border=

Petani India Buang Panenan Tomat Karena Harganya Anjlok

panenan tomat dibuang ke danau

Pomidor.id – Kejadian di India ini sebenarnya juga berulang kali terjadi di Indonesia. Para petani terpaksa membuang hasil panenan tomat mereka akibat rontoknya harga. Pasokan berlebih yang tidak seimbang dengan kebutuhan pasar menjadi penyebab utama harga jatuh.

Di India, tepatnya di daerah Rayakottai, Krishnagiri dan Valappadi yang berada di sekitar danau Tamil Nadu, beramai-ramai membuang panenan tomat mereka ke danau tersebut. Hal itu terpaksa mereka lakukan karena harganya yang jatuh tak sesuai dengan modal yang harus mereka keluarkan untuk biaya menanam. Harga tomat yang biasanya 20 Rupee (sekitar Rp 4.200) per kg, anjlok menjadi tinggal sepersepuluhnya, 2 Rupee per kg (Rp 420).

 border=

Tindakan para petani itu tak ayal membuat danau Tamil Nadu berubah warna menjadi merah.

Dheiva Sigamani, Presiden Tamil Farmers Union (Serikat Petani Tamil), menyatakan keadaan ini dengan pedih.

“Para petani di Rayakottai dan Valappadi, yang merupakan sentra pasar dan daerah penghasil tomat terpaksa membuang panenan tomat mereka ke danau terdekat. (Harga yang buruk membuat) mereka tak dapat menutup biaya tanam,” ujar Sigamani.

 border=

Baca Juga : Puluhan Ribu Petani India Bunuh Diri Akibat Perubahan Iklim

Sigamani menjelaskan penyebab anjloknya harga tomat ini diakibatkan panenan yang berlebih. Pasokan melimpah tak sebanding dengan permintaan pasar. Umumnya petani di daerah tersebut memilih menanam tomat karena persediaan air irigasi yang terbatas sehingga hanya di waktu-waktu tertentu saja bisa menanam tanaman semusim seperti tomat.

“Tak seperti tebu, pisang atau pohon asem yang membutuhkan waktu lama dan banyak air untuk tumbuh, tomat adalah tanaman berumur pendek. Dengan ketersediaan air yang hanya tiga bulan, kami tak mungkin menanam tanaman berumur panjang. Jadi ketika petani beramai-ramai menanam tomat, pada waktu panen harganya pun jatuh,” terangnya.

tomat dibuang ke jalan
(Tidak hanya ke danau, panenan tomat juga dibuang-buang ke jalan. Foto : newsdog.today)

Lebih lanjut Sigamani mengatakan, karena daya simpannya rendah dan secara ekonomi nilainya tidak begitu tinggi, para petani lebih memilih membuang panenan tomat mereka ke danau saat harga anjlok gara-gara kelebihan pasokan.

Meski demikian, Sigamani menegaskan bahwa tidak ada petani yang teragitasi atau memprotes keadaan tersebut. Mereka membuang panenan tomat semata karena cepat membusuk.

Baca Juga : Produk Olahan Tomat Dapat Tingkatkan Kesejahteraan Petani

Sementara itu, juru bicara AIADMK (sebuah partai politik di negara bagian Tamil Nadu), KC Palaniswami, menyerukan perlunya pemerintah turun tangan. Menurutnya, pemerintah musti membuat kebijakan yang bersifat nasional untuk membantu para petani mengatasi permasalahan ini.

“Solusinya adalah menetapkan harga minimum untuk semua produk yang menjadi tuntutan para petani. Selain itu juga dibutuhkan bantuan pemerintah pusat dalam hal penyediaan fasilitas penyimpanan untuk barang-barang yang mudah rusak seperti produk-produk pertanian,” kata Palaniswani.

NABARD (bank untuk pertanian dan pembangunan pedesaan) di negerinya Inspektur Vijay itu memang memiliki cold storage atau fasilitas penyimpanan berpendingin. Namun jangkauan NABARD tidak sampai ke daerah-daerah pelosok. Oleh karena itu, Palaniswani meminta agar pemerintah pusat tidak tinggal diam. Apalagi NABARD berada di bawah kendali pemerintah pusat.

Sumber : The News Minute

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan