border=

Nelongsonya Jadi Pisang di Australia

gunungan limbah pisang di Australia
(Gunungan sampah pisang apkiran di Australia. Standar terlalu tinggi yang diterapkan supermarket di negara tersebut membuat 40 persen pisang dianggap tak layak jual sehingga dibuang begitu saja. Foto : news.com.au)

Pomidor.id – Di Indonesia, pisang tergolong buah yang tak hanya bisa dimakan langsung tapi juga bisa dibuat berbagai penganan olahan. Mulai dari jenang, dodol, kripik sampai selai, banyak yang bahan bakunya dari pisang. Malah di luar negeri, terutama di Jepang, sudah lama dibudidayakan jenis pisang yang bisa dimakan sekaligus dengan kulitnya. Jadi aneh saja rasanya kalau ada cerita pisang dibuang-buang hanya karena bentuknya kurang memenuhi standar.

Sayangnya, itulah yang terjadi di negara tetangga kita di utara, Australia. Pisang di negeri kangguru itu justru banyak yang dibuang-buang akibat standar produksi yang terlalu tinggi.

 border=

Craig Recaussel, seorang komedian Australia bahkan tak habis pikir saat melihat sejumlah besar pisang dipisahkan, dicincang dan kemudian dibuang begitu saja. Saking jengahnya melihat gunungan sampah pisang yang sebenarnya masih bisa dikonsumsi itu, ia sampai berucap, “Edan!”

pisang dibuang-buang
(Pisang-pisang yang sebenarnya masih bisa dimakan namun karena bentuknya tak sesuai standar, terpaksa harus dikirim ke mesin penghancur sampah. Sumber : news.com.au)

Fenomena pisang di Australia yang mudah berubah menjadi limbah sebelum mencapai rak supermarket tersebut, merupakan hal yang sangat mengejutkannya.

Dalam serial dokumenter War on Waste, Reucassel mengungkapkan bahwa sekitar 40 persen pisang di Australia dicampakkan oleh petani karena tidak sesuai standar yang ditetapkan supermarket atau toko buah. Kriteria tidak sesuai standar itu di antaranya, terlalu bengkok, terlalu lurus, terlalu panjang, terlalu pendek, terlalu gemuk atau terlalu kurus.

 border=

“Pisang-pisang ini sesungguhnya masih sangat layak untuk dimakan. Tapi karena tampilannya kurang bagus, ya berakhir jadi sampah. Terlalu melengkung dibuang. Terlalu lurus juga dibuang. Gila,” ujarnya.

“Betul-betul susah jadi pisang jaman now,” tambahnya lagi.

craig dengan pisang melengkung
(Craig Recaussel memandang gumun pisang yang dinyatakan tak layak jual gara-gara bentuknya terlalu melengkung. “Susah banget sih jadi pisang jaman now,” begitu mungkin pikirnya. Foto : news.com.au)

Yang membuatnya tambah geleng-geleng kepala adalah volume keseluruhan buah dan sayur yang akhirnya menjadi barang mubasir, sangatlah besar. Padahal butuh waktu berbulan-bulan untuk menumbuhkannya.

“Amatlah sulit memanen buah dan sayur dengan bentuk sempurna. Pernah saya melihat zucchini jadi barang apkir karena ukurannya terlalu besar gara-gara hujan deras sehari sebelum dipanen. Ini tak masuk akal,” gerutunya.

Baca Juga : Pisang Mongee, Pisang yang Bisa Dimakan Bersama Kulitnya

Recaussel menyatakan keprihatinannya dengan fenomena banyaknya makanan yang dibuang-buang di negaranya. Ini seperti menghina jutaan orang di seluruh dunia yang berjuang keras hanya untuk sekedar mendapatkan makanan.

craig di gunungan apkiran sampah
(Craig berdiri di atas gunungan sampah pisang apkiran. Ia mengatakan sudah saatnya menghentikan kebiasaan membuang-buang makanan dengan dalih standar penampilan. Foto : news.com.au)

Di sisi lain, kebiasaan membuang-buang makanan di Australia ini ternyata juga menjangkiti perilaku konsumen. Dalam penelusurannya, Reucassel mendapati fakta bahwa rata-rata konsumen membuang seperlima makanan yang mereka beli tanpa sempat dimakan. Jika dihitung, ini sama saja dengan menyia-nyiakan AUS$ 3.500 (sekitar Rp 37.315.000) biaya pengeluaran rumah tangga setiap tahunnya.

Dengan perilaku konsumen tersebut, Reucassel bahkan mengelompokkan Australia sebagai negara berkembang dalam soal limbah makanan.

Selain mendesak pemerintah mengambil tindakan, diharapkan juga ada kesadaran dari supermarket dan konsumen untuk membuat perubahan. Saat ini Reucassel melakukan kampanye dengan tagar #SizeDoesntMatter yang bertujuan agar supermarket-supermarket sedikit mengendorkan standar tampilan buah dan sayur yang mereka jual.

“Jika orang-orang menyadari hal ini dan memberitahu supermarket bahwa mereka tidak keberatan membeli pisang-pisang dengan bentuk agak belepotan, saya yakin pihak supermarket akan mau melonggarkan standarnya. Dengan demikian kita bisa lebih banyak menampung makanan yang dihasilkan dari kebun-kebun,” tegasnya.

Baca Juga : Aussie Disarankan Banyak-Banyak Makan Daging Kangguru

Apa yang dilakukan Craig Recaussel ini memang baik. Tapi yang mungkin ia tidak ketahui, jika pisang di Australia masih banyak yang dibuang-buang, ada baiknya ia berkunjung ke Indonesia. Orang-orang kita paling pinter dan kreatif dalam mengolah makanan, lho. Jangankan buahnya, gedebog (batang pisang) saja oleh orang Bali dibikin jadi sayur nikmat bernama Jukut Ares.

keripik pisang
(Ketimbang berakhir di tempat pembuangan sampah, mending pisang-pisang apkiran di Australia itu dikirim saja ke Indonesia. Di sini bisa diolah jadi macam-macam penganan. Kalau sudah jadi keripik seperti ini, kan bisa dikirim balik ke negara asal si pisang. Foto : bisnisukm.com)

Nah, daripada jadi barang mubasir, kirim saja pisang-pisang yang tak sesuai standar supermarket karena bentuknya yang tak karuan itu ke sini. Nanti kalau sudah jadi keripik atau jenang, kita kirim balik ke negara Sampean, Mister.

Sumber : news.com.au

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan