border=

Duh Emane, Sayuran Organik Petani Nepal Tak Laku Dijual

sayuran organik petani Nepal
(Durga Bhujel, seorang petani di Nepal, tengah memanen tanaman tomat yang ia budidayakan secara organik. Meski tanpa menggunakan pestisida kimia, hasil panenannya dihargai sama dengan sayuran non organik lainnya. Image : kathmandupost.ekantipur.com)

Pomidor.id – Berita ini mungkin bakal membuat dahi kita sedikit berkerut. Sayur organik yang biasanya diburu dan dihargai mahal, justru tak laku di belahan dunia lain. Sayuran organik petani Nepal ternyata sulit dijual karena para tengkulak emoh mengeluarkan uang lebih untuk membeli sayuran bebas pestisida tersebut.

Petani sayuran di Dhading, salah satu distrik di Nepal, kerap puyeng tujuh keliling gara-gara panenan mereka tak begitu terserap pasar. Padahal sebelumnya mereka sempat berharap tinggi karena sayur yang mereka budidayakan adalah sayuran bebas pestisida alias organik. Apalagi panenan mereka rata-rata mencapai 15 ton per harinya.

 border=

Anehnya, dengan panenan segitu banyak tak ada satu pun bakul yang datang. Para petani pun kebingungan karena tak tahu lagi harus ke mana atau bagaimana menarik pembeli untuk memborong sayuran organik mereka. Kalau pun ada tengkulak yang mau beli, maunya harga sayuran itu dijual dengan harga seperti sayuran non organik pada umumnya.

“Kami beralih ke budidaya sayuran bebas pestisida ini dengan semangat menggebu-gebu. Tapi nyatanya para pedagang menolak membayar lebih pada hasil panenan kami,” ujar Durga Bhujel, petani di Dhading, sebagaimana dilansir Kathamandhu Post.

Baca Juga : FAO Bantu Petani Nepal Siasati Perubahan Iklim Global

 border=

Durga Bhujel sendiri adalah satu di antara 22 petani yang menyewa tanah untuk bertanam sayuran organik. Durga dan kelompok taninya sama sekali tidak menggunakan pestisida sintetis untuk merawat sayuran mereka. Mereka hanya mengandalkan pengaplikasian metode organik murni untuk mengendalikan hama dan penyakit yang menyerang tanaman mereka.

Kelompok tani Durga menghasilkan sekitar 200 kg aneka macam sayur setiap harinya. Sayangnya, panenan mereka sering kali tidak dihargai sebagaimana mestinya.

Sebenarnya banyak konsumen yang potensial menjadi pelanggan sayuran yang dibudidayakan tanpa sentuhan pestisida kimia. Namun kurangnya fasilitas serta ketiadaan outlet untuk menjual sayuran tersebut, membuat tidak ada titik temu antara produsen sayuran organik petani Nepal dengan konsumennya. Sehingga daripada sama sekali tidak laku dijual, sayuran mereka terpaksa dicampur dengan sayuran non organik lainnya. Tentu dengan harga yang jauh lebih murah.

Baca Juga : 6 Alasan Kenapa Musti Beli Sayur & Buah dari Petani Lokal

Hampir 10 ribu petani di distrik Dhading menggantungkan kehidupannya pada budidaya sayuran. Luas lahan yang mereka tanami tak kurang dari 4.516 hektar dengan produksi mencapai 57.805 ton sayuran per tahunnya senilai € 20,5 juta (sekitar Rp 334 milyar).

petani Nepal menyemprot pestisida kimia tanaman mereka
(Petani sayur di Dhading, Nepal, akrab dengan pestisida sintetis untuk mengendalikan hama yang menyerang tanaman mereka. Penggunaan pestisida ini tak jarang dilakukan secara berlebihan demi mengejar keuntungan tapi mengabaikan dampak buruknya terhadap kesehatan konsumen. Kok mirip di Indonesia, ya. Image : scidev.net)

Perputaran ekonomi yang tinggi dari sayuran ini membuat Dhading menjadi penghasil sayuran nomor dua terbesar di Nepal setelah Kabhre. Hanya saja, sebagian besar produk sayuran organik petani Nepal yang dihasilkan adalah sayuran non organik. Penggunaan secara berlebihan pestisida kimia dan bahan-bahan sintetis lainnya lazim dilakukan petani di sana untuk memacu hasil panen serta meningkatkan keuntungan.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan