Malang Pilot Project Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan

malang pilot project pengembangan ekonomi kerakyatan

Pomidor.id – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, berencana mengembangkan program ekonomi kerakyatan di propinsi paling ujung sebelah timur Pulau Jawa ini. Program yang berbasis pada para pelaku usaha kecil dan menengah tersebut diberi nama Yayasan Pemberdayaan Ekonomi (YPE). Mengingat banyaknya UMKM/IKM serta varian usaha yang digeluti, Malang dipilih menjadi pilot project pengembangan program YPE.

Link Banner

Hal itu diungkapkan Yusron, Ketua Pembina YPE Kabupaten Malang di kediaman Rini, salah seorang pelaku UMKM di Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, Minggu (11/2). Ia mengatakan YPE yang digagas akhir tahun 2017 itu merupakan bentuk kepedulian Kadin Jatim untuk mengangkat usaha kecil dan menengah agar dapat menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan. Bantuan Kadin Jatim antara lain berupa pemberian dana bergulir, pendampingan, pengurusan perijinan hingga mencarikan pasar bagi produk-produk usaha kecil dan menengah.

Dari 38 Kota/Kabupaten di Jawa Timur, Malang dipilih menjadi pilot project YPE. Hal ini karena di wilayah Malang Raya yang terdiri dari 3 Daerah Tingkat II, Kota Batu, Kota Malang dan Kabupaten Malang, geliat para pelaku UKM/IKM-nya cukup aktif dan dikenal luas. Tak hanya dalam skala nasional, namun juga ke manca negara.

Jika pilot project YPE berhasil di Malang, maka akan segera ditularkan ke daerah-daerah lain di Jawa Timur.

“Ini kesempatan emas bagi para pebisnis kecil dan menengah di sini. Dana dari Kadin Jatim sudah ada dan siap digelontorkan sewaktu-waktu. Tinggal menunggu verifikasi data mana saja pelaku UKM/IKM yang diikutkan program YPE,” jelas Yusron.

Baca Juga : MoU dengan Perusahaan & Ponpes untuk Pasarkan Produk Olahan APIK

Sedangkan persyaratan bagi pelaku UKM/IKM yang mengikuti program YPE ini tidak terlalu rumit. Yang penting usahanya riil dan produk yang dihasilkan memang layak untuk dikembangkan.

“Bapak-bapak dan Ibu-ibu cukup menyertakan laporan pemasukan dan pengeluaran usaha yang ditekuni. Untuk neraca laba ruginya, biar pihak Kadin yang menilai. Kalau pun kadang-kadang minus tapi ada potensi untuk membaliknya menjadi keuntungan jika diberi tambahan modal, pasti akan dipertimbangkan Kadin untuk diberi bantuan,” lanjutnya.

produk makanan olahan
(Produk makanan olahan seperti abon sapi dan cemilan termasuk menjadi perhatian Kadin Jatim untuk dikembangkan melalui YPE.)

Bambang, pembina di kota Batu menambahkan, Kadin pun siap memfasilitasi berbagai pameran UKM/IKM di wilayah Malang Raya. Sebab, hal itu sangat penting untuk mengenalkan produk-produk mereka langsung ke masyarakat.

Ia mengatakan Batu bisa menjadi alternatif tuan rumah pameran. Apalagi kota apel ini dikenal sebagai kota wisata yang banyak dikunjungi warga dari luar daerah, sehingga animo orang datang ke pameran diperkirakan juga besar.

“Di Batu ada Gedung Pancasila di Balai Kota Among Tani yang bisa dimanfaatkan untuk menggelar pameran. Gratis, asal belum ada yang booking. Nanti bisa diagendakan pameran berkala UKM/IKM hari Sabtu atau Minggu. (Pamerannya) bisa sebulan sekali, dua bulan sekali atau tiga bulan sekali. Tergantung kesiapan Njenengan-njenengan sekalian,” jelasnya.

Hari, seorang petani organik di Sukun yang ikut hadir di pertemuan itu, sempat meminta kejelasan mengenai kriteria usaha kecil dan menengah yang akan mendapat bantuan dari program YPE Kadin Jatim. Ia menanyakan apakah petani seperti dirinya termasuk dalam kriteria.

“Masuk, Pak. Untuk makanan olahan salah satu bahan bakunya kan juga dari petani. Jadi petani masuk dalam program yang akan dibantu YPE Kadin Jatim. Untuk teknis detilnya, tergantung di lapangan. Bisa berupa penyewaan lahan, penyediaan benih dan pupuk, atau teknologi penyimpanan dan pengemasan agar nilai jualnya bertambah,” tutur Bambang.

Baca Juga : Usaha Pertanian Organik Masih Terkendala Pasar

Di pertemuan yang berlangung dalam suasana santai dengan lesehan itu, ditegaskan bahwa produksi merupakan hal paling vital yang harus dilakukan para pelaku UKM/IKM. Sebesar atau sebagus apa pun program pemberdayaan ekonomi kerakyatan, tanpa kejelasan produksi maka akan sia-sia. Produksi merupakan tulang punggung bagi para pelaku usaha kecil dan menengah.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan