border=

WHO Kampanyekan Eliminasi Trans Fat Olahan pada Industri Makanan

trans fat olahan
(Mengingat bahayanya bagi kesehatan, WHO menyerukan pengurangan besar-besaran penggunaan trans fat pada industri makanan global. Image : publichealthwatch.wordpress.com)

Pomidor.id – Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin kerap berbelanja makanan olahan siap saji di toko atau supermarket. Namun sangat jarang kita mau repot-repot memelototi bahan-bahan apa saja yang digunakan. Termasuk apakah makanan-makanan tersebut mengandung trans fat olahan atau tidak.

Pengertian trans fat dalam bahasa Indonesia adalah asam lemak trans. Asam lemak adalah materi yang membentuk lemak dan minyak. Secara alami, trans fat dalam jumlah sedikit ada pada produk daging dan susu. Namun ada pula trans fat olahan yang banyak dipakai pada aneka produk makanan olahan.

 border=

Trans fat olahan sendiri merupakan lemak yang dibentuk dengan menambahkan hidrogen ke dalam minyak sayur. Proses hidrogenasi ini akan membuat minyak lebih tahan lama dan tidak cepat rusak.

Kue, biskuit dan banyak makanan yang digoreng, seperti donat dan kentang goreng, disinyalir mengandung trans fat yang tinggi. Begitu pula dengan margarin curah yang banyak dijual bebas tanpa pencantuman daftar kandungan trans fats pada label nutrisinya.

Yang berbahaya adalah proses penambahan hidrogen ke dalam minyak ini akan membuatnya sulit dicerna dan berefek buruk bagi pembuluh darah dibandingkan lemak jenuh. Karena itu, pakar kesehatan menggolongkan trans fat olahan sebagai jenis lemak yang paling buruk bagi kesehatan.

 border=

Mengingat bahayanya ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengkampanyekan pengurangan besar-besaran penggunaan trans fat pada industri makanan secara global. Pasalnya, penggunaan trans fat olahan yang berlebihan sangatlah berbahaya bagi kesehatan. Selain meningkatkan kadar kolesterol dalam tubuh, trans fat olahan juga memperbesar kemungkinan serangan jantung.

Menurut data WHO, trans fat dituding sebagai penyebab sekitar 500 ribu kematian dini setiap tahunnya di seluruh dunia akibat penyakit yang berkenaan dengan jantung dan pembuluh darah, atau penyakit kardiovaskular.

Baca Juga : WHO : Atur Iklan Makanan Berefek Obesitas pada Anak-anak

Untuk mengurangi dampak trans fat olahan bagi kesehatan, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyerukan agar pemerintah-pemerintah di seluruh dunia mengikuti program REPLACE.

“Menerapkan enam aksi strategis dalam paket REPLACE akan membantu tercapainya penghapusan penggunaan trans fat olahan serta membantu perang global melawan penyakit kardiovaskular,” demikian pernyataan Ghebreyesus dalam situs resmi WHO.

Ada pun enam aksi REPLACE tersebut adalah :

  1. REview

Mereview sumber makanan yang diproduksi industri makanan sehingga dapat menjadi dasar perubahan kebijakan yang diperlukan.

  1. Promote

Mendorong penggantian trans fat yang diproduksi industri makanan dengan lemak dan minyak yang lebih sehat.

  1. Legislate

Legislasi atau mengeluarkan peraturan yang meniadakan penggunaan trans fat olahan pada industri makanan.

  1. Assess

Mengakses dan memonitor kandungan trans fat pada mata rantai suplai makanan serta konsumsinya di masyarakat.

  1. Create

Menciptakan/menumbuhkan kesadaran akan dampak buruk trans fat bagi kesehatan di kalangan pembuat kebijakan, produsen, pemasok serta masyarakat umum.

  1. Enforce

Menegakkan peraturan secara tegas.

makanan dengan trans fat tinggi
(Mengingat bahayanya bagi kesehatan, WHO menyerukan pengurangan besar-besaran penggunaan trans fat pada industri makanan global. Image : publichealthwatch.wordpress.com)

Baca Juga : Konsumsi Kacang Perkecil Resiko Serangan Jantung

Sejauh ini, beberapa negara maju telah menerapkan aturan yang membatasi penggunaan trans fat olahan pada makanan kemasan. Bahkan ada negara yang secara total melarang penggunaan minyak yang dihidrogenasi sebagai pengawet makanan yang diproduksi oleh industri makanan.

Denmark adalah pelopor negara yang secara ketat membatasi trans fat olahan pada industri makanan. Kematian akibat penyakit kardiovaskular di negara Skandinavia tersebut adalah yang terendah di antara negara-negara maju lainnya.

Tindakan yang sama mustinya juga diambil negara-negara berkembang. Sebab di negara-negara yang kontrol pada industri makanannya sangat lemah, penyakit kardiovaskular menjadi momok yang menakutkan. Tak terkecuali di Indonesia, penyakit ini bahkan sudah menjadi pembunuh nomor satu.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan