Paguyuban UMKM Akan Berumur Panjang Saat Lebih Berorientasi Sosial

Rumah Pengusaha Malang Raya
(Rumah Pengusaha Malang Raya merupakan satu dari sejumlah asosiasi atau paguyuban pengusaha UMKM. Paguyuban UMKM ini memiliki lebih dari 250 anggota yang tersebar di wilayah Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu. Image : istimewa)

Pomidor.id – Rumah Pengusaha Malang Raya (RPMR) adalah semacam asosiasi atau paguyuban bagi para pelaku UMKM di wilayah Malang Raya. Meski bukan satu-satunya wadah berkumpulnya pengusaha kecil dan menengah di Malang, namun RPMR tergolong paguyuban UMKM yang cukup besar dengan lebih dari 250 anggota. Agar usianya tak seumur jagung, RPMR musti mengedepankan unsur sosial ketimbang semata mengejar keuntungan secara finansial.

Demikian diungkapkan ketua RPMR, Nanang Sugeng Widyantoro, mengenai misi membentuk wadah bagi para pelaku UMKM tersebut. Ia menegaskan tujuan dibentuknya RPMR lebih kental nuansa sosial dan berbaginya ketimbang sekedar memburu profit.

“Selama ini tujuan RPMR memang murni membantu pelaku-pelaku usaha kecil dan menengah di Malang Raya untuk mengenalkan produk-produk mereka di masyarakat,” terang Nanang di markas tempat “kongkow” anggota RPMR di Jalan Sigura-gura Barat No. 23, Malang.

Baca Juga : RPMR Manfaatkan Halaman Kantor Pos Besar untuk Berdayakan UMKM

Nanang mengatakan, bantuan itu bisa berupa pemberian saran pengemasan produk yang praktis dan menarik, memberi informasi mengenai kegiatan yang dapat menunjang usaha, mencarikan tempat untuk mengenalkan produk, pelatihan digital marketing, dlsb.

ketua dan wakil ketua RPMR
(Ketua RPMR, Nanang Sugeng Widyantoro dan wakilnya, Ronny Mei Kurniawan. Image : pomidor.id)

“Tak hanya itu. Kami sekarang juga menggandeng ABM (sekolah tinggi ilmu ekonomi) Malang untuk melakukan pendampingan para pelaku UMKM biar pembukuan mereka lebih rapi. Karena kita kan tahu kalau kelemahan pengusaha-pengusaha kecil itu biasanya di pembukuan yang awut-awutan. Cash flow usahanya kadang juga tidak jelas. Padahal kalau pembukuan mereka rapi, yang untung juga mereka sendiri. Akses ke lembaga keuangan lebih terbuka. Sehingga ketika sewaktu-waktu mereka membutuhkan tambahan modal, urusannya pun jadi lebih mudah,” paparnya.

Keinginan menggiring para pelaku UMKM untuk lebih profesional menjalankan bisnis mereka, tentu membutuhkan upaya ekstra. Selain waktu dan tenaga, ada hal lain yang terkadang sangat sensitif namun tak kalah pentingnya. Yakni, soal biaya operasional untuk menggerakkan paguyuban.

“Ada memang usulan dari sebagian anggota untuk mengumpulkan iuran demi menutup biaya operasional berbagai kegiatan yang kami lakukan. Sebab itu juga demi kepentingan mereka sendiri. Namun agar tidak menimbulkan polemik atau syak wasangka yang bukan-bukan, untuk sementara kami, pengurus, yang urunan menutupnya,” ujar Nanang.

Baca Juga : Dinas Perikanan Jatim Tertarik dengan Konsep Usaha APIK

Senada dengan Nanang, wakil ketua RPMR, Ronny Mei Kurniawan, menjelaskan bahwa paguyuban UMKM yang didirikan di akhir 2017 ini, bukan kendaraan untuk mencari keuntungan materi bagi pengurus. Apalagi sosok-sosok di kepengurusan RPMR rata-rata adalah pebisnis yang relatif sudah mapan secara ekonomi.

“Tambah merepotkan kalau berpikir mengambil keuntungan materi dari RPMR. Seringnya malah kami, pengurus, yang tombok. Tapi tidak masalah. Yang penting kami bisa membantu teman-teman UMKM untuk cepat berkembang,” katanya.

desain logo gratis pelaku UMKM
(“AA Packaging House” milik Ronny membantu mendesainkan gratis logo pelaku UMKM. Image : pomidor.id)

Ronny mencontohkan kontribusi yang bisa ia berikan sejauh ini adalah membantu desain logo dan konsultasi packaging produk secara cuma-cuma bagi anggota RPMR yang membutuhkan. Hal itu bisa ia lakukan karena ia memang bergerak di bisnis pengemasan produk, khususnya produk makanan dan minuman olahan.

“Biaya baru dikenakan jika mereka menyerahkan produk mereka untuk kami kemas sesuai standar keamanan pangan dan mudah menarik konsumen. Tapi kalau sekedar pembuatan desain logo atau masukan tentang bagaimana pengemasan yang baik, kami bantu sepenuhnya. Gratis,” tegasnya.

Baca Juga : Malang Pilot Project Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan

Baik Nanang maupun Ronny meyakini potensi besar pelaku usaha kecil dan menengah. Pembentukkan paguyuban UMKM di wilayah Malang Raya yang meliputi Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu, merupakan upaya membuat potensi tersebut menjadi kekuatan ekonomi masyarakat bawah.

Namun untuk itu tentu ada catatannya. Pembentukkan paguyuban UMKM tidak lantas dijadikan ajang mencari keuntungan sepihak bagi segelintir pengurus. Jika itu yang terjadi, niscaya paguyuban akan berumur pendek dan gampang rontok di tengah jalan karena tidak mendatangkan manfaat apa-apa bagi para anggotanya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan