border=

Memanfaatkan Teknologi Nuklir untuk Pacu Ekspor Komoditas Pertanian

teknologi nuklir untuk produk pangan
(Badan Karantina Kementan menggandeng BATAN dalam upaya meningkatkan ekspor produk pertanian nasional. Teknik iradiasi dapat memperpanjang daya simpan produk pangan namun tidak berbahaya bagi kesehatan manusia. Foto : batan.go.id)

Pomidor.id – Badan Karantina Kementerian Pertanian akan memanfaatkan fasilitas Iradiator Gama Merah Putih (IGMP) untuk kegiatan fitosanitari terhadap buah-buahan dan komoditas pertanian lainnya yang akan diekspor. Fitosanitari adalah tindakan karantina tumbuhan terhadap komoditas pertanian yang bertujuan untuk membunuh serangga atau lalat yang ada di dalam buah sebelum diekspor ke negara lain.

Keinginan pemanfaatan IGMP ini diwujudkan dengan penandatanganan naskah kerja sama antara Kepala Badan Karantina, Banun Harpini, dengan Sekretaris Utama Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Falconi Margono di Gedung Badan Karantina, Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Kamis (3/5).

 border=

Dikutip dari rilis situs resminya, Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan, kerja sama ini merupakan sebuah kemajuan yang menunjukkan bahwa teknologi nuklir telah dibutuhkan masyarakat.

Baca Juga : Kosta Rika Gunakan Teknologi Nuklir untuk Keamanan Pangan

“Ini adalah sebuah langkah signifikan untuk menunjukkan bahwa teknologi nuklir diakui manfaatnya oleh lembaga lain yang berhubungan dengan proses ekspor hasil pertanian. Sekaligus menunjukkan IGMP yang telah kita bangun dapat memberikan contoh peningkatan nilai tambah eksportir buah-buahan dan komoditas lainnya,” ujar Djarot.

 border=

Djarot menambahkan, implementasi kerja sama ini merupakan upaya meningkatkan ekspor produk pertanian. Banyak negara tujuan ekspor yang mensyaratkan produk pertanian yang diekspor harus terbebas dari serangga atau lalat buah. Dengan memanfaatkan fasilitas IGMP, serangga dan lalat buah yang ada di dalam produk pertanian dapat dibunuh tanpa harus merusak produk yang akan diekspor.

“Harapannya IGMP dapat dimaksimalkan, sehingga cita-cita sebagai role model atau prototipe tercapai. Selain itu, dengan contoh yang sudah ada, dapat dibangun iradiator gama lainnya di beberapa lokasi di Indonesia,” tambahnya.

kerjasama barantan-batan
(Kepala BATAN, Djarot Sulistio, bersalaman dengan Kepala Badan Karantina Kementan, Banun Harpini, usai penandatanganan kerja sama. Foto : batan.go.id)

Hal senada disampaikan Banun Harpini. Ia mengatakan dengan banyaknya negara tujuan ekspor yang melarang penggunaan insektisida kimia untuk pengendalian serangga dan mikroba dalam produk pangan, membuat iradiasi menjadi alternatif untuk memenuhi persyaratan tersebut.

“Iradiasi menjadi alternatif dan jalan terbaik yang efektif untuk melindungi produk pangan dari kerusakan akibat serangga serta sebagai tindakan karantina untuk produk pangan segar,” jelasnya.

Baca Juga : Teknologi Ozon untuk Pengawet Makanan & Produk Hortikultura

Menurutnya, sistem iradiasi yang dilakukan untuk memenuhi persyaratan fitosanitari dari negara tujuan ekspor mempunyai banyak keunggulan dibandingkan teknik lainnya.

“Teknik iradiasi pada beberapa jenis buah dan sayuran dengan dosis yang sesuai dan aman dapat memperpanjang umur atau daya simpan serta tidak berbahaya lagi bagi kesehatan manusia,” tuturnya.

Dengan kerja sama ini, Banun Harpini berharap, BATAN dapat memberikan keringanan biaya proses iradiasi untuk ekportir dalam rangka mendorong akselerasi kegiatan ekspor pangan, sayuran, dan hasil pertanian Indonesia lainnya di pasar internasional.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan