Tenang, Harga Daging Ayam Bakal Normal Usai Lebaran Ketupat

Lebaran Ketupat membuat harga daging ayam masih tinggi
(Rini, salah satu pedagang yang menjual daging ayam di Pasar Sawojajar, Malang. Momen Lebaran Ketupat membuat harga daging ayam di wilayah Malang Raya masih tinggi. Namun harga akan berangsur normal setelah perayaan hari raya ketupat ala Muslim Jawa itu. Image : pomidor.id)

Pomidor.id – Tingginya harga daging ayam di wilayah Malang dan sekitarnya beberapa hari paska Lebaran, diprediksi masih akan terus berlangsung hingga satu dua minggu ke depan. Selain pasokan belum normal, kebutuhan akan daging ayam juga masih tinggi menjelang Lebaran Ketupat atau rioyo kupat yang berlangsung seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri.

Link Banner

Umumnya masyarakat Muslim Jawa merayakan Lebaran dua kali, yakni tepat saat Idul Fitri dan Lebaran Ketupat yang dirayakan sepekan sesudahnya (8 Syawal). Jika Idul Fitri kental dengan suasana religi dan bermaaf-maafan antar keluarga, kerabat atau kenalan dekat, maka Lebaran Ketupat lebih dominan suasana kultur Jawanya.

Sesuai namanya Lebaran Ketupat atau rioyo kupat, sajian khas yang dihidangkan adalah macam-macam ketupat. Walau pun begitu, makanan pendamping seperti daging-dagingan, khususnya daging ayam, tetap harus ada.

Baca Juga : Stok Bahan Pokok di Malang Aman Hingga 6 Bulan ke Depan

lapak rosidi
(Rosidi, pedagang daging ayam di Pasar Sawojajar, tengah melayani pembeli. Image : pomidor.id)

Maka tak heran dengan momen yang nyaris serentak dirayakan masyarakat ini, harga daging ayam tak kunjung turun beberapa hari paska Idul Fitri.

Menurut Rosidi, pedagang daging ayam di Pasar Sawojajar, Kota Malang, belum turunnya harga daging ayam yang tembus Rp 40 ribu/kg, disebabkan permintaan yang tinggi menjelang Lebaran Ketupat.

“Setiap tahun ya begini. Banyak orang cari daging ayam untuk persiapan kupatan. Setelah itu harganya pasti bakal normal lagi,” ujar Rosidi yang baru kembali berjualan hari ini (Selasa, 19/5). Sebelumnya, ia menutup kiosnya lebih dari seminggu untuk mudik ke mertuanya di Kediri dan orang tuanya sendiri  di Pagak, Kabupaten Malang.

“Masih Rp 40 ribu per kilo. Normalnya sih Rp 28 ribu sampai Rp 30 ribu sekilonya kalau hari-hari biasa,” imbuhnya.

Sedangkan Rini, sesama pedagang daging ayam yang lapak jualannya berada tak jauh dari tempat Rosidi, mengatakan Lebaran Ketupat bukan satu-satunya faktor yang membuat harga daging ayam tinggi. Namun merosotnya pasokan yang membuat harganya tak kunjung turun.

“Bakul-bakul besar masih banyak yang libur. Mungkin kasih kesempatan pekerjanya rioyoan. Jadinya pasokan belum lancar seperti biasanya. Itu pun harga di tingkat bakul juga sudah tinggi. Makanya suami saya tak mau ambil banyak-banyak karena jatuhnya harga di pembeli biasa bisa lebih tinggi lagi” tutur Rini.

Baca Juga : Stabilnya Harga Ayam di Tingkat Peternak Kerja Keras Semua Pihak

Perempuan yang tinggal di Kebalen, Kota Malang, itu menambahkan, meroketnya harga daging ayam adalah hal yang biasa terjadi di waktu-waktu tertentu seperti hari raya. Berdasarkan pengalamannya di tahun-tahun lalu, beberapa hari setelah Lebaran Ketupat harga daging ayam akan berangsur-angsur normal.

“Yang penting barangnya ada. Pembeli juga maklum, kok,” tukasnya.

harga daging ayam ikuti hukum ekonomi
(Pasokan turun + permintaan meningkat = harga tinggi. Itu hukum dasar ekonomi, bos. Termasuk pula yang terjadi pada harga daging ayam saat ini. Jadi tak elok lah dibuat isu yang aneh-aneh. Toh harga akan kembali normal ketika pasokan dan permintaan juga normal. Image : pomidor.id)

Be the first to comment

Leave a Reply