border=

Jangan Janjikan Picky Eater Hadiah Agar Mau Makan Sayur

picky eater
(Daripada mengobral iming-iming hadiah hanya agar anak mau makan sayur, lebih efektif membiasakan si kecil mencicipi beragam sayuran walau dengan porsi yang tak terlalu banyak.Foto : mamaplaats.nl)

Pomidor.id – Si kecil enggan makan sayur itu sih sudah biasa. Justru balita dan anak yang doyan sayur itu yang luar biasa. Memaksa si picky eater makan sayur bisa membuatnya trauma. Akan tetapi menjanjikan hadiah jika ia mau makan sayur juga merupakan langkah yang kurang tepat.

Para ibu pasti sepakat bahwa banyak ahli kesehatan biasanya terlalu mudah memberi teori. Pada kenyataannya, kaum ibulah yang justru sering kerepotan membujuk si kecil untuk makan sayuran.

 border=

Para peneliti dari Universitas Ghent di Belgia berhasil menyimpulkan bahwa cara paling tepat untuk membuat anak-anak menyukai sayuran adalah dengan memberikan menu tersebut secara berulang-ulang, dengan porsi yang tak sedikit, namun juga tak terlalu banyak. Sebaliknya, memberikan hadiah jika si picky eater ini mau makan sayuran justru akan membuatnya mogok makan sayur ketika ‘hadiah’ yang dijanjikan tersebut tak mereka dapatkan.

Penelitian yang dilakukan para ahli tersebut melibatkan 154 anak yang mengkonsumsi sayur secara rutin selama empat minggu berturut-turut, meskipun mereka tak menyukainya. Hasilnya, 95% dari mereka akhirnya menyukai sayuran tersebut.

Sayuran yang diberikan pun bermacam-macam, yakni fennel, chicory, bit, bayam, bunga kol, zucchini, kacang polong, daun bawang, yang semuanya dikukus atau direbus. Nah, chicory adalah sayur yang paling sedikit menarik minat anak-anak tersebut

 border=

Setelah itu, peneliti pun membagi mereka menjadi tiga kelompok, dimana salah satu dari grup tersebut mendapat ‘kesempatan’ untuk menikmati chicory secara berulang-ulang, tanpa diiming-imingi hadiah. Sedangkan dua kelompok lainnya juga harus mengkonsumsi sayuran yang sama, namun mereka mendapat iming-iming hadiah mainan jika mereka dapat menghabiskan sayuran tersebut.

Baca Juga : Hindari Menaruh 5 Jenis Makanan Ini ke Dalam Kulkas

Hasilnya sangat mengejutkan. Kelompok anak yang tak mendapat iming-iming hadiah justru menyukai chicory meski mereka tak pernah ingin menyentuh sayur ini sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa setiap anak bakal menyukai sayur yang mereka konsumsi secara konstan, dengan porsi yang pas.

Sampeyan pun bisa mencobanya dengan ragam sayuran yang paling sering ditemui seperti bayam, kangkung, brokoli, sawi, bunga  kol, dlsb. Tak perlu harus meniru persis contoh yang dilakukan Universitas Ghent diatas karena sayur-sayur tersebut tak banyak dijual di pasar-pasar tradisional.

Ajar Anak Belajar Asal Usul Makanan

Tak banyak orang tua paham pentingnya anak belajar mengetahui asal usul makanan. Hal ini dapat memicu ketertarikan mereka akan makanan yang dihidangkan. Hal ini diungkapkan oleh Natasha Gavin, pendiri yayasan sosial ‘I know why it’s yum, mum’. Ia mengungkapkan bahwa ketidaktahuan anak tentang asal usul makanan dapat membuatnya menolak makanan tersebut, bahkan saat mereka belum pernah merasakannya.

mengenalkan anak pada sayuran
(Mengenalkan sejak dini proses menanam dan memelihara sayuran pada anak, akan menumbuhkan minatnya untuk mengkonsumsi sayuran. Foto : istimewa)

“Patut disayangkan bahwa hanya sedikit orang yang menanam sayuran di halaman rumahnya, dimana hal ini dapat mereka manfaatkan untuk mengajak anak memelihara sayuran tersebut, sejak masa tanam hingga panen,” ungkap lulusan D3 di bidang studi nutrisi ini.

Ia menambahkan bahwa anak yang ikut merawat sayuran tersebut tentu tak sabar memetik sayuran tersebut saat sudah siap diolah, dan menyantapnya.

Baca Juga : Ajaklah Anak ke Dapur untuk Mengenal Makanan Sejak Dini

Jika menanam sayuran sendiri tak memungkinkan, tak berarti orang tua tak punya cara lain untuk mengubah kebiasaan anak yang tak suka sayur. Si picky eater harus dilatih mencicipi ragam sayuran sedikit demi sedikit, sehingga terhindar dari kebosanan. Saat mereka belajar bahwa mengkonsumsi sayuran ternyata tak seburuk yang mereka bayangkan, mereka akan membawa kebiasaan ini sampai besar.

Hal ini berbeda dengan anak yang terpaksa makan sayuran karena takut dengan orang tua mereka. Saat mereka dewasa, mereka bakal memuaskan diri dengan makanan-makanan tak sehat, karena mereka merasa bebas dari aturan harus makan sayur.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan