border=

Kadar CO2 yang Tinggi Kurangi Nutrisi Padi

nutrisi padi berkurang akibat CO2
(Kadar CO2 yang tinggi dapat menurunkan nutrisi padi sehingga akan berdampak luas pada penduduk yang menggantungkan pada beras sebagai makanan pokok. Image : ecowatch.com)

Pomidor.id – Kadar karbon dioksida (CO) yang terlampau tinggi di lapisan atmosfer, hal yang diperkirakan akan terjadi di akhir abad ini, berkorelasi dengan menurunnya nilai nutrisi padi. Tentunya ini merupakan kabar buruk bagi negara-negara yang menggantungkan makanan pokoknya pada beras seperti Indonesia.

Dalam makalah yang dipublikasikan di Science Advances, seorang peneliti di Universitas Washington (UW), Amerika Serikat, mengungkapkan keterkaitan erat antara tingginya kadar CO2 dengan menurunnya nilai nutrisi pada tanaman padi, makanan pokok sekitar 2 milyar penduduk bumi.

 border=

“Nasi yang merupakan produk turunan padi, sejak ribuan tahun sudah menjadi makanan utama penduduk di Asia dan sebagian Afrika,” ujar Kristie Ebi, Direktur Pusat Kesehatan dan Lingkungan di UW.

“Maka menurunnya kualitas kandungan nutrisi padi akan berdampak buruk terhadap kesehatan jutaan penduduk, terutama kaum ibu dan anak-anak,” tutur Ebi yang menjadi salah satu anggota tim peneliti.

Lebih jauh Kristie Ebi mengatakan tingginya kadar CO2 dapat mengurangi kandungan folat dalam vitamin B kompleks yang sangat dibutuhkan wanita hamil. Kekurangan folat ini akan meningkatkan resiko terhadap berbagai anomali kelahiran.

 border=

Baca Juga : Manajemen Pengolahan Tanah Kurangi Efek Perubahan Iklim

Tim itu sendiri beranggotakan sejumlah peneliti dari China, Jepang, Australia dan Amerika Serikat. Mereka melakukan studi lapangan di China dan Jepang pada 18 galur padi. Penelitian mereka menegaskan beberapa penelitian yang dilakukan sebelumnya. Kadar karbon dioksida yang diperkirakan akan meningkat pada tahun 2100 berkorelasi langsung dengan turunnya kandungan zinc, protein dan besi pada beras.

studi lapangan di jepang
(Studi lapangan untuk menganalisa dampak peningkatan karbon dioksida pada tanaman padi. Studi tersebut dilakukan di persawahan dekat Tsukuba, Perfektur Ibaraki, Jepang. Image : vox.com)

Tak hanya itu, mereka juga mendapati bahwa tingginya kadar CO2 menyusutkan jumlah vitamin B1, B2, B5 dan B9 yang teramat penting untuk asupan energi.

Secara keseluruhan, tingkat rata-rata vitamin B1 menyusut sebesar 17,1 persen, vitamin B2 sebesar 16,6 persen, vitamin B5 sebesar 12,7 persen dan vitamin B9 sebesar 30,3 persen. Sedangkan kandungan besi rata-rata turun 8 persen, kandungan zinc 5,1 persen dan kandungan protein rata-rata turun 10,3 persen.

Para peneliti menyebutkan bahwa kandungan gizi beras yang lebih rendah kemungkinan besar berdampak pada sekitar 600 juta orang yang sebagian besarnya ada di negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Hal ini karena penduduk di kawasan tersebut bergantung pada beras untuk 50 persen kebutuhan energi dan protein mereka.

Kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, bakal menjadi salah satu kawasan yang sangat rentan terhadap perubahan iklim seperti cuaca ekstrim dan naiknya permukaan air laut. Bahkan dalam laporan Forum Ekonomi Dunia di tahun 2018, separuh dari 10 daerah yang paling rentan terdampak perubahan iklim berada di Asia Selatan dan Asia Tenggara.

“Ini adalah efek dari pembakaran bahan bakar fosil dan penggundulan hutan yang kurang diperhatikan oleh otoritas di negara-negara yang rawan terdampak perubahan iklim,” papar Ebi.

Baca Juga : China Kembangkan Varietas Padi yang Tahan Air Asin

Hasil penelitian itu menambahkan, dampak buruk dari menurunnya nutrisi padi ini meningkatkan resiko terkena malaria, stunting (pertumbuhan lambat/kerdil), busung lapar dan rawan terserang diare.

varietas padi tahan CO2
(Golden rice dengan beras putih. Untuk mengatasi turunnya nutrisi beras dibutuhkan varietas padi yang tahan terhadap naiknya konsentrasi CO2. Image : guardian.com)

Untuk mengurangi dampak buruk penurunan nutrisi padi, para peneliti menyatakan musti dicari varietas padi yang imun terhadap peningkatan karbon dioksida. Sayangnya untuk menemukan varietas padi semacam ini membutuhkan waktu lama dan proses penelitian yang panjang. Sementara alternatif lainnya, dan yang paling masuk akal, adalah mensosialisasikan pentingnya melakukan diversifikasi makanan pokok pengganti beras.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan