border=

Swedia Serius Kembangkan Budidaya Ubi Jalar, Tapi Ribetnya Minta Ampun

budidaya ubi jalar di swedia
(Setiap ubi jalar atau telo yang dijual di Swedia diberi tanda dari sinar laser sebagai pengganti stiker atau kemasan plastik. Negara di Eropa Utara itu kini tengah serius mengembangkan budidaya ubi jalar organik. Image : euronews.com)

Pomidor.id – Di Indonesia, ubi jalar atau orang Jawa menyebutnya telo, lekat dengan citra sebagai makanan orang miskin. Makanan orang susah. Pamornya kalah dengan jenis umbi-umbian lainnya seperti kentang atau bit. Namun di negeri nun jauh di sana, tepatnya di Swedia, budidaya ubi jalar malah dikembangkan secara serius. Tapi melihat prosesnya, ribetnya minta ampun.

Akhir Mei lalu, untuk pertama kalinya ditanam 5 ribu tanaman ubi jalar di lahan percobaan di Bjärehalvön atau Semenanjung Bjäre, daerah penghasil utama kentang di Swedia. Upaya budidaya ubi jalar ini merupakan inisiatif Sekolah Tinggi Pertanian Swedia yang bekerja sama dengan HIR Skåne, sebuah perusahaan konsultan pertanian di negara tersebut.

 border=

Agneta Svensson, petani yang turut membantu menanam ubi jalar, mengatakan pekerjaan ini bukanlah pekerjaan asal-asalan.

“Saya ingin ubi jalar tetap sebagai tanaman khusus. Jangan dulu diproduksi besar-besaran,” jelas Agneta, dilansir dari sebuah laman pertanian Swedia.

Agneta sendiri sudah empat tahun ini bereksperimen dengan budidaya ubi jalar. Ia yakin pada saatnya nanti tanaman ini akan mempunyai prospek cerah di masa depan.

 border=

“Walau pun butuh kerja ekstra serta dibayangi resiko tinggi, tetap saja rasanya amat menyenangkan mencoba budidaya tanaman-tanaman baru. Sekarang tinggal menunggu berapa harga yang pantas dibayar konsumen untuk tanaman ini. Tapi mereka musti melihat pula nilai lebih ubi jalar yang ditanam di Swedia,” imbuhnya.

Baca Juga : Pakar Palaeobotanist Ungkap Ubi Jalar Berasal dari Asia, Bukan Amerika

agneta svensson
(Agneta Svensson, petani ubi jalar di Swedia.)

Tak hanya ubi jalar, Agneta dan keluarganya juga menanam beberapa tanaman khusus. Menurutnya, terlepas dari persoalan teknis budidaya yang kudu diatasi, hasil panenan seyogyanya bisa dijual sewajarnya. Tak terlalu mahal juga tak terlampau murah.

Untungnya di Swedia biaya untuk perawatan tanaman tidaklah tinggi. Pasalnya, negara Skandinavia itu relatif tak banyak diganggu serangan hama dan penyakit seperti halnya Amerika Serikat yang menjadi produsen utama tanaman pangan. Sehingga penggunaan pestisida di Swedia pun bisa ditekan seminim mungkin.

“Kami menanamnya murni secara organik,” ujar Agneta sembari mengawasi para pekerjanya memasang biodegradable mulsa plastik yang dipersiapkan untuk menanam ubi jalar.

Sekolah Tinggi Pertanian Swedia dan HIR Skåne telah menggunakan lahan keluarga Svensson untuk uji coba penanaman ubi jalar sejak tahun lalu. Apa yang mereka lakukan ini merupakan bagian dari proyek tiga tahun untuk meneliti dan memecahkan sejumlah masalah terkait dengan budidaya ubi jalar. Tujuan utamanya adalah untuk menyempurnakan teknik kultivasi tanaman ini.

Tahun lalu, mereka mendatangkan berbagai varietas unggul ubi jalar dari luar negeri untuk diuji. Sambil jalan, mereka juga menjajaki cara terbaik mengenalkan sekaligus memasarkan ubi jalar di negaranya.

Selain di lahan Svensson, awal Juni lalu tim ini juga berkeksperimen di Småland dan Öland.

“Ubi jalar butuh banyak sinar matahari. Tak kalah pentingnya, akar tanaman ini harus tumbuh dengan baik. Mereka harus segera dipindah ke lahan terbuka. Jika dibiarkan terlalu lama dalam pot pembibitan, akarnya akan kusut dan tidak dapat membentuk umbi yang sempurna,” kata Oskar Hansson, konsultan di HIR Skåne.

memasang mulsa untuk ubi jalar
(Para pekerja tengah melubangi mulsa plastik yang bisa didaur ulang untuk menanam ubi jalar di Semenanjung Bjäre, Swedia. Image : landlantbruk.se)

Tantangan berikutnya yang harus mereka hadapi adalah teknik memanennya.

“Ubi jalar itu sensitif dan lunak. Menghilangkan semak-semaknya bisa dengan mesin. Tapi memanennya dari dalam tanah tetap harus pakai tangan agar umbinya tak sampai rusak,” tutur Hansson.

Baca Juga : Bit Dinobatkan Sebagai Sayuran Terpopuler 2018

Ia mengatakan buruknya cuaca tahun kemarin membuat sebagian ubi jalar kesulitan dipanen dan umbinya masih tersisa di dalam tanah.

“Cuaca dingin serta hujan yang turun di akhir tahun, membuat kami hanya mampu memanen 30 ton. Tapi itu sudah lumayan. Untuk mengantisipasi kesulitan serupa, tahun ini kami menanamnya lebih awal agar panennya juga bisa dilakukan lebih cepat dan terhindar dari resiko hujan,” tukas Hansson.

Byuh. Kok kayaknya ribet ya banget nanem telo di Swedia. Mungkin ada baiknya mereka merekrut beberapa petani Indonesia yang secara tradisional menggantungkan hidupnya dari budidaya tanaman umbi-umbian ini. Dijamin, mereka tak perlu membuang waktu tahunan hanya untuk memanen ubi jalar kualitas super.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan