border=

Belgian Blue Bukan Sapi GMO, Tapi Murni Sapi Hasil Silangan

Belgian Blue sapi hasil silangan

Pomidor.id – Menyikapi keinginan pemerintah mengembangkan Sapi Belgian Blue, sempat beredar kekhawatiran bahwa sapi ini merupakan sapi hasil rekayasa genetika atau yang lazim pula disebut  genetically modified organism (GMO). Kekhawatiran itu sepintas wajar mengingat bentuk serta bobot sapi tersebut tak ubahnya monster seperti yang ada dalam cerita-cerita mitologi. Namun kalau mau menggali informasi lebih jauh, kekhawatiran itu juga berlebihan. Pasalnya, Sapi Belgian Blue adalah murni sapi hasil silangan dari dua jenis induk yang berbeda, bukan sapi hasil rekayasa genetika.

Setiap kali menjelang Idul Adha, pasti selalu saja ada berita tentang sapi-sapi “luar biasa” yang menjadi favorit pejabat, pengusaha atau selebriti, untuk disumbangkan sebagai hewan kurban. Contohnya adalah sapi-sapi jenis Limousin, Brahman dan Simmental yang rata-rata memiliki bobot lebih dari 1 ton.

 border=

Sapi-sapi tersebut laris manis diburu kalangan tertentu selain karena menyimbolkan status mereka, juga terkesan praktis. Satu ekor sapi setara dengan puluhan kambing atau beberapa sapi biasa. Sehingga sangat layak jika kemudian disumbangkan sebagai hewan kurban.

Apabila masyarakat umumnya sudah bisa menerima sapi super jenis Limousin, Brahman atau Simmental, tidak demikian dengan sapi Belgian Blue. Masih banyak yang berpandangan bahwa sapi ini merupakan sapi yang genetikanya direkayasa. Malah ada pula yang menyebarkan kabar kalau sapi Belgian Blue adalah sapi hasil silangan dengan babi. Alasannya, sapi ini memiliki ciri-ciri yang mirip dengan babi seperti kulitnya yang tipis atau karena ada yang warna kulitnya agak merah muda.

kulit mirip babi
(Gara-gara kulitnya yang pucat kemerah-merahan, ada saja yang menyimpulkan apabila sapi Belgian Blue adalah sapi hasil silangan dengan babi. Kesimpulan yang asal njeplak karena memang tidak mungkin menyilangkan hewan beda spesies.)

Herannya, hoak semacam ini awal munculnya dari Barat sono. Generasi micin bin koplak ternyata bukan monopoli negara-negara berkembang saja. Tapi juga ada di negara-negara maju. Gimana gak koplak, binatang beda spesies kok dibilang bisa disilangkan. Apa mereka tidak paham dalam ilmu genetika menyilangkan gen binatang yang berlainan spesies itu adalah hal yang mustahil?

 border=

Tidak percaya? Coba saja silangkan bebek dengan ayam. Mau sampai lebaran lutung pun tidak akan berhasil. Padahal itu sama-sama jenis unggas. Apalagi ini sapi dengan babi.

Yang berbahaya dari informasi yang simpang siur semacam ini, orang awam menelannya mentah-mentah dan kemudian dengan semangat menggelora menyebarkannya ke mana-mana. Akhirnya kita jadi ribut sendiri gara-gara ada pihak yang tanpa dasar pengetahuan yang memadai bertingkah sok tahu.

Balik ke topik. Sudah lama para ahli mencemaskan tentang sumber makanan bagi penduduk bumi yang terus bertambah. Menurut data FAO (organ PBB yang mengurusi pertanian dan pangan), populasi manusia yang saat ini berjumlah 7,4 milyar diperkirakan akan menjadi 8,5 milyar di tahun 2030 serta mendekati 10 milyar di tahun 2050.

Timbul pertanyaan sekaligus kecemasan, lalu bagaimana memberi makan begitu banyak warga bumi dengan keterbatasan sumber daya yang dimiliki planet ini? Jawaban yang paling masuk akal adalah memberi ruang seluas-luasnya bagi ilmu pengetahuan dan teknologi untuk berinovasi.

Baca Juga : China Berencana Produksi Daging Palsu. Mau?

Pertanian vertikal, budidaya serangga untuk konsumsi, mengembangkan peternakan di laborarium, bahkan GMO pun merupakan inovasi untuk memenuhi kebutuhan manusia akan pangan. Termasuk persilangan hewan ternak untuk memaksimalkan produksi daging konsumsi.

Pun demikian dengan sapi Belgian Blue. Ini adalah murni sapi hasil silangan antara sapi lokal Belgia dengan sapi jenis Shorthorn asal Inggris. Dari persilangan ini didapatkan mutasi alami gen yang memproduksi protein yang beperan dalam pengembangan otot. Mutasi gen ini membuat pertumbuhan otot lebih cepat sehingga menghasilkan daging lebih banyak namun lemaknya sedikit. Untuk mempertahankan gen yang bermutasi secara alami ini, terus menerus dilakukan persilangan sampai didapatkan indukan murninya.

Pada prinsipnya, pengembangbiakkan sapi dibedakan berdasar manfaatnya, yakni sapi penghasil susu dan sapi potong. Sapi Belgian Blue sendiri dari awalnya memang sudah diplot untuk produksi daging. Karena itu sapi ini berukuran sangat besar dengan bobot antara 1,1 hingga 1,5 ton. Sementara tingginya rata-rata 1,2 sampai hampir 2 meter.

perbandingan sapi Belgian Blue dengan manusia
(Saking besarnya sapi Belgian Blue, manusia jadi tampak imut ketika berdiri di dekatnya.)

Meski berukuran 3-4 kali lebih besar, namun sapi Belgian Blue organ dalam dan kulitnya lebih kecil 15 persen dibanding sapi biasa. Sapi ini juga tidak dapat banyak makan rumput karena sempitnya ruang untuk menyimpan rumput di dalam perut mereka. Dengan demikian asupan makanannya hanya pakan olahan jerami dan konsentrat biji-bijian seperti kedelai.

Namun hal itu justru membuat pencernaan sapi hasil silangan ini efektif sehingga menghasilkan lebih banyak daging dan sedikit lemak. Buktinya terlihat dari tingginya prosentase dagingnya setelah dipotong yang mencapai lebih dari 80 persen, minus tulang, kulit dan jeroan.

Hitung-hitungan sederhana, jika seekor sapi Belgian Blue berbobot 1,2 ton, maka daging yang dihasilkan hampir satu ton. Ini tentu menguntungkan dari sisi penyediaan nutrisi daging konsumsi. Apalagi sapi Belgian Blue juga bukan pemakan rumput sehingga tergolong hewan ternak besar yang pemeliharaannya ramah lingkungan.

Oleh karena itu, upaya pemerintah melalui Kementerian Pertanian untuk mengembangbiakkan sapi Belgian Blue di Indonesia dengan menggandeng dua perguruan tinggi ternama (UGM dan IPB), patut didukung sepenuhnya. Bersama dua perguruan tinggi tersebut, pemerintah dapat mempelajari metode pemelliharaan sapi ini secara efisien. Begitu pula dengan pembibitannya baik dengan teknologi transfer embrio maupun inseminasi buatan.

daging sapi belgian blue
(Daging sapi Belgian Blue berkualitas tinggi karena rendah lemak dan dibudidayakan secara organik. Tak heran, harganya juga lebih mahal dibanding daging sapi biasa.)

Setelah itu, baru diambil langkah memassalkan pembesarannya dengan menggandeng perusahaan, koperasi peternak sapi hingga peternak perorangan. Ke depan, semakin banyak yang turut terlibat dalam pembesaran sapi yang pertumbuhan bobot tubuhnya bisa mencapai 2 kg perhari ini, maka akan semakin baik. Hal ini bisa menambah ketersediaan pasokan daging untuk kebutuhan dalam negeri.

Baca Juga : Tak Suka Makanan Transgenik? Jangan Makan Jagung!

Kalau pun ada yang ngeyel mengatakan sapi Belgian Blue adalah sapi hasil rekayasa genetika, tanya balik saja apakah semua produk GMO itu buruk? Lha wong jagung dan nasi yang dikonsumsi sehari-hari saja asal muasalnya dari jenis rerumputan, kok. Setelah melalui berbagai upaya penyilangan yang dilakukan nenek moyang kita, yang tentu ada efeknya pada mutasi genetik, “rumput” itu memberi makan sebagian besar warga bumi.

Yang repot kalau ada yang melihat langsung sapi raksasa ini lantas berfantasi kalau itu adalah hasil silangan sapi dengan babi. Selalu tak mudah menghadapi orang pekok garis miring bloon tapi keminter model begini. Mungkin cara yang paling mujarab adalah memintanya menyilangkan kambing dengan domba. Dua ternak yang masih kerabat dekat, lho.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan