sehemat-hematnya. Jika mereka bersikap masa bodoh atau tak mau ambil pusing, maka keran-keran di rumah-rumah penduduk dipastikan akan berhenti total mengalirkan air pada bulan April atau Mei mendatang.

Patricia de Lille
(Walikota Cape Town, Patricia de Lille.)

“Kita harus mengubah cara kita memperlakukan air,” kata de Lille yang telah mengeringkan air di kolam renang pribadinya dan juga sudah berhenti mencuci mobilnya. Hari-hari kerja de Lille sendiri kini 70 persen tercurah untuk mencari jalan keluar mengatasi krisis air tersebut.

“Mau tidak mau, mulai sekarang kita musti memikirkan bagaimana beradaptasi tinggal di tempat minim air secara permanen,” lanjutnya.

De Lille menambahkan, hanya 39 persen dari 4 juta penduduk Cape Town yang memakai air kurang dari 87 liter sehari, batas yang ditetapkan dewan kota untuk batas penggunaan per individu. Sisanya masih boros air.

Lille dalam wawancaranya dengan Time mengatakan, total konsumsi air di kotanya telah mencapai 618 juta liter perhari, naik dari sebelumnya 578 juta liter perhari. Targetnya dalam jangka pendek adalah mengurangi penggunaan air hingga hanya 500 juta liter perhari.

“Rata-rata konsumsi air penduduk Cape Town masih sangat tinggi,” keluh sang walikota.

Untuk menghemat penggunaan air, pemerintah kota melarang penduduk menyirami kebun dan mobil mereka. Sebagian besar kolam renang umum terpaksa ditutup. Anggota tim kriket, olah raga populer di Afsel, malah dihimbau hanya menggunakan shower tak lebih dari dua menit seusai bertanding. Selain itu, suplai air ke sejumlah dataran tinggi dan gedung-gedung apartemen juga dilakukan bergiliran.

kaum miskin menderita akibat krisis air bersih
(Kaum miskin adalah yang paling menderita dengan kebijakan penggiliran pasokan air bersih.)

Seperti biasa, yang paling menderita dari kebijakan penghematan air secara besar-besaran ini tentu adalah kaum miskin yang umumnya tinggal di daerah pinggiran.

“Kadang-kadang mereka (pemerintah) menghentikan sama sekali suplai air selama dua atau tiga jam. Dulu jarang, sekarang bisa lebih dari sekali seminggu. Air benar-benar menjadi masalah terbesar kami saat ini,” kata Patricia Gxothelwa, penduduk di daerah kumuh Imizamo Yethu.

Sejumlah ahli tata kota sudah lama mengingatkan bahwa persediaan air di Cape Town tidak sebanding dengan pertumbuhan penduduknya yang meningkat hampir dua kali lipat dalam 20 tahun terakhir. Hal itu lalu diperburuk dengan perubahan iklim yang memicu kekeringan hebat yang menurut para pakar ekologi, hanya terjadi “sekali dalam satu millenium”. Sistem pengelolaan air terbaik pun akan kesulitan mengatasi dua faktor di atas.

Baca Juga : Pemanasan Global Bakal Picu Gelombang Pengungsi

“Tidaklah umum sebuah kota yang memiliki infrastruktur air yang sangat maju sampai kehabisan air. Saya tidak tahu ada contoh kota sebesar Cape Town yang mengalami krisis air sedemikian parah. Betul-betul bencana,” kata Bob Scholes, seorang profesor sistem ekologi di Universitas Witwatersrand di Johannesburg.

Sedangkan Clem Sunter, ahli tata kota independen yang kerap memberi masukan bagi pemerintah kota Cape Town, menekankan pada upaya darurat yang musti dilakukan otoritas setempat.

“Saya tidak bisa berandai-andai betapa mengerikannya jika Day Zero itu benar-benar terjadi. Akan butuh ribuan kapal tanker untuk memenuhi kebutuhan air minimal bagi setiap warga. Mungkin sudah perlu dipertimbangkan rencana untuk sementara mengevakuasi penduduk,” tegas Clem Sunter.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan